Menjalin pertemanan dekat dengan laki-laki berarti harus menyiapkan ruang kosong untuk menyimpan rapat perasaan. Pertemanan dekat antara perempuan dan laki-laki hampir tidak mungkin jika tidak ada yang pernah menaruh rasa.

Bermula dari sebatas teman, kemudian merasa nyaman. Dari nyaman lama-kelamaan mulai muncul rasa suka, sayang, bahkan cinta. Tidak ada salahnya ketika dalam pertemanan mudah menaruh perasaan.

Namun, menyiapkan diri agar menerima kenyataan jika hubungan tidak mungkin lebih dari teman terkadang dilupakan. Dalam hubungan pertemanan dekat dengan laki-laki, terlalu berekspetasi dan berharap akan menambah luka.

Beberapa hubungan yang awalnya teman kemudian berganti menjadi pacar memang banyak, tapi bagaimana jika sampai bertahu-tahun dan hanya sebatas teman? Kebanyakan orang menyebut situasi ini sebagai friendzone, karena hanya salah satu saja yang menaruh perasaan.

Terjebak dalam friendzone adalah hal yang membingungkan hati, memilih mengungkapkan atau menyimpan rapat perasaan. Makin dekat hubungan pertemanan maka akan makin jauh kesempatan menjadi lebih dari teman.

Pengalaman terjebak friendzone dalam hidup saya mungkin menjadi pengalaman yang ingin saya hapus dan lupakan. Kedekatan yang terjalin selama bertahun-tahun perlahan menjadi asing ketika saya mencoba mengungkapkan perasaan.

Saya pernah menjalin kedekatan dengan seorang laki-laki sejak 2017. Panggil saja dia Fahmi, di mana kedekatan saya dengannya berawal dari Instagram. Awalnya, saya tidak terlalu peduli dengannya, tetapi karena makin intensnya komunikasi, mulai muncul rasa suka kepadanya.

Setiap hari saya dan Fahmi selalu bertukar kabar dan bercerita hal yang menarik sampai larut malam. Bagi saya, Fahmi adalah orang yang selalu ada di dekat saya dan menyemangati saya. Dia adalah laki-laki pertama yang pernah membuka hati saya, tetapi juga mengenalkan saya tentang sakitnya berharap.

Ketika menjadi teman yang sudah dianggap sebagai tempat bercerita tentu membuat diri sendiri terlalu banyak berharap agar hubungan bisa lebih bertambah dekat. Dalam hubungan pertemanan dekat dengan laki-laki, pasti ada perasaan memiliki lebih dari teman. 

Seiring berjalannya waktu, ada perasaan untuk mengungkapkan tapi sadar kalau hubungan ini sudah telanjur dianggap teman. Memilih untuk menjauhi dia beberapa hari ternyata tidak berhasil, dia malah menghubungi dan mencari saya. Kadang berpikir bahwa dia sebenarnya juga suka, tetapi kadang sikapnya seolah tidak suka.

Empat tahun menjalin hubungan, saya pun memutuskan untuk mengungkapkan. Ketakukan saya dalam hubungan friendzone pun terjadi. Hubungan pertemanan dekat yang terjalin menjadi renggang, dan status hubungan yang dia inginkan tetap sama. Ya, hubungan yang hanya sebatas teman tidak mungkin lebih.

Ternyata benar, dalam hubungan pertemanan dekat ketika melibatkan perasaan, maka rasa sakitnya luar biasa. Perasaan nyaman dan perhatian yang dia berikan ternyata sebuah jebakan. Saya mengira dia baik hanya kepada saya, ternyata salah, dia baik juga kepada teman perempuannya yang lain.

Saya hanya salah satu dari hidupnya bukan satu-satunya. Harapan dalam hati saya tidak akan ada tanpa adanya perhatian dan rasa nyaman yang dia berikan. Perasaan nyaman dan sayang dalam friendzone menjadi alasan saya sulit keluar dari zona tersebut.

Pada akhirnya, saya memilih untuk menjaga jarak dengan dia dengan tidak sering berkomunikasi. Saya mengira bahwa dengan hubungan yang renggang bisa lebih cepat menghapus perasaan dalam hati saya, ternyata tidak.

Perasaan yang sudah jatuh terlalu dalam dan sulit membuka hati untuk orang lain menjadikan saya sulit untuk move on. Meskipun sudah lost contact selama dua bulan, tetapi perasaan masih ada bahkan bertambah dengan rasa rindu.

Rasa pahit terjebak dalam friendzone bertambah ketika dia hadir kembali dalam hidup saya. Kehadiran yang semula saya kira dia memiliki rasa, ternyata salah. Dia datang untuk mencari saya, seorang yang dianggap sebagai teman dekatnya.

Saya berusaha memberikan respons tanpa melibatkan perasaan, tetapi sulit. Dia datang hanya sebatas bercerita tentang seorang yang dia cintai. Dia tahu bahwa saya masih mencintainya, tetapi dia malah menjadikan saya sebagai tempat menceritakan perasaannya terhadap perempuan lain.

Dari sini saya mencoba benar-benar keluar dari zona friendzone, karena makin lama berada dalam zona ini, maka hati dan pikiran akan ikut terluka. Sulit keluar dari zona itu, tetapi ketika diri sendiri tegas soal perasaan maka keputusan untuk pergi adalah jalan terbaik.

Pernah dibuat terbang lalu dijatuhkan, dibuat berharap lalu dipatahkan. Mengakhiri suatu hubungan pertemanan dekat dengan seorang yang dicintai bukanlah hal yang mudah. Harus mencoba belajar ikhlas hingga akhirnya terbiasa. Perasaan yang terlanjur sayang harus juga dibuang.

Dari sepenggal cerita ini, saya belajar bahwa seharusnya tidak perlu berharap terlalu banyak dalam suatu hubungan pertemanan. Terlalu berharap pada seseorang adalah sumber sakit hati terbesar. Makin tinggi diterbangkan, maka akan makin ke bawah dijatuhkan.

Perasaan tidak pernah salah, yang salah hanya kepada siapa perasaan tersebut diberikan. Cara keluar dari friendzone dengan berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan. Ketika jawaban tidak sesuai keinginan, maka pilihan ada pada bertahan dengan rasa sakit berharap atau pergi untuk menghilangkan rasa.