Di datar sebuah lembah yang berlatarkan rimbunnya pepohonan khas tanah Borneo serta birunya laut lepas yang sedikit tertutup kabut membawaku untuk turun menuju bawah lembah itu melewati jalan terjal dengan kemiringan cukup tinggi dan diselingi batu cadas. Menuju sebuah titik biru yang menjadi tempat tinggal yang kuketahui digunakan sebagai asrama bagi  anak-anak tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Sabah, negara bagian Malaysia timur.

        Ya, memang terkesan membingungkan. Bagaimana bisa para remaja-remaja tanggung tersebut bisa jauh dari keluarga mereka yang sejatinya sudah menetap secara permanen di Malaysia untuk mencari rezeki yang sudah Tuhan takdirkan untuk mereka. Tak lain dan tak bukan karena mereka masih punya mimpi dan harap untuk meraih masa depan yang lebih baik dan tetap dalam satu kesatuan satu Indonesia.

         Pengalaman hidup yang luar biasa ini kudapatkan dari kunjunganku ke Nunukan, Kalimantan Utara lebih tepatnya di asrama anak TKI di salah satu sekolah menengah kejuruan di Nunukan . Sebuah kesyukuran, lewat program salah satu kementrian di republik ini aku dapat belajar tentang saudara sebangsaku yang hidup di teras terdepan negara ini dengan sekarung cerita yang menyadarkanku bahwa Indonesia bukan hanya mereka yang hidup di Pulau Jawa, Pulau Sumatera maupun daerah lainnya.

         Biar kukisahkan, para siswa-siswi yang tinggal di asrama tersebut ini merupakan siswa sekolah menengah kejuruan yang didatangkan oleh konsulat Indonesia di Malaysia untuk melanjutkan pendidikan mereka. Bukan tanpa alasan, mereka yang sejatinya lahir dan besar di Malaysia ini tak bisa melanjutkan pendidikan setingkat SMA di negara dimana orang tua mereka bekerja dikarenakan status kebangsaan Indonesia yang masih melekat pada identitas mereka.

Ada beberapa opsi yang dapat mereka ambil untuk tetap bersama keluarga mereka. Yang pertama, mereka dapat memasuki sekolah setingkat SMA swasta di Malaysia. Tentunya, opsi pertama ini menjadi opsi mimpi bagi mereka. Sebab, total penghasilan orang tua mereka dari berpeluh di kebun sawit tak akan cukup membiayai biaya sekolah mereka di sekolah swasta. Opsi kedua, berpindah kewarganegaraan.

Opsi yang yang akan banyak menimbulkan sentimen negatif dari orang-orang yang mendengarnya, namun bukan alasan itu yang membuat mereka tidak memilih opsi ini, namun semangat nasionalisme sebagai bagian dari Indonesia lah yang menjadi penyebabnya. Ditambah lagi, prosedur administrasi yang akan sangat berbelit untuk mengubah identitas kewarganegaraan mereka. Alhasil, inilah yang menjadi pilihan mereka. Opsi yang harus menghantarkan mereka menghadapi keras ombak kehidupan, jauh dari keluarga.

         “ Merantau ke negeri sendiri “. Lazim aku dengar ungkapan itu keluar dari mulut mereka. Yang lebih pantas terdengar  sebagai “ Mengungsi di negeri sendiri” jika kulanjutkan kisah  getir pahit kehidupan mereka di tanah air mereka sendiri, meski tak lahir disini dan besar disini. Ya, semasa bersekolah setingkat SD dan SMP para anak-anak TKI ini memang bersekolah di sekolah khusus anak TKI yang disediakan konsulat Indonesia di Malaysia.  

Sekolah seadanya, yang intinya tetap memberi tahu mereka tentang negara mereka yang seharusnya. Berani kukatakan demikian, memang pemahaman mereka tentang negeri tetangga sangat berbanding terbalik dengan pemahaman mereka tentang Indonesia sebagai tanah air mereka. “ Negaraku.. Tanah tumpahnya darahku...Rakyat hidup..Bersatu maju..” begitulah lagu kebangsaan Malaysia yang sangat fasih mereka lantunkan dengan sedikit dialeg melayu.

Memang lebih lancar mereka nyanyikan dibanding lagu kebangsaan negara mereka sendiri. Bahkan, saat aku bercerita tentang daerah asalku, yakni  Riau, pikiran mereka melambung jauh membayangkan tempat yang menjadi surga pantai tropis dan karnaval, Rio ! Rio de Janeiro di Brazil lah yang muncul di otak mereka ketika tadi kusebutkan Riau sebagai daerah asalku.

Entah aku harus tertawa ataupun menangis di dalam hati, melihat sebuah ironi, kisah yang lebih dari sekedar kisah kemanusian, namun lebih dalam lagi, ini tentang negara ini. Bagaimana sentuhan negara ini tidak membelai setiap individu rakyatnya, hanya sebagian saja. Itu pikirku sebagi salah seorang siswa SMA.

         Kisah pilu mereka tak berhenti sampai disitu, menyandang status sebagai anak TKI menjadi sebuah bahan ejekan yang sangat potensial untuk dapat digunakan seisi sekolah untuk mengolok-olok mereka. Dihujat dan dikucilkan sudah menjadi perlakuan yang biasa mereka hadapi. Mereka sudah tau, dan sudah pandai bersikap.

Hanya sabar yang dapat mereka gunakan untuk tetap bertahan menghadapi setiap cobaan dan tentunya sekali lagi kukatakan rindu terhadap keluarga. Bukannya melebih-lebihkan, aku menanggapi cerita mereka mengenai keluarga sangat serius. Kugali dalam-dalam informasi dari mereka. Keluarga yang kini hanya dapat mereka temui sekali dalam setiap 6 bulannya, ternyata juga harus menghadapi berbagai getir hidup bekerja di negeri orang.

Mereka tak segan mengisahkan, bagaimana disana keluarga mereka mendapat perlakuan diskriminatif dari penduduk asli setempat. Bahkan tak jarang , perlakuan kasar juga mereka rasakan.” Tak akan pernah terbersit untuk membalas “ ujar mereka.  Keluarga para TKI disana sadar betul, dimana mereka mengais rezeki dan hukum yang berlaku di negara tersebut. Salah langkah, nyawa menjadi taruhannya.

           Akhir kisah ini menghantarkanku pada setiap kata di tulisan ini, yang menggerakkanku untuk menyampaikan salam mereka pada seluruh rakyat di republik ini. Mengabarkan kondisi mereka, para anak TKI di wilayah terdepan NKRI. Sebuah pelajaran berharga sekaligus memilukan, untuk disadari dan dijadikan refleksi. Bagaimana bangsa ini bersikap kepada anak negeri.

#LombaEsaiKemanusian