Sambil menunggu masakan ayam matang, saya mau berbagi tips kepada Anda dalam soal tulis-menulis yang oleh sebagian orang kadang dianggap sebagai sebuah kesulitan. Bagi Anda yang belum terbiasa menulis, pertanyaan yang selalu membingungkan itu selalu: “Ide apa yang harus saya tuliskan?”. Iya, kan?  

Tapi, percayalah, kalau Anda sudah terbiasa menulis, pertanyaan di kepala Anda itu tiba-tiba akan berubah menjadi: “Ide yang mana dulu ya yang harus saya tuangkan?

Ya, betul, problem utama para penulis pemula selalu kebingungan dalam mendapatkan ide. Kalaupun ide sudah ditemukan, terkadang mereka bingung bagaimana caranya agar ide tersebut bisa terangkai menjadi sebuah tulisan.

Dulu ini sering saya alami. Di awal-awal belajar, saya pernah duduk sampai berjam-jam jam tapi yang berhasil saya tulis hanya tiga-empat baris dan itupun sambil marah-marah sendiri karena merasa kesal.

Namun, seiring dengan banyaknya latihan, justru yang saya alami sekarang adalah sebaliknya. Terkadang saya tidak bisa nyenyak tidur ketika kumpulan ide di kepala saya saling berbenturan. Setiap kali ada ide, saya merasa sayang kalau ide itu disia-siakan.

Apa yang saya alami dulu sangat berbeda dengan apa yang saya alami sekarang. Dulu bingung mencari ide, sekarang justru kebanyakan ide. Dan ini sebetulnya akan Anda rasakan ketika Anda rajin merenung dan selalu berusaha untuk menuliskan renungan Anda kedalam sebuah catatan.

Jadi, soal ide Anda tidak perlu bingung. Tulis saja apa yang ada di kepala Anda. Semakin sering Anda menulis, lama kelamaan ide-ide itu akan semakin bergentayangan. 

Layaknya Meracik Masakan.     

Dulu, ketika masih aktif di Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) PCINU Mesir, ada salah seorang senior yang bilang begini: “Menulis itu Seperti Memasak.”

Ya, kata-katanya ini cukup singkat. Tapi, menurut saya, ini adalah perumpamaan yang sangat masuk akal.

Menuangkan pikiran dalam tulisan itu hampir sama dengan meracik ayam untuk disajikan dalam sebuah hidangan.

Sekarang saya ingin bertanya: Ketika Anda ingin memasak ayam, apa barang yang pertama kali Anda butuhkan? Tentu jawabannya Ayam.

Tapi ingat, ayam saja tidak cukup. Anda masih membutuhkan bumbu masakan. Bumbu masakan ini dibutuhkan agar ayam mentah yang sudah tersaji itu bisa disantap dan disajikan dalam sebuah hidangan makanan. Tanpa adanya bumbu, daging ayam mentah itu tentu tidak akan berarti apa-apa.   

Nah, kemudian, kalau Anda ingin masakan Anda terasa lebih enak, hal paling penting lagi yang Anda butuhkan ialah keahlian. Ya, keahlian. Percuma saja Anda membeli ayam mahal dan bumbu yang mahal tapi Anda sendiri tidak tahu bagaimana caranya meracik masakan.

Jadi, kesimpulannya, dalam memasak itu yang dibutuhkan ada tiga hal: Pertama, bahan masakan. Kedua, bumbu masakan. Ketiga, keahlian.

Menulis juga seperti itu. Anda membutuhkan tiga hal: Pertama, ide dasar yang dijadikan bahan. Kedua, gaya dan pilihan kata yang menjadi bumbu sebuah tulisan. Ketiga, keahlian.

Anda bisa meracik masakan yang lezat dengan bahan yang pas-pasan selama Anda punya keahlian. Tapi, Anda tidak mungkin mampu meracik masakan yang enak dari bahan-bahan yang mahal kalau Anda tidak punya keahilan.

Menulis juga sepeti itu. Anda bisa merangkai sebuah tulisan indah dari ide sederhana asalkan Anda punya keahlian. Tapi, Anda tidak mungkin mampu membuat sebuah tulisan yang layak dibaca sekalipun Anda berawasan luas selama Anda tidak tahu bagaimana caranya menuangkan pikiran.

Saya pernah membuat tulisan hanya dengan ide celana dalam. Ya, celana dalam. Sehelai kain siluman yang kalau dipakai seminggu bolak-balik itu baunya udah kaya bangkai ayam. Tulisannya bisa Anda lihat di sini.

Jadi, dalam menulis itu sebenarnya tidak harus muluk-muluk, sebagaimana dalam memasak juga Anda tidak perlu memaksakan diri untuk membeli barang-barang mahal. Karena yang penting itu ialah keahlian, meskipun bahan dan bumbu juga tetap diperlukan.

Memupuk Keahlian

Yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya ialah: Bagaimana caranya memupuk keahlian dalam menulis? Jawabannya tentu hampir sama dengan pertanyaan: bagaimana caranya agar bisa ahli dalam memasak?

Kalau Anda ingin bisa memasak, Anda harus sering latihan masak, melihat orang masak (agar terdorong untuk memasak), dan yang tak kalah penting ialah belajar dengan orang yang punya keahlian dalam memasak.

Menulis juga seperti itu. Kalau Anda ingin bisa menulis, maka Anda harus sering latihan menulis. Rajin melihat tulisan para penulis agar terdorong untuk menulis. Dan yang tak kalah penting tentunya belajar dari orang-orang yang punya keahlian dalam menulis.

Ketika kita sudah selesai masak, biasanya kita meminta orang lain untuk mencicipi apa yang sudah kita masak. Nah, menulis juga seperti itu. Kalau Anda sudah mampu membuat sebuah tulisan, jangan lupa untuk membagi tulisan itu dan kemudian meminta penilaian orang.

Setiap ada kekurangan, langsung Anda koreksi. Seperti halnya kalau masakan Anda kurang garam, pasti Anda akan segera pergi ke dapur untuk mengambil garam. Lakukanlah hal itu sesering mungkin. Perlahan tapi pasti, Anda akan mampu menulis dengan baik.

Kata seorang teman, ayam yang saya masak hari ini ternyata kelebihan garam. Gara-gara saya masak sambil menulis. Sebagai orang yang tidak ahli dalam memasak, akhirnya saya sadar bahwa memasak itu juga ternyata membutuhkan konsentrasi. Dan menulispun, saya kira demikian.


Kairo, Saqar Quraish, 9 Juli 2017