Isi berita prank tersebut adalah perubahan perintah dari 'mengundang baik-baik dalam keadaan hidup-hidup', menjadi 'menangkap hidup atau mati'. 

Buku berjudul G 30 S Fakta Atau Rekayasa buah karya Julius Pour ini bagus untuk menambah wawasan guna menelaah kasus dini hari 1 Oktober 1965. Cara bertuturnya tak gegabah menyimpulkan, namun menyajikan kumpulan banyak fakta yang menjadi lembar-lembar puzzle.

Lalu, oleh pembaca puzzle-puzzle itu dirangkai menjadi suatu tatanan gambar utuh, sesuai cara berpikir maupun kapasitas berpengetahuan dari setiap pembaca buku tersebut.

Dari kumpulan uraian fakta-fakta dalam bentuk puzzle dalam buku ini, maka rangkaian gambar puzzle yang terjalin dalam sudut pandang penulis adalah sebagai berikut;


Undangan Kejutan.

Kejadian dini hari 1 Oktober 1965 diawali oleh prakarsa Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia, untuk mengumpulkan dua kubu petinggi militer Angkatan Darat yang berseberangan dalam menyikapi Dwikora, sebuah gagasan Bung Karno yang berujung pada konfrontasi dengan negara Malaysia pada tahun 1964.

Sedianya, pertemuan tersebut dilaksanakan di istana Bogor pagi hari, tanggal 1 Oktober 1965.

Naas, perintah mengundang para petinggi militer tersebut ditelikung oleh petinggi PKI yang tak sabar untuk segera menghadirkan mereka pada waktu subuh di lapangan udara  Halim Perdana Kusuma, karena perjalanan ke istana Bogor bakal ditempuh melalui jalan udara.

Momen undangan Bung Karno kepada para petinggi militer tersebut digunakan oleh petinggi PKI di Jakarta, sebagai momen krusial untuk membuktikan ke Bung Karno bahwa para petinggi militer tersebut tak kompak dalam menghadapi kekuatan Nekolim yang berkedok sebagai negara boneka, Malaysia.

Termasuk, petinggi PKI Jakarta hendak mengadu ke Bung Karno, mengungkap kehidupan mewah para petinggi militer tersebut. 

Waktu itu, ada petinggi negara hendak bermain golf lalu diantar kendaraan dinas menuju lapangan golf, maka oleh orang-orang berpaham kiri sudah dianggap bagian dari penyalahgunaan fasilitas rakyat.


Isi Undangan Dirubah.

Naasnya lagi, ada kekuatan pihak ketiga yang berbuat jahil, melakukan prank yang mengeluarkan perintah kepada para pelaksana pengirim undangan, tanpa diketahui oleh Letkol Untung si komandan lapangan tim pengundang para Jenderal.

Apalagi, Brigjen Supardjo satu-satunya perwira tinggi yang memimpin gerakan tersebut, sama sekali tak paham pola operasional dan teknis pelaksanaan mengundang para jenderal tersebut. Dia saat itu masih sibuk di Kalimantan Barat mengkoordinasi operasi Dwikora.

Isi berita prank tersebut adalah perubahan perintah dari 'mengundang baik-baik dalam keadaan hidup-hidup', menjadi 'menangkap hidup atau mati'. 

Perubahan perintah itu langsung diterima oleh Lettu Doel Arief komandan pasukan Pasopati, sebagai tim pelaksana mengundang para jenderal.


Mengundang Trauma.

Sebagai perwira pasukan yang bertugas mengawal keselamatan presiden beserta keluarga dan jaman itu sistem komunikasi tak semudah sekarang, maka sepucuk surat perintah yang diterima mendadak oleh Lettu Doel Arief beberapa saat sebelum operasi dilaksanakan tanpa pernah jelas dibuat oleh siapa, pun langsung dijadikan sebagai dasar pelaksanaan operasi tersebut.

Hari Jum'at 1 Oktober 1965, pukul 2 dini hari, operasi mengundang para Jenderal dilaksanakan. 

Kurang lebih sebanyak tiga kompi pasukan Cakrabirawa yang dipimpin oleh Lettu Doel Arief berangkat menuju sasaran, yaitu para Jenderal pada kedua kubu yang bersaing dalam hal menyikapi Dwikora, dengan perintah 'tangkap hidup atau mati'.

Bencana pun tak terhindarkan. Trauma atas kejadian itu pun bahkan berkepanjangan hingga 56 tahun mendatang, hanya karena perbuatan jahil, prank oleh pihak ketiga.


Ada Agen Ganda.

Terungkap ada sosok misterius yang nasibnya tak jelas saat Orde Baru berkuasa. Nama sosok tersebut adalah Sjam Kamaruzaman. Sebagian peneliti kasus dini hari 1 Oktober 1965 menilai Sjam Kamaruzaman yang termasuk jajaran elit organisasi PKI Jakarta, adalah sosok agen ganda.

Sjam Kamaruzaman mengikuti detail setiap langkah persiapan operasi 'mengundang para jenderal dari dua kubu yang berseberangan', sekaligus menjadi agen pihak lain yang sampai saat ini masih misteri. 

Surat perubahan perintah dari 'mengundang baik-baik dalam keadaan hidup' menjadi 'tangkap hidup atau mati', diyakini diterima oleh Lettu Doel Arief melalui Sjam Kamaruzaman. 


Menunggu Di Halim.

Sementara itu, Bung Karno pada Kamis malam, 30 September 1965 tak langsung ke istana Bogor. Malam tersebut, Bung Karno harus menghadiri undangan seminar nasional insinyur se Indonesia bersama sang istri, Ratna Sari Dewi, lalu menghabiskan malam Jum'at di wisma Yaso.

Keesokan hari, Bung Karno berangkat ke lapangan udara Halim Perdana Kusuma diantar pengawal dan sopir pribadi, bersiap menuju istana Bogor untuk bertemu dengan para wakil petinggi militer Angkatan Darat yang berseberangan tentang menyikapi Dwikora.

Setiba di Halim Perdana Kusuma, DN Aidit sudah menunggu, meski tak diundang. Bisa jadi tekad petinggi PKI tersebut adalah untuk mencurahkan aspirasi politis. 

Sekaligus memberikan argumen mengapa pelaksanaan Dwikora menjadi setengah hati, sementara pemuda dan pemudi didikan PKI telah siap sepenuhnya dilibatkan dalam operasi berjuluk Ganyang Malaysia tersebut.


Porak Poranda.

Namun para Jenderal yang diundang tak kunjung tiba, hingga Brigjen Sabur pimpinan tertinggi Resimen Cakrabirawa menemui Bung Karno, mengabarkan bahwa para Jenderal yang diundang telah menghilang. 

Sebagian telah dibunuh di tempat oleh sebagian anggota Cakrabirawa atas perintah 'mengundang para Jenderal'.

Bung Karno naik pitam, marah besar. Ditamparnya Brigjen Sabur seraya memaki; "Kok dipateni?!"

Dari sini, operasi untuk mengundang baik-baik untuk mendamaikan dua kubu petinggi militer Angkatan Darat dalam menyikapi Dwikora, mendadak porak poranda. Bung Karno panik, DN Aidit belingsatan. 

Adapun Letkol Untung pasang badan, nekat mengumumkan berita di RRI tentang aksi petualangan bersama anak buah, anggota sebagian Resimen Cakrabirawa. 

Ketiganya tak pernah menyangka para Jenderal bakal dibunuh, gara-gara perubahan perintah yang begitu mendadak, beberapa menit sebelum operasi dijalankan pukul 2 dini hari.

Tak diceritakan bagaimana Letkol Untung menghadapi Lettu Doel Arief dan kawan-kawannya pasca petualangan mereka yang berantakan. 

Namun faktanya, ketiga kompi pasukan Resimen Cakrabirawa itu sontak menjadi gerombolan liar, melarikan diri dari daerah Lubang Buaya setelah menguburkan korban-korbannya di sebuah sumur tua. 


Aksi Jahat Selalu Sisakan Jejak.

Adalah seorang Agen Polisi yang tertangkap oleh gerombolan penculik Jenderal dan bersembunyi di kolong truk selama di Lubang Buaya, yang akhirnya selamat. 

Dia adalah saksi sebenarnya akan apa-apa yang terjadi di Lubang Buaya saat peristiwa terjadi sepanjang subuh hingga pagi hari Jum'at tanggal 1 Oktober 1965. Agen polisi ini bernama Sukitman.

Sejarah mencatat bahwa Agen Polisi Sukitman yang membantu aparat menyisir dan menemukan lubang kuburan massal korban aksi petualangan jahat. 

Sementara itu, gerombolan oknum Resimen Cakrabirawa telah lari tak tentu arah. Mereka bingung. Karena kelaparan, akhirnya mereka menyerahkan di di daerah Cirebon.

Letkol Untung juga demikian, dia melarikan diri ke Jawa Tengah, lalu ditangkap gara-gara dikira copet, lalu diadili dan dihukum mati. DN Aidit juga melarikan diri ke Jawa Tengah, sempat sebulan lebih menghilang kemudian ditemukan di Solo, lalu dieksekusi di daerah Boyolali.


Berganti Presiden.

Bung Karno sejak mengetahui ada hal yang tak beres tentang hilangnya para jenderal, menjadi sangat panik. Sempat hendak ke Istana Negara untuk menemui keluarga, namun pengawal melihat ada pasukan liar di sekeliling Istana Negara. 

Urung, lalu berubah arah berkunjung ke rumah Ibu Hartini, di kawasan Grogol, yang menjadi tempat sementara mengkoordinasi upaya pemulihan keamanan dan mengamati perkembangan keadaan. 

Padahal, pasukan liar yang dilihat pengawal adalah sebagian pasukan dari batalion Jawa Tengah yang disiapkan untuk memperingati hari ABRI 5 Oktober 1965.

Dalam perjalanan sejarahnya, Bung Karno tak kuasa untuk mengembalikan keadaan, hingga turun jabatan sebagai presiden Republik Indonesia, pada tahun 1967.


Dalam pandangan penulis, maka lembar-lembar Puzzle yang terangkai membentuk sebuah gambar tentang peristiwa dini hari 1 Oktober 1965 di Jakarta yang berdampak pada perubahan sendi-sendi bernegara, berpolitik dan berbangsa itu, diawali oleh sebuah sikap keblinger pimpinan PKI dan kejahilan mengabarkan perintah palsu oleh kekuatan ketiga, kepada sebagian anggota Resimen Cakrabirawa yang terlibat.

Niatan tulus Bung Karno untuk menengahi dua kubu petinggi militer pun tak pernah terwujud. Justru menjadi titik awal lembaran paling kelam dalam sejarah Indonesia sejauh ini.

Semoga lembaran kelam sejarah Indonesia seperti itu tak pernah terulang, berganti menjadi lembaran-lembaran yang lebih cerah, demi masa depan generasi mendatang.  Semua berhikmah, mari berbaik sangka dengan sejarah.

Sekarang, penulis masih mengantuk. Habis begadang menonton film panjang, tadi malam.