Ada dua hal penting yang harus menubuh di setiap tulisan, dalam bentuk apa pun, fiksi maupun nonfiksi. Kedua hal itu adalah gagasan dan imajinasi.

Dengan gagasan, seorang penulis memungkinkan dirinya untuk bisa menegaskan stand point dari apa yang ingin ia sampaikan. Dan dengan imajinasi, ia memampukan dirinya untuk bisa membangun sebuah dunia atau semesta tulisan yang bisa merangkum gagasan-gagasannya.

Demikianlah Okky Madasari menyampaikan itu dalam sesi Pelatihan Menulis Qureta di Surabaya, 14 Desember 2017. Melalui materi Imajinasi dan Gagasan dalam Secarik Kertas, novelis ini menguraikan secara detail bagaimana seorang penulis, terutama bagi pemula, mesti meramu gagasan dan imajinasi. Ini guna menghadirkan tulisan yang tidak sekadar berbentuk, tapi juga apik dan bermakna.

“Dalam tema tulisan apa pun, permainan gagasan itu sangat penting. Pun imajinasi dibutuhkan agar gagasan bisa hidup. Keduanya menjadikan tulisan bisa dinikmati, dan orang yang membacanya bisa terpengaruh.”

Jikapun ada yang akan tidak setuju begitu saja dengan gagasan yang disampaikan penulis, tapi hal itu pun sebenarnya tak mesti jadi aral perintang. Terlebih harus menghentikan daya kreativitas hanya karena menerima bentuk penolakan dari kalangan pembaca.

Justru, menurut Okky, sikap ketidaksetujuan orang atas gagasan penulis adalah tanda bahwa gagasan itu benar-benar penting, sehingga perlu dibantah. Dari bantahan lahir perdebatan. Adanya perdebatan inilah yang memicu terbangunnya peradaban.

“Peradaban hanya bisa dibangun kalau ada tulisan. Kalau tidak, ya tidak akan ada peradaban.” Sederhananya begitu.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara meramu gagasan dan imajinasi dalam tulisan? Elemen-elemen apa saja yang wajib ada di struktur narasi yang Okky sebut sebagai semesta tulisan itu?

“Sebuah ide, gagasan, inspirasi, itu maha luas. Imajinasi tak terbatas. Ketika kita diberi tema atau instruksi bikin tulisan tentang kertas, misalnya, cobalah untuk membebaskan pikiran. Buka semua pintu-pintu dalam ruang imajinasi. Jadilah lebih liar. Lihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.”

Ya, dalam tema penulisan apa pun, seorang penulis memang harus bisa melihat itu lebih dalam. Tak melulu harus mengulitinya dari luar permukaannya saja.

Sebagaimana diterangkan Okky, seorang penulis harus punya gagasan solid sebagai bahan tulisan. Ia harus bisa mencari-cari atau berjalan-jalan dalam ruang imajinasinya. Ini dibutuhkan guna menghidupkan tema yang akan ditulis, sehingga bisa menjadi sebuah karya sastra, tulisan berbobot.

Hal utama lainnya yang juga patut dicatat dari sesi Pelatihan Menulis Okky ini adalah penegasannya tentang keharusan menunjukkan, bukan menjelaskan. Artinya, dalam tulisan bertemakan kertas, misalnya, orang tak perlu menjelaskan bahwa tema ini penting.

“Tak perlu menegaskan bahwa hidup manusia tidak bisa lepas dari kertas. Cukup hanya dengan menunjukkan saja bagaimana kertas itu memang memiliki peran besar dalam kehidupan manusia."

Tentang ini, Okky mencontohkannya melalui puisi Kita dalam Secarik Kertas:

Pada hari ketika aku lahir ke dunia,
bapak menggali tanah di halaman belakang rumah
ibu memasukkan ari-ari yang baru dipotong dari pusarku
bapak menyusulkan pensil dan dua buku tulis baru
sebagai setangkup doa untuk masa depanku

Belum genap seminggu umurku,
petugas akta bertanya pada bapakku
“Mau diberi nama siapa? Mau diberi agama apa?”
Selembar kertas pun menjadi penanda hidupku

Menjelang ulang tahun keempatku,
ibu membawaku ke tukang foto
yang memotretku di depan kain berwarna biru.
Tukang foto memintaku tersenyum dan mengangkat dagu
lalu mencetak wajahku dalam sepotong kertas kecil bernuansa abu-abu
yang akan ditempelkan ibu di kertas pendaftaran sekolah pertamaku.

Hari-hari di masa sekolahku,
aku adalah sebaris huruf yang kutulis dengan benar
Aku adalah pulasan warna yang kububuhkan dengan rapi
Aku adalah sebongkah mimpi yang kugambar dengan hati-hati
di atas lembar-lembar kosong yang disodorkan padaku setiap hari.

Di usiaku hari ini,
aku adalah selarik takdir dari rangkaian cerita
yang aku tulis dalam kertas-kertas kehidupan
pada lembar-lembar mimpi dan harapan

5 Elemen Kunci Membangun Semesta Tulisan

Adapun elemen-elemen yang dimaksud Okky wajib ada dalam semesta tulisan adalah apa yang juga dibutuhkan dalam membangun rumah. Ibarat membangun rumah, dalam tulisan, diperlukan juga yang namanya fondasi, tembok, tiang, atap, juga pintu dan jendela.

“Sebagaimana membangun rumah, fondasi sebuah tulisan itu juga bagian paling fundamental untuk mengawalinya. Fondasi di sini adalah gagasan awal, ide dasar, atau tujuan mengapa harus menulis.”

Elemen kedua adalah tembok, yakni narasi dan argumentasi. Narasi adalah bagaimana penulis harus menceritakan atau menyampaikan gagasan-gagasannya. Inilah yang akan membatasi sekaligus membentuk bangunan rumah atau semesta tulisan itu hingga tampak kokoh.

“Setelah mendapatkan ide awal, hal kedua yang harus dilakukan adalah mencoba menggali ke diri sendiri: posisi kita ada di mana, pendapat kita apa, yang mau kita sampaikan itu apa.”

Hanya dengan begitu, lanjut Okky, sebuah tulisan bisa benar-benar terbangun. Tembok-tembok yang dibangun dalam tulisan itulah yang akhirnya membentuk sebuah rumah. Dan itu hanya bisa terjadi jika penulis memang punya amunisi, argumentasi yang cukup untuk menuangkan gagasan-gagasannya.

Selanjutnya, elemen ketiga adalah tiang, yakni karakter-karakter, manusia, atau tokoh cerita. Karakter atau tokoh di sini pun sangat penting untuk memuat alur cerita jadi istimewa. Bisa juga berupa fakta-fakta empiris, bukti-bukti lapangan, yang bisa dihadirkan demi memperkokoh dan memantik argumen selanjutnya.

Elemen kunci keempat adalah atap. Menurut Okky, ini cara penulis untuk bertutur atau berkisah, cara menuliskan seluruh ide cerita dalam tulisannya. Hematnya, atap berfungsi untuk menjahit setiap elemen yang sudah dibangun sebelumnya, seperti fondasi, tembok, dan tiang.

“Ketika kita sudah punya ide, maka cara selanjutnya adalah bagaimana kita menjahitnya, merangkainya jadi utuh. Itu sesuatu yang butuh latihan, butuh proses belajar langsung bertahun-tahun, sepanjang hidup.”

Dan yang terakhir adalah pintu dan jendela. Bagian ini adalah diksi yang penulis pilih atau bahasa yang digunakan untuk menyampaikan ide/gagasannya ke khalayak pembaca.

“Ini senjata kita dalam menulis. Kita sudah punya argumentasi yang kokoh, kita sudah baca puluhan buku teks, sudah tahu teorinya, tapi kalau kemampuan bahasa kita jelek sekali, kita tidak bisa menuliskannya dengan bahasa yang baik, ya sudah, tidak ada gunanya tulisan itu, tidak akan bisa dibaca. Sia-sia. Tulisan tidak akan laku.”