Tumbuhnya gairah menulis karya sastra di lingkungan pesantren sangat layak untuk diapresiasi dan dibicarakan. Muncul begitu banyak sastrawan yang lahir dari lingkungan pesantren yang cukup mewarnai peta sastra Indonesia. 

Pesantren menjadi salah satu kondisi yang positif yang bisa mendorong lahirnya sastrawan dari kalangan santri dengan kualitas yang layak. Seperti Habiburrahman El Shirazy yang mengguncangkan dunia sastra dengan karya Ayat-Ayat Cinta. 

Habiburrahman El Shirazy pernah belajar di pesantren tradisional Al Anwar Mranggen Demak, Jawa Tengah.  Ayat-Ayat Cinta berhasil menembus angka yang fantastis dari segi buku maupun film yang ditayangkan. Prestasi yang sangat luar biasa sebagai novel sukses yang ditulis oleh alumni pondok pesantren. 

Begitu pula dengan Ahmad Fuadi, jebolan Pesantren Modern Gontor yang melahirkan novel Negeri 5 Menara di mana di dalamnya menghidupkan kondisi santri dengan segala peluh menempuh pendidikannya di Pesantren Modern Gontor.

Dengan apa yang telah terjadi, alumni pesantren seperti Habiburrahman El Shirazy dan Ahmad Fuadi sudah memilih dunia sastra sebagai dunia tempat mereka mengabdi kepada masyarakat. Dilihat dari dua jenis model pondok pesantren itu tidak ada bedanya. Sama-sama bisa melahirkan sastrawan.

Gejala mudahnya pesantren melahirkan sastrawan dari berbagai indikator melahirkan banyak pertanyaan. Tentunya sebuah pondok pesantren tidak sekadar sebuah pendidikan berasrama belaka. Namun banyak faktor-faktor yang mendukung sehingga lahirnya sastrawan dari kalangan santri.

Pondok pesantren yang melengkapi diri dengan sekolah maka dalam kurikulum mereka ada kurikulum tentang pengajaran sastra dan bahasa. Bagi pesantren murni menerapkan kurikulum bebas mandiri berbasis kitab-kitab itu, memang tidak ada pelajaran sastra secara khusus. 

Namun di pondok pesantren ada pelajaran bahasa Arab. Cabang ilmu dari bahasa Arab yang dipelajari adalah nahwu, ilmu shorof, ilmu balaghoh dan ilmu mantiq. 

Lalu ada pelajaran yang menjadi pelengkap bahasa Arab. Di pondok pesantren diajarkan mahfudlot yaitu kata-kata mutiara yang indah yang harus dihafalkan agar dapat menjadi rujukan dan perilaku sehari-hari.

Dalam pelajaran ini kiai atau ustadz mendiktekan dengan cepat kalimat-kalimat dalam bahasa Arab untuk melatih penguasaan bahasa lewat telinga atau lewat keterampilan mendengarkan. 

Yang didiktekan ini sering berupa syair-syair dalam bahasa Arab karya dari para penyair Islam kelas dunia. Dan untuk memberi keterampilan dalam menulis huruf Arab yang indah, di pondok pesantren diajarkan khat dan kaligrafi. 

Khat adalah keterampilan menulis huruf Arab sesuai dengan kaidah-kaidahnya yang rapi dan cepat, sedang kaligrafi adalah seni menulis huruf indah yang dalam dunia Islam banyak sekali aliran-alirannya, termasuk kaligrafi temuan terbaru dari pada seniman Muslim terkini.

Di pondok pesantren juga diajarkan ilmu mantiq, keterampilan berpikir diajarkan. Misalnya bagaimana membedakan berbagai keadaan, kenyataan bagaimana melihat hubungan (relasi) antar keadaan atau antar kenyataan.

Setelah ilmu dasar dalam bahasa, juga diajarkan ilmu dasar dalam hukum Islam dan fiqh. Dilihat dari segi pembelajaran yang disediakan oleh pondok pesantren, banyak hal yang melimpah untuk dimanfaatkan dan diaplikasikan dalam diri santri untuk membentuk karakter dan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.

Selain dari kegiatan pembelajaran, suasana pondok pesantren yang kaya keindahan menjadi salah satu bahan untuk bersastra. Menjadi keunikan tersendiri karena asal santri yang berasal dari berbagai daerah dan membawa budaya serta kulturnya masing-masing.

Sehingga suasana hangat melingkupi pondok pesantren. Dari sikap yang tentunya berbeda setiap individu, bisa menjadi penciri dan bahan belajar untuk mendalami karya sastra.

Kebiasaan dan hal-hal positif menjadi suatu penunjang bagi santri. Santri tidak pernah lepas dari kebiasaan membaca dan menghafal. Tradisi membaca dan menghafal adalah pundi-pundi santri. Karenanya, kebiasaan membaca terbentuk sebelum santri diberi pelajaran.

Begitu pula dengan kebiasaan menghafal. Dari segi bahan bacaan sastra, santri tidak mungkin kehabisan bahan bacaan. Karena setiap buku yang berjajar di perpustakaan atau koperasi selalu menyangkut hal tentang sastra.

Dengan hal ini, santri yang mempunyai kebiasaan membaca jauh lebih mudah menerima pengajaran sastra. Potensi menulis santri menjadi mudah dikarenakan santri telah dirajut sastra di setiap detak jantungnya. 

Kemampuan santri menulis dipermudah lagi dengan banyaknya kitab-kitab klasik yang disusun dengan bahasa yang puitis. Ilmu-ilmu keagamaan yang berbagai macamnya juga selalu berkaitan dengan sastra, khususnya bahasa-bahasa yang indah. 

Belum lagi jika pesantren mengadakan training motivasi dengan menghadirkan pemantik yang handal dalam bidangnya. Bisa menginspirasi sekaligus hal yang menyenangkan di tengah kesibukan santri.

Kegiatan-kegiatan pelengkap seperti lomba kegiatan sastra di pesantren juga perlu dilakukan, karena untuk menjaga agar atmosfir sastra dapat terjaga.

Perlunya evaluasi dari setiap pengajaran sastra yang telah dilakukan, untuk mengetahui sejauh mana santri dapat berkarya melalui karya sastra dan capaian santri dalam memanfaatkan karya sastra.

Referensi:

Jabrohim, Beberapa Kemudahan dalam Melaksanakan Pengajaran Sastra Di Pesantren, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.