Aquaculturist
1 year ago · 201 view · 5 menit baca · Lingkungan 74750.jpg
https://www.shutterstock.com

Merajut Hijau Mangrove, Menjalani Kehidupan Bersama Alam

Kurang apalagi baiknya Tuhan meng-anugrahkan kekayaan yang berlimpah kepada bangsa Indonesia. Tujuannya satu, agar kekayaan itu dapat mensejahterakan umat manusia. Dan sudah hukum alam, jika berbicara eksploitasi juga tentu akan berbicara degradasi. Nah nampaknya pekerjaan rumah itu pula yang ingin Tuhan titipkan kepada manusia untuk dikerjakan dalam mengelola keduanya secara adil dan bermanfaat.

Hutan Mangrove adalah kekayaan yang terkandung dalam bumi Indonesia dan itu baru satu dari banyak barang titipan-Nya. Disinilah mata rantai utama yang berperan sebagai produsen dalam jaring makanan bagi ekosistem pantai. Sekitar 3 juta hektar hutan mangrove tumbuh di sepanjang 95 ribu kilometer pesisir Indonesia. Jumlah ini mewakili 23% dari ekosistem mangrove dunia (Giri et al., 2011).

Namun sampai hari ini, meski dilindungi lintas sektoral, dimanja banyak payung hukum yang ditelurkan kementrian lingkungan hidup/kehutanan maupun kementrian perikanan dan kelautan. Eksistensi ekosistem hutan Mangrove masih juga terancam. Hamparan tanaman di tepian pantai dengan fungsi ekologis, ekonomi, dan sosial, bahkan kedaulatan negara ini masih rentan menjadi tambak dan kebun.

Data pada tahun 2013, Direktorat Reboisasi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat jika hutan Mangrove Indonesia yang tersisa sekitar 3.7 juta hektare. Terbanyak berada di Jawa, Papua dan Kalimantan. Sekitar 2.5 juta  hectare dalam kondisi baik. Selebihnya rusak.

Menyadari Hutan Mangrove merupakan sumber daya penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir yang berfungsi sebagai ruang berkembangbiaknya sumber daya ikan, “Sabuk hijau” ketika bencana, pencegah laju abrasi pantai hingga bahan bakar kayu. Namun urgensi perlindungan kawasan mangrove tidak optimal. Ada apa?

Target pemerintah dalam upaya menggenjot ketahanan pangan dalam negeri, terutama sektor kelautan menjadi alasan kuat dalam pengeksplotasian hutan Mangrove yang banyak disulap menjadi tambak udang dan bandeng. Karena secara teknis budidaya, ekspansi usaha pertambakan sangat cocok dikembangkan di daerah kawasan Mangrove.

Itu terjadi saat Revolusi Biru dicanangkan, yang telah mengkonversi wilayah Mangrove manjadi area budidaya perikanan, pemukiman, dan pariwisata, dimana telah memulai masalah degradasi ekosistem Mangrove di indonesia (FA0 2007). Sudahkah kita mencoba mendamaikan keduanya, mengajak alam dan manusia untuk berkompromi bagi kelanjutan kehidupan keduanya bersama-sama dimulai hari ini?

Pekerjaan rumah yang diberikan Tuhan tersebut masih terasa sulit sepertinya untuk dikerjakan. Karena manusia tidak mencoba memperlakukan hutan Mangrove sebagai kesatuan ekologis yang dapat memberikan fungsi dalam hal mitigasi bencana dan bahkan dukungan terhadap upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Hidup berdampingan dengan alam seakan menjadi kontradiktive di masa lalu. Ketika mindset untuk menjauhkan Mangrove, dipercaya mampu mengentaskan kebutuhan manusia terutama usaha penggarapan tambak dan kebun masyarakat sekitar kawasan itu.

Tengoklah kawasan pesisir kelurahan Gersik dan Kariangau di Balikpapan kini. Kita akan belajar dan menyadari hijaunya Mangrove malah telah mendukung usaha pertambakan yang masyarakat pesisir disana. Tidak ada lagi pembabatan hutan mangrove dalam mengeksploitasi kawasan mangrove secara massif. Dan realita  itu akan mulai memaksa kita sadar bahwa kita bisa melakukan pemenuhan kebutuhan hidup bersama alam kok.

Penanaman Mangrove Di Areal Tambak I farming.id

Metode budidaya Silvofishery yang ramah lingkungan itu merupakan satu dari banyak upaya yang bisa menjadi edukasi baru yang dapat ditularkan kepada petani tambak kita. Dimana metode tersebut bisa mempersatukan pengelolaan terpadu Mangrove dan tambak yang diwujudkan dalam system budidaya perikanan kedepannya.

Dengan kata lain, metode tersebut akan memberikan perlindungan terhadap kawasan Mangrove dengan cara membuat tambak yang berbentuk saluran yang diharapkan keduanya, baik tambak dan Mangrove bisa bersimbiosis hidup berdampingan.

Pemanfaatan metode ini mudah, dan memang perlahan tapi pasti berhasil diterapkan di beberapa kawasan pesisir Balikpapan. Dan terbukti mendatangkan keuntungan bagi pemerintah dan nelayan/petani tambak. Karena secara teknis, fungsi Mangrove adalah nursery ground yang penting dimanfaatkan dalam usaha perikanan/budidaya.

Keuntungan ganda yang diperoleh dari metode ini adalah, selain memperoleh hasil perikanan yang lumayan, biaya pemeliharaannya pun murah, karena tidak harus memberi  makan komoditas budidaya setiap hari.

Hal itu disebabkan karena produksi fitoplankton sebagai energy utama perairan telah mampu memenuhi kebutuhan kondisi tambak. Oleh karena itu keberhasilan metode Silvofishery ini sangat ditentukan oleh produktivitas fitoplankton di dalam tambak.

Masyarakat di kawasan Gresik dan Kariangau Kotamadya Balikpapan telah menerapakan pola ini untuk memelihara udang dan bandeng di tambak mereka sejak lama. Aplikasi peneraparannya sangan mudah dimana penanaman Mangrove dilakukan di tanggul-tangul tambak mereka, dimaksudkan agar memperkuat tanggul dari longsor. Sehingga biaya perbaikan tanggul dapat juga dapat ditekan.

Area Konservasi Mangrove Di Balikpapan I specialpengetahuan.blogspot.com

Selain di tanggul, metode ini, juga melakukan penanaman Mangrove di tengah tambak yang bertujuan menjaga keseimbangan perubahan kualitan air dan meningkatkan kesuburan di areal pertambakan nantinya.

Jenis Mangrove yang ditanam di tanggul bisa dari jenis Rhizopra sp dan Xylocarpus sp. Sedangkan untuk bagian tengah tambak juga bisa ditanam Rhizopora sp. Teknis Jarak tanam mangrove yang berada di tengah/pelataran tambak umumnya 1m x2m yang ditanam pada saat kedua jenis pohon Mangrove masih kecil.

Setelah tumbuh membesar biasanya 4-5 tahun, kerimbunan Mangrove harus dijarangkan. Tujuannya untuk memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi komoditas budidaya. Selain itu dapat mempersilahkan sinar matahari dapat masuk ke dalam tambak dan dapat menyentuh dasar pelataran tambak, untuk meningkatkan kesuburan tambak.

Upaya sederhana masyarakat petani tambak di kelurahan Gersik dan Kariangau, Balikpapan yang samapi hari ini masih dilakukan. Hal mudah tadi bisa menjadikan pengenalan tentang kearifan local baru yang dapat dilihat dan dicopy-paste di semua area pertambakan secara massif di Indonesia.

Dan saya optimis, jika semua dukungan baik hal ekologis, ekonomis dan edukasi teknis budidaya yang tepat lagi, akan menjadikan metode ini akan lebih optimal untuk segera dirasakan, yang akhirnya pelaku usaha dapat mencapai kesejahteraan yang dicitakan sebelumnya.

Dengan dimulainya gerakan ini dengan penuh kesadaran oleh pemilik tambak.  Maka kawasan tambak yang rusak akibat over-eksploitasi perlahan akan memulihkan fungsi ekologis Mangrove terutama pencegahan abrasi pantai, peningkatan produktivitas perikanan budidaya dan tangkap. Serta yang tak kalah penting adalah bergeraknya ekonomis wisata eko-edu yang memberikan dampak luas terhadap ekonomi masyarakat setempat.

Dan jika terus dioptimalkan lagi, Hutan Mangrove yang lestari di sekitar tambak juga bisa  memberikan added value lainnya. Hal itu berupa hasil kerajinan masyarakat melalui pengolahan pangan hasil dari hutan Mangrove. Seperti olahan sirup, dodol, jenang dan kerupuk yang terbuat dari jenis buah mangrove yang akan menjadi olahan baru yang bisa dikemabngakan oleh kelompok-kelompok tani lainnya.

Olahan Dodol Dari Buah Jenis Mangrove Yang Dapat Dikomersilkan I surabaya.tribunnews.com

Kurang apalagi Tuhan memberikan nikmat kepada hamba-Nya. Sekarang bagaimana kesadaran kita untuk mengkampanyekan penghijauan Mangrove kita. Dengan tidak serta mengalahkan satu dari keduanya. Langkah sederhana ini patut menjadi aksi nyata para petani tambak kita untuk tidak bersifat egois, namun edukasi dari gerakan ini, dapat juga memberikan kesadaran. Kesadaran bahwa menjaga lingkungan Mangrove sangat penting dilakukan.

Dengan langkah mudah, dan efektive dalam merajut hijau Mangrove dengan mengajak komponen Mangrove terlibat dalam upaya eksploitasi manusia ini. Kita sama-sama bisa berharap keseimbangan alam bisa kembali ke titik normal kembali. Tanpa menunggu waktu kehancuran yang pasti meluluhlantahkan cita-cita dan alam kita cepat atau lambat.

Nah, sekarang mari yuk kita optimis jika kita bisa menjawab pekerjaan rumah yang diberikan Tuhan tadi, dengan cara bersama sama kita kelola dengan baik semua hal yang telah Tuhan titipkan di alam ini. Tentunya dengan mencoba  percaya jika kita sayang dengan alam, alam pun akan menyayangi seluruh umat manusia.