“Berhubung saat ini masih dalam situasi pandemi Covid-19, tanpa mengurangi rasa hormat, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya,karena tidak memungkinkan  mengundang Bapak/Ibu, Sanak saudara sekalian, untuk hadir secara langsung ke acara pernikahan anak kami. Namun akad nikah akan disiarkan dan dapat disaksikan melalui Zoom dan Instagram Live. Kami mohon Bapak/Ibu berkenan memberikan doa restu kepada kedua mempelai”

Begitulah kurang lebih pesan WA kesekian, yang saya terima kemarin siang.

Selama pandemi, tak terhitung undangan serupa yang saya dapatkan. Ada yang diminta hadir secara langsung, tapi selain itu kebanyakan online saja. Tentu ada nuansa sakral yang berkurang sedikit saat akad nikah digelar virtual, tapi toh saya tetap ikut senang bisa menyaksikan dan mendoakan.

Pada awal pandemi, tepatnya saat PSBB mulai diberlakukan, banyak keluarga dan calon mempelai, memutuskan menunda acara pernikahan yang sudah direncanakan. Namun dengan berjalannya waktu, dan pandemi makin tidak terlihat ujungnya, mereka memutuskan untuk tetap menikah dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian.

Bahkan ada yang sengaja mempercepat dari jadwal seharusnya. Dan yang tidak diduga adalah, banyak pasangan yang mendadak memutuskan, inilah saat yang tepat untuk menikah. Sepertinya tiba-tiba timbul kesadaran, bahwa menikah di masa pandemi, ternyata memberikan banyak keuntungan bagi mereka. Baik finansial maupun  emosional.

Tante saya, adalah salah satu orang yang memanfaatkan momen pandemi untuk menikahkan anak. Tidak tanggung-tanggung, dalam kurun 6 bulan, si tante mengadakan hajatan 2 kali, menikahkan dua anak perempuannya.

Walau persiapannya sangat singkat, acara tetap terselenggara dengan baik, karena diatur dengan seksama oleh wedding organizer yang profesional. Pernikahan yang biasanya harus dirancang minimal 6 bulan sebelumnya, sekarang bisa siap dalam dua bulan saja. Benar-benar mengurangi kelelahan fisik dan mental bagi pengantin dan segenap keluarganya.

Semua prosesi bisa dibuat lebih ringkas dan sederhana. Gedung yang disewa berkapasitas 400 orang, hanya diisi seperempatnya saja. Acara utama yaitu akad nikah, langsung dilanjutkan dengan resepsi ditempat yang sama. Pengantin bahkan tidak perlu ganti baju dua kali. Isi acara sangat ringkas, yaitu sambutan kedua keluarga dan doa dari tetua atau alim utama. Kemudian dilanjutkan pemberian ucapan selamat dari undangan. Tentunya tetap menjaga jarak, tanpa jabat tangan, apalagi peluk erat.

Dan karena pandemi pula, tidak ada acara makan prasmanan seperti biasanya. Tidak ada pemandangan gubuk-gubuk makanan yang penuh antrian. Tidak pula terdengar gunjingan akibat makanannya kurang. Walau tetap tersedia minuman botolan,yang bisa dibawa pulang. Semuanya terasa lebih bersih dan tertata (well organized).

Ya tentu saja bukannya tidak ada hidangan sama sekali. Ora ilok kalau kata orang Jawa, undang-undang tapi tidak ada suguhan. Ternyata  saat acara menjelang selesai, kepada semua undangan dibagikan sebuah bingkisan berupa hantaran atau istilah kerennya hampers. Yaitu sekeranjang besar berisi makanan, berupa nasi dan lauk pauk aneka rupa, juga kue-kue indah yang mengundang selera. Tidak lupa di dalamnya diselipkan sebuah souvenir cantik untuk dibawa pulang dan menjadi kenang-kenangan.

Ada juga pengantin yang memilih tetap menghidangkan hidangan di tempat acara. Tapi pihak weeding organizer berusaha mengatur sedemikian rupa agar, para tamu bisa tetap menjaga jarak saat mengambil dan menikmati hidangan. Makanan yang disediakan diusahakan tidak terlalu banyak macam, tetapi tetap mengundang selera.

Dengan konsep pernikahan sederhana seperti di atas, biaya pernikahan bisa ditekan dalam-dalam. Bahkan dengan dekorasi yang indah dan hampers atau prasmanan sederhana tapi cukup mewah, budget yang dipangkas bisa mencapai  2/3 atau sekitar 60% biaya yang seharusnya dikeluarkan, apabila pernikahan digelar di masa normal.

Ternyata dengan prosesi pernikahan yang sederhana, banyak dana yang bisa dihemat dan dialokasinya untuk kebutuhan lain yang lebih mendasar bagi pasangan yang baru membangun kehidupan. Untuk membeli rumah misalnya atau untuk modal usaha.

Pandemi ini seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan prosesi pernikahan ke esensi awalnya, yaitu untuk melegalisasi perkawinan baik secara agama maupun menurut hukum negara. Hanya itu. Bukan untuk status, gengsi orangtua maupun tuntutan keluarga besar.

Mindset bahwa acara pernikahan itu harus ramai, besar dan megah, secara perlahan harus berubah. Karena ternyata kebanyakan pasangan justru memimpikan menggelar pesta pernikahan sederhana tanpa perlu pusing memikirkan konsep busana, dekorasi, atau jenis hidangan yang akan disediakan, termasuk tamu-tamu yang diundang. Tapi karena takut gunjingan dan tidak mau melanggar adat dan tradisi, selama ini mereka memilih pasrah mengikuti kebiasaan yang berlaku..

Tentu saja seperti juga kelahiran dan kematian, pernikahan adalah sesuatu yang harus dikabarkan dan dirayakan Tapi seharusnya tidak perlu juga berlebihan. Bayangkan, prosesi pernikahan di masa normal biasanya sudah dimulai sejak malam midodareni (Jawa) atau mappaci (Melayu). Kemudian ada acara pengajian, atau doa-doa. Keesokan harinya, ada upacara siraman yang biasanya memakai air dan bunga 7 rupa. Lalu akad nikah sekaligus walimahan di hari terakhir tapi belum tentu acara yang terakhir. Karena masih ada resepsi yang biasanya paling besar dari jumlah tamu dan acara. Sangat melelahkan secara fisik maupun mental.

Kita tetap bisa koq mempertahankan upacara adat juga acara pengajian. Bagaimanapun kedua acara tersebut bisa menambah kesakralan prosesi pernikahan. Tapi di situasi pandemi yang masih penuh pembatasan, pengantin dan terutama orangtua perlu memikirkan lingkungan sekitar. Tidak perlu bermewah megah, saat masih banyak orang dalam suasana prihatin dan kesusahan.

Lagipula pesta pernikahan yang megah membutuhkan persiapan yang lebih juga. Pastinya lebih menguras waktu dan sumber daya. Belum lagi harus beradu pendapat karena banyak hal yang harus dibahas dan masing-masing punya keinginan dan kesibukan.

Sebaliknya, memilih pernikahan sederhana adalah sebuah upaya untuk membebaskan diri dari berbagai drama-drama yang melelahkan bersama keluarga maupun pasangan.

Dibalik kesedihan dan kesulitan selama pandemi ini, ternyata ada hikmahnya juga. Pandemi telah memberikan kesempatan kepada manusia untuk meraih kembali spirit pernikahan yang sederhana namun melegakan dan tetap membahagiakan.