Mentari sore itu mulai surut, gelap menyembul dari langit timur dan asap di Kota Kebul semakin tebal. Sepeda motor dan mobil berbaris menunggu antrian lampu merah yang tinggal 27 detik lagi. 

Beberapa saat kemudian, penanda waktu di lampu lalu lintas itu menunjukkan angka tiga, tapi klakson motor sudah bersahut-sahutan. Kepala Ravni tersentak, matanya terbelalak kaget karena dihardik pengendara motor di sampingnya. 

Ravni tak menghiraukan umpatan dari pengendara itu. Ia langsung tancap gas, tak sabar untuk sampai ke indekosnya.

Butuh waktu satu jam dari kantor tempatnya bekerja untuk sampai ke indekosnya di pinggiran Kota Kebul, itu pun kalau ia pulang sebelum pukul 16.00, jika lebih dari itu paling cepat ia akan sampai dengan waktu 1 jam 30 menit. 

Sudah lima tahun ini ia mengulang rute jalan yang sama, lampu lalu lintas yang sama, pekerjaan yang sama, suara klakson dan asap kopaja yang sama.

Sistem di otaknya sudah sangat akrab dengan setiap detail jalanan yang dilalui. Ia sama sekali tidak khawatir akan terjadi kecelakaan sekalipun matanya tertutup sepersekian detik. Lagi pula Ravni bukan tipe pengendara yang suka nyalip kanan-kiri, ia cenderung konsisten pada kecepatan 50 km/jam dengan jalur kanan.

“Jang Ravni gak berhenti dulu, gorengannya masih anget nih!” Mang Asep tukang gorengan di perempatan Jalan Siliwangi 09 memanggil Ravni yang tengah melintas. 

Jangankan menepi, menengok saja tidak, pandangan Ravni terus ke depan hingga ada anak kucing sekelibat lewat dan hampir terlindas. Ia mengerem mendadak, kaca helm yang tersingkap pun turun. Menemui anak kucing itu tidak terluka, ia melanjutkan perjalanan yang lebih dari setengahnya lagi.

Jam menunjukan pukul 17.30, gelap sudah sampai batas langit tengah dan asap semakin memerihkan mata. Lampu-lampu jalanan yang berjejer mulai menyala. Tidak jauh dari tempat kucing yang hampir terlindas, terjadi kecelakaan beruntun. 

Pengendara lain berkerumun karena polisi terlihat belum sampai ke lokasi. Tidak seperti sapaan dari Mang Asep yang Ravni abaikan, kali ini ia tertarik untuk berhenti dan melihat kerumunan itu.

Menyelinap di lingkaran manusia yang berkerumun, Ravni sampai di barisan terdepan dan melihat tiga pengendara tertahan di dalam mobilnya dan dua pengendara motor yang tergeletak di pinggir motornya. 

Ravni merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel lalu memotret kelima pengendara itu. Menyadari motornya terparkir di pinggir jalan, ia keluar dari kerumunan itu dan melanjutkan perjalanan.

Akibat kecelakaan itu, ruas jalan macet total. Ravni mencoba mencari jalan lain agar bisa sampai lebih cepat. Ia memilih satu jalan alternatif melewati gang-gang di salah satu pemukiman yang cukup padat. Ravni terpaksa harus melewati jalanan yang hanya muat untuk dua motor, itu pun kalau tidak ada anak-anak kecil bermain bola.

Beruntung sore itu anak-anak sudah pergi ke masjid untuk salat Maghrib, pakaiannya rapi dengan tabung oksigen kecil di belakang punggungnya. Jalanan bisa dilewati Ravni tanpa hambatan, hingga sampai pada satu sudut gang Ravni melihat cermin milik tukang cukur tradisional. 

Dalam cermin yang terhalangi asap putih tebal itu Ravni melihat sebuah hutan yang hijau dan kakek-kakek tua renta sedang mencangkul tanah yang sangat luas.

Pukul 18.11 Ravni sampai di kos-kosan, ia melempar tas dan membuka pakaian kerja. Di kamar mandi ia termenung memikirkan apa yang dia lihat dalam cermin di gang tadi. 

Ia anggap itu hanya delusi akibat kelelahan kerja. Selepas Isya ia membaringkan diri seraya melepas semua penat, matanya terpejam sampai suara azan Subuh membangunkannya.

Ritual pagi setelah sembahyang Subuh, Ravni sarapan, menyeruput kopi, membaca buku dan membaca berita terkini. Pagi itu Ravni membaca buku berjudul “Klorofilia” sebuah novel terjemahan dari Eropa Timur. 

Novel itu berisi cerita tentang makhluk yang hidup dalam klorofil dedaunan di pohon. Kehidupan memproduksi oksigen, karbondioksida, dan keseharian makhluk klorofilia itu.

Di salah satu berita daring yang dibaca Ravni mengabarkan bahwa satu kawasan di negara yang dilewati garis khatulistiwa tengah terjadi bencana kekeringan. 

Bencana itu menyebabkan separuh dari negara tersebut dilalap si jago merah. Berita yang tidak menarik untuk orang-orang di Kota Kebul, karena mereka sudah bersahabat dengan asap sejak sembilan tahun yang lalu.

Sayangnya ritual pagi yang syahdu itu terganggu saat alarm ponsel Ravni berbunyi menandakan ia harus bergegas pergi ke kantor. Dengan kaos, celana jeans, masker yang terhubung dengan tabung oksigen di kantong baju Ravni biasa bekerja, meskipun ia harus datang tepat waktu dan pulang pukul 16.30 beruntung tempatnya bekerja membolehkan karyawannya untuk mengenakan pakaian kasual. Dengan pakaian kasual, paling tidak Ravni bisa tampil bebas apa adanya.

Rute tercepat menuju kantor hanya ada satu, seperti ribuan hari sebelumnya Ravni melewati jalanan yang sama. Namun pagi itu ia memilih gang yang sore kemarin dilewati, ia masih penasaran dengan gambar kakek pembawa cangkul yang muncul dari cermin. 

Sampai di tempat itu, ia menoleh ke arah cermin, namun tidak melihat kakek itu lagi, yang muncul malah bapak-bapak dari arah belakang membawa kursi, kain, dan tas.

“Mas, lagi ngapain ngeliatan cermin saya?”

“Oh, enggak pak, saya numpang merapihkan pakaian,” Ravni menjawab pertanyaan tukang cukur pemilik cermin.

Sesampainya di kantor, Ravni mencoba untuk fokus pada pekerjaannya dan meyakinkan diri bahwa kakek-kakek yang muncul sore kemarin hanyalah delusi. Ia juga tidak menceritakan ini kepada teman kantornya, karena mungkin akan mengundang rasa penasaran yang mengganggu pekerjaannya.

Di sela-sela jam makan siang, Ravni teringat dengan kecelakaan beruntun sore kemarin. Ia membuka album foto di ponselnya dan melihat-lihat foto lima orang korban kecelakaan kemarin. Setelah Ravni mengamati foto masing-masing orang itu, terselip daun merah di saku baju tiga pengendara mobil, dan daun hijau di saku pengendara motor. Foto itu semakin membuat penasaran Ravni, sore kemarin menyisakan pertanyaan yang tidak pernah sama sekali terbayangkan.

                                    *****

Semua orang mulai keluar kantor, satu persatu dari mereka melakukan finger print tandanya jam pulang kantor sudah tiba. Ravni yang melamun saja 30 menit yang lalu tersadar oleh gebrakan meja temannya. 

Ia pun merapikan meja kerjanya dan bergegas pulang, namun pertanyaan kejadian sore kemarin masih bersarang di kepalanya. Ravni pulang dengan rute yang sama dengan sore kemarin dan ribuan sore sebelumnya.

Sore itu ia berhenti di perempatan tempat Mang Asep jualan, hari itu nampaknya menguras tenaga dan pikiran Ravni. Gorengan panas Mang Asep cukup untuk mengganjal perutnya sampai tiba di kosan nanti.

“Nah gitu dong Rav, mampir dulu. Kemarin Mang Asep Panggil kamu gak nengok sama sekali,”

“Oh iya mang, kemarin saya buru-buru soalnya udah lesu banget sama kerjaan,”

Ravni dan Mang Asep memang sudah lama kenal, bahkan sebelum dagang gorengan. Empat tahun yang lalu Mang Asep jualan sayuran, cuma karena dia berjualan sore hari dagangannya kurang laku. Mang Asep memilih berjualan gorengan karena setiap sore banyak karyawan kantor yang mampir untuk mengganjal perut sampai ke rumahnya.

“Mang yang kemarin kecelakaan itu gimana nasibnya ya?”

“Mamang kurang tau jang, tapi katanya sih langsung dibawa ke rumah sakit,”

“Mang Asep liat sesuatu gak di kantong lima orang yang kecelakaan kemarin?”

“Wah, mana bisa mamang liat, kan langsung dibawa ambulan, emangnya kenapa jang Ravni?”

“Enggak mang, aku mau tau aja ciri-ciri orangnya?”

Setelah menghabiskan lima buah gorengan, Ravni meneruskan perjalanan pulangnya. Rasa penasaran masih menghinggapi pikiran Ravni, ia pun kembali melewati gang itu. Ia berharap sore itu sudah tidak ada orang di sekitarnya, sehingga dia bisa sedikit lebih lama mengamati cermin itu.

Ravni menoleh ke kanan dan ke kiri mengamati sekitar pemukiman yang ia lewati, namun tidak ada hal yang aneh, semuanya sama dengan pemukiman yang lainnya. 

Hingga sampailah Ravni ke ujung gang, ia mendapati tidak ada siapapun di sana. Ia turun dari sepeda motornya dan mengamati cermin milik tukang cukur itu. Sepuluh menit Ravni membolak-balik cermin berukuran 50 cm, ia tidak menemukan apa-apa.

 Ia pun semakin yakin yang dilihatnya kemarin sore hanya delusi, ini ketiga kalinya Ravni memperhatikan cermin itu dan hanya sekali dia melihat kakek-kakek dengan cangkulnya itu.

Ravni menghidupkan sepeda motornya, ia yakin semuanya tidak ada dengan mencoba untuk melupakan bayang-bayang kakek itu. Baru saja menghidupkan motor, terdengar suara dari cermin itu.

“Hai anak muda, kemarilah!”

Ravni menoleh ke belakang, dia memeriksa cermin itu dan ia menemukan daun berwarna merah terselip di bingkai cermin. Ia mengambil daun yang tampak biasa saja, namun ia tidak membuang daun itu, ia membawanya ke kos-kosan. Rasa penasaran semakin menggumpal, saat sampai ia melihat tulisan “Datanglah ke sini, kenalkan aku Pak Hejo.” Ravni menyimpan daun itu dan mencoba mencari maksud dari tulisannya.