2 tahun lalu · 4214 view · 4 menit baca · Agama 14517622_1283969981622693_1065109518522108968_n.jpg
www.facebook.com

Meragukan Gairah Keislaman Para "Pembela" Ahok

Ada satu hal yang menggelikan dari kasus heboh yang belakangan menimpa Gubernur Ibu Kota Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, seperti yang kita saksikan bersama di berbagai media masa dan dunia maya. Sebagaimana kita maklumi bersama, para "pembela" Ahok bukan hanya dari kalangan non-Muslim yang seagama dengannya saja, tapi sebagian dari mereka juga ada dari kalangan orang-orang Muslim yang berempati dan prihatin atas kasus yang menimpanya.

Para pembela Ahok tak seluruhnya orang Cina, tapi sebagian dari mereka ada juga yang membelanya atas dorongan rasa cinta kepada sesama manusia. Para pembela "Ahok" juga tak seluruhnya orang Kristiani, tapi sebagian dari mereka ada juga dari kalangan Muslim yang tak suka dengan fitnah dan tirani.

Ini penting untuk disadari oleh publik Indonesia. Bahwa dalam konteks pembelaan Ahok, dorongan setiap orang yang membela Ahok tak sepenuhnya sama. Ada yang membela Ahok atas nama Agama, ada yang membela Ahok karena dia Cina, ada yang membela Ahok karena memang dorongan rasa cinta.

Ada yang membela Ahok dengan dorongan ingin berkuasa, ada yang membela Ahok hanya karena ingin tenar saja, dan ada juga yang membela Ahok atas nama keadilan dan menentangan kezaliman yang hina, meskipun antara yang membela dengan yang dibela berbeda Agama.

Orang Islam tentu tak akan membela Ahok karena Agama yang dianutnya. Kalau ada tentu ini merupakan sebuah tindakan yang hina dan kebodohan yang nyata. Dan saya yakin tak akan ada. Setidaknya kalaupun ada, Islam yang saya peluk adalah Islam yang senantiasa mengedepankan sikap baik sangka, bukan buruk sangka, apalagi meragukan keimanan dan gairah keislaman orang yang berbeda. Karena itu saya berbaik sangka saja: Tidak ada. Saya yakin tak akan ada.

Tapi orang Kristen mungkin saja ada yang membela Ahok atas nama Agama. Dan ini sah-sah saja. Tidak apa-apa. Ini hak mereka. Sejauh pembelaan tersebut disampaikan dengan kata-kata yang santun, bijaksana, dan tak melukai orang-orang yang berbeda.

Jika ini mereka lakukan, sikap mereka lebih baik ketimbang akhlak sebagian saudara-saudara kita bisanya hanya menebar fitnah, memenggal video orang seenaknya, dan menyebarkan kebencian kepada orang-orang yang berbeda Agama dengan meng-atas-namakan rasa cinta kepada kitab suci Yang MahaKuasa.

Sekarang ada persoalan baru yang penting untuk kita renungkan. Sebagian saudara-saudara kita dari kalangan umat Islam yang menentang dan menganggap bahwa Ahok telah menghina al-Quran ini kadang merasa dirinya paling beriman sehingga pembela Ahok dari kalangan umat Islam lain dipandang sebagai orang-orang yang gairah keislamannya di ambang kematian.

Mereka sudah yakin betul bahwa Ahok itu menghina al-Quran. Padahal saudaranya yang lain bisa jadi lebih hati-hati dalam menilik suatu persoalan sehingga pada akhirnya mereka berbeda pandangan dan tak berani memastikan bahwa Ahok telah menghinakan al-Quran.

Saya sudah menegaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya bahwa statement Ahok itu masih multi-tafsir dan masih terbuka untuk didiskusikan. Tak boleh dipenggal dan kemudian dengan mudahnya disimpulkan bahwa dia telah menghina al-Quran. Apalagi dia sendiri sudah klarifikasi bahwa dirinya tak bermaksud untuk melecehkan al-Quran.

Kalau kita tetap memaksa dan memastikan bahwa Ahok telah menghina al-Quran—padahal perkataannya sendiri belum pasti menunjukan demikian, dan dia sendiri dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tak bermaksud untuk menghina al-Quran—maka kita sudah melakukan kezaliman. Sekali lagi, itu adalah kezaliman. Dan kezaliman tak disukai oleh Tuhan.

Sungguh menggelikan, hanya karena ujaran Ahok yang masih multi-tafsir dan masih terbuka untuk didiskusikan itu dengan mudahnya sebagian saudara-saudara kita memandang saudaranya yang lain sebagai orang-orang yang lemah iman dan tak memiliki gairah keislaman.

Barangkali gairah keislaman versi mereka itu identik dengan kemarahan, datang ke kantor kepolisian, memenuhi tembok sosial media dengan gunjingan dan hujatan, memekikkan kalimat-kalimat suci yang penuh kemuliaan kepada orang-orang yang berbeda iman, dan lain-lain.

Padahal, yang mereka lakukan sendiri belum tentu sepenuhnya ekspresi keimanan dan kecintaan kepada al-Quran. Bisa jadi yang dilakukan oleh sebagian dari saudara-saudara kita itu didorong oleh kebencian kepada orang yang berbeda iman, bisa jadi dilatar-belakangi oleh emosi dan kecurigaan yang berlebihan, bisa jadi hanya karena ingin ikut-ikutan.

Bahkan, tak menutup kemungkinan orang-orang yang menyudutkan Ahok secara berlebihan itu hanya bertujuan untuk meruntuhkan lawan dalam ajang pemilihan tapi bersembunyi di balik kecintaan kepada ayat-ayat Tuhan agar mendapatkan dukungan dan perhatian.

Berani-beraninya mereka menyangsikan gairah keislaman saudara mereka sendiri yang satu iman dan sama-sama mengimani al-Quran, seolah-olah merekalah kelompok orang-orang yang paling beriman di antara orang-orang yang beriman. Seolah-olah merekalah yang paling cinta kepada al-Quran. Seolah-olah merekalah orang-orang yang memiliki gairah keislaman tinggi sementara lain sudah diambang kemusnahan.

Lebih menggelikan lagi kalau ada yang berkata bahwa orang-orang yang membela Ahok adalah orang-orang yang jauh dari al-Quran. Sebab, kata mereka, kalau orang dekat dengan al-Quran, tak mungkin mereka berdiam diri apalagi tampil membela orang yang—dalam keyakinan mereka—menghina al-Quran.

Dalam hemat saya, pandangan semacam ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang suka mempertebal rasa buruk sangka dan menganggap dirinya lebih baik dari orang-orang yang berbeda pandangan.

Sependek yang saya tahu, Islam tak mengajarkan demikian. Islam yang saya pahami mengajarkan kebijaksanaan, kelembutan, kesantunan, berbaik sangka kepada sesama saudara seiman, tak mudah menyebar fitnah dan kerusuhan, tak memutuskan sesuatu dengan emosi dan kecurigaan, dan yang paling terpenting adalah menghargai perbedaan.

Penting dicatat, bahwa tak semua orang yang memiliki gairah keislaman tinggi itu dibekali dengan wawasan keislaman yang memadai. Orang yang memiliki gairah keislaman tinggi tapi tak dibekali wawasan keislaman yang memadai itu biasanya gampang menuduh orang, mengkafiran orang, sedikit-sedikit marah, mudah buruk sangka, dan sulit untuk menerima perbedaan.

Tapi orang yang memiliki gairah keislaman yang tinggi dan dibekali wawasan keislaman yang memadai itu biasanya bijak, tak mudah mengafirkan, tak mudah menyudutkan, tak suka menyebar tuduhan, tak suka memutus suatu perkara dengan emosi dan kecurigaan, dan yang pasti tak akan menistakan orang-orang yang berbeda padangan dan keyakinan.

Dengan demikian, mereka-mereka yang mudah berburuk sangka dan meremehkan gairah keislaman saudara-saudaranya sendiri itu adalah orang-orang yang mungkin memiliki gairah keislaman yang tinggi, tapi boleh jadi--sekali lagi boleh jadi--gairah keislaman mereka tak dibalut dengan wawasan keislaman yang memadai sehingga pada akhirnya mereka merasa lebih beriman dan merasa lebih mencintai kitab suci ketimbang saudara-saudaranya sendiri.

Ilahi Rabbi sadarkanlah mereka dan perbaikilah iman kami.