15327_24037.jpg
http://www.virtueonline.org/shut-bigot-intolerance-tolerance
Agama · 3 menit baca

Meradikalkan Gerakan Simbiosis Kelompok Senjang
Melumpuhkan Benih Intoleransi

Menyandang status negara multikulturalis, Indonesia sangat disegani oleh banyak negara. Corak kultur menjamuri setiap sudut wilayah menjadi marker pengingat bagi setiap orang yang berkunjung hingga memantapkan diri menetap dinegeri ini. Diversitas agama dan budayanya, Indonesia dapat digolongkan sebagai miniatur dari karya nyata Sang Pencipta. 

Mahakarya luar biasa Sang Pencipta menghadirkan manusia-manusia hebat nan beragam di Indonesia. Keseimbangan siklus kehidupan kunci keeksisan berbudaya dinegeri ini, setiap orang dengan rasa aman dan bahagia bebas memeluk keyakinan dan menunaikan budayanya dalam keseharian. Ditambah lagi suplementasi dari keberadaan Pancasila menjadi pertanda bahwa tidak seharusnya ada yang ditakuti untuk kebebasan ini.

Setiap orang bebas menentukan pilihannya, namun tidak jarang selalu ada pro dan kontra dibalik setiap pilihan. Menjadi begitu rumit ketika terkotaknya sebuah pilihan karena berbeda sudut pandang hasilnya adalah saling menyudutkan kearah saling menjatuhkan. Sangat disayangkan gagahnya multikulturalis di negeri ini harus tercoreng oleh pihak-pihak yang tidak merelakan hadirnya kesejahteraan dari implementasi toleransi berkeyakinan dan berbudaya. 

Toleransi yang telah berdiri lama ditengah hiruk pikuk keberagaman di Indonesia. Kegiatan-kegiatan yang terindikasi sebagai jejak intoleransi menjadi awal dari pecahnya toleransi. Intoleransi beraksi melalui banyak cara, antara lain lewat komunitas sekolah/kampus, media sosial tentunya dengan mengatasnamakan suku, ras, kelompok, agama, maupun orientasi seks.

Gerakan Simbiosis Kelompok Senjang Aksi Nyata Melumpuhkan Intoleransi

Jika menang membutuhkan lawan yang dikalahkan, mengapa yang saling melawan tidak mau mengalahkan kekalahan secara bersama-sama untuk menang. Musuh Indonesia yang perlu dimusnahkan adalah intoleransi. Bukan intoleransi, musuh yang paling kuat dari sekedar kegiatan intoleransi sebenarnya benih-benih intoleransi. Intoleransi hanyalah bentuk kematangan dari suatu kegiatan merusak toleransi. Proses matangnya intoleransi bermula dari benih-benih intoleransi yang disemai dengan baik. Benih-benih ini akan ditanam kepada tunas-tunas muda yang akan membangun Indonesia. 

Pemuda dan pemudi menjadi sasaran empuk untuk ditanamkannya intoleransi. Jika pola pikir para pemudanya suatu negeri sudah tercuci oleh benih intoleransi maka tertundalah kemajuan bangsa. Satries (2009:88) menyatakan bahwa sejarah membuktikan bahwasannya pemuda adalah salah satu pilar berperan besar dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga maju mundurnya suatu negara sedikit banyak ditentukan oleh pemikiran dan kontribusi aktif dari pemuda.

Kesenjangan perlu difilter secara simultan oleh kedua hal yang saling bertentangan. Toleransi dan intoleransi bagaikan kedua kutub yang tidak dapat disatukan, namun untuk menuju yang namanya intoleransi pasti membutuhkan proses menjadi intoleransi yang matang. Artinya intoleransi masih bisa dicegah dengan membasmi benih-benihnya. Secara nyata toleransi dan intoleransi bisa mematahkan versus yang melekat dikeduanya. Bahkan toleransi dan intoleransi menjadi rekan sekerja untuk saling menyokong memusnahkan benih-benih intoleransi. 

Keduanya dapat saling bersimbiosis menciptakan sebuah gerakan baru “Gerakan SKS (Simbiosis Kelompok Senjang)”. Melalui mantan-mantan punggawa kelompok intoleransi, gerakan SKS bisa melakukan manuver untuk saling merangkul dan bekerjasama melumpuhkan otoritas benih-benih intoleransi. Setelah terbentuknya kerjasama secara aktif dalam formasi diskusi, selanjutnya dapat dimuat dalam situs media online kerjasama kelompok yang awalnya bersenjangan ini. Hasil akhir kegiatan adalah keharmonisasian kehidupan sosial dapat ditularkan langsung pada semua kalangan masyarakat sekitar yang masih buta tentang intoleransi.

Masih Bersemayamkah Intoleransi Ketika Gerakan SKS Muncul?

Intoleransi bak virus yang terus bermutasi untuk mengincar korban. Kemunculannya selalu bertentangan dengan kaidah norma yang ada. Dengan diversitas yang besar, Indonesia tidak pernah memberlakukan yang namanya intoleransi. Intoleransi duduk dengan tenang ditengah-tengah ketentraman, keberadaannya hanya bertujuan mencabik-cabik keutuhan bangsa dan selalu tidak relevansi dengan persatuan yang ada. Meskipun demikian, intoleransi hanyalah proses kematangan bertindak yang berseberangan. 

Masih ada celah untuk memutar arus intoleransi menuju kearah yang lebih sinkron dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kejadian ini seharusnya membuat kita semua lebih peka dan berpikir bersama berperan aktif memangkas rimbunnya semak-semak intoleransi. Intoleransi hanyalah minoritas keberadaannya di negeri ini, semakin lama waktu untuk membuahi maka intoleransi kesuburannya tidak dapat dicegah lagi. Diperlukan sebuah gerakan baru yang solid untuk berperang melawan kegiatan-kegiatan intoleransi. Perang tidak perlu bersenjata cukup bermodalkan tombak kesepakatan untuk menetralisir intoleransi hingga kearah pemulihan menjadi tolerir.

Kehadiran gerakan ini perlu digagas langsung oleh kaum-kaum yang berintoleransi sebelumnya. Melalui merekalah akan ada titik temu bagaimana mencegah penularan virus intoleransi. Forum yang akan berdiskusi menyetarakan pendapat yang kemudian turun langsung kelapangan untuk disosialisasikan atau dapat dimonitoring melalui sosialisasi berbasis online system. Dengan membuat situs gerakan SKS (Simbiosis Kelompok Senjang) akan terformulasi obat untuk menyembuhkan intoleransi. Akhirnya intoleransi dengan sendirinya akan terkubur selamanya bersama kelelahan yang dibuatnya sendiri.

Referensi

 

Satries WI. 2009. Peran serta Pemuda dalam Pembangunan Masyarakat. Jurnal Madani Edisi I 9 (1):88-93.