"Aku berniat menulis kitab untuk menghibur mereka yang membacanya, dan sebagai pedoman bagi siapa saja yang menginginkan Taman Bunga, Gulistan, yang daun-daunnya tak tersentuh kesewenang-wenangan pergantian musim, dan kecemerlangan sinarnya abadi, tak dapat diubah oleh musim gugur."

Itulah penggalan tulisan Saadi dalam mukadimah Gulistan.

Saadi, salah seorang penyair masyhur Persia yang tak hanya besar namanya di Iran, tetapi juga di dunia. Hidup pada abad ke-13, ia berada satu zaman dengan penyair sufi terkemuka, Jalaluddin Rumi. 

Kini, ia disemayamkan di Kota Shiraz, Iran, yang juga kota kelahirannya, bersama dengan Hafiz, penyair Persia terkenal lainnya. Karenanya, Shiraz, selain dikenal sebagai kota Persia Lama, juga sebagai kota penyair.

Pada masa hidupnya, Saadi melewati masa-masa sulit akibat perang yang meluluh-lantahkan kampung halamannya. Perang Salib dan invasi tentara Mongol menjadi dua perang besar yang harus ia hadapi. 

Dalam bukunya, Gulistan, terekam kisah sulitnya menghadapi kedua perang tersebut. Mulai menjadi tawanan pada Perang Salib, lalu hidup dalam pelarian ke berbagai negeri saat invasi tentara Mongol.

Gulistan, Taman Bunga Mawar

Gulistan, salah satu karya monumental Saadi yang paling populer selain Bustan. Karyanya itu tidak hanya menyajikan gubahan syair-syair dengan keindahan tata bahasanya. Tetapi juga menyirat banyak pelajaran yang dipetik dari pengalaman hidupnya. 

Seperti yang ia tulis di mukadimah buku ini bahwa Gulistan adalah pedoman bagi siapa saja yang menginginkan taman bunga, Gulistan, dalam bahasa metafora.

Melalui ragam kisah dalam buku tersebut, ia mengajak pembaca untuk menyingkap tabir cinta dan iman lewat pesan moral. Menurutnya, cinta dan iman adalah jalan yang mengantarkan pada hikmah dan makrifat tertinggi. Sehingga melalui keduanya, akan sampai pada penyaksian keindahan Tuhan.

Meski karya ini dikarang pada saat masa-masa sulit Saadi. Namun, dia justru memberi judul yang romantis pada karyanya ini, Gulistan, yang dialih-bahasakan menjadi Taman Bunga. 

Tentunya, bukan judul yang dibuat atas fantasi Saadi semata, apalagi pelariannya dari getirnya kehidupan, melainkan kandungan makna yang dalam di balik judul itu. Seperti pada umumnya, tradisi sastra Islam Persia pada zaman itu sangatlah kental dengan pemikiran tasawuf.

Kembali ke penggalan tulisan mukadimah Gulistan di awal. Dituturkan oleh Saadi latar belakang karyanya ini dengan penuh kearifan. Dilanjutkannya dalam mukadimah itu, “apa artinya seikat bunga untukmu? Ambillah sehelai daun dari Gulistan, taman bungaku,” katanya. 

“Sekuntum kembang biasanya hanya bertahan lima atau enam hari, tetapi bunga-bunga dalam Gulistan akan senantiasa berkilauan cahayanya,” lanjutnya.

Hikayat “Ibrat Para Raja”

Menyaksikan sendiri kekacauan perang, invasi, dan penderitaan rakyat tampak mencolok dalam buku Saadi, Gulistan. Kritiknya terhadap para penguasa yang zalim banyak mewarnai puisi-puisi dalam karyanya ini. 

Bahkan di dalamnya termuat bab khusus berjudul “Ibrat Para Raja”. Pada salah satu hikayatnya dituliskan:

Seorang penguasa tiran tak akan bisa menjadi sultan
Sebagaimana serigala tak mungkin jadi penggembala
Seorang raja yang semena-mena
Ia hancurkan sendiri sendi-sendi kekuasaannya

Raja yang membiarkan rakyatnya tertindas
Akan menuai balasan dari musuh yang kuat
Berdamailah dengan rakyat
Dan Anda akan selamat dari pergolakan

Gubahan hikayat ini adalah cuplikan dari banyaknya syair-syair Saadi yang kuat akan pesan moral. Baginya, krisis dan ketidakstabilan yang dialami masyarakat akan pulih dan segera membaik dengan perbaikan pikiran dan moral. 

Oleh karena itu, dalam Gulistan, dia lebih banyak mengulas akhlak-akhlak para pemimpin dan pembesar negeri serta mengulik manfaat adab dan pendidikan.

Jejak Hidup Saadi

Saadi kecil bernama Maslahudin. Dia hidup yatim sejak ayahnya meninggal saat usianya 6 tahun. Kesedihannya sebagai anak yatim juga tak luput ia luapkan lewat syair-syairnya. 

Akan tetapi, berkat bantuan pamannya, ia bisa melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang perguruan tinggi di Baghdad. Di sana, ia bersekolah di Universitas Nezamiyah yang dibangun oleh Nizam Al-Mulk pada akhir abad ke -11.

Invasi Mongol ke hampir semua wilayah kaum muslimin sampailah di Baghdad. Saadi yang tengah berada di sana terpaksa harus menyelamatkan diri. Dimulailah pengembaraannya ke berbagai negeri-negeri asing. Sebab, kampung halamannya juga menjadi sasaran invasi. 

Di bawah tekanan politik dan ekonomi, dia menghabiskan waktu 32 tahun dalam safarinya, melintasi Irak, Suriah, Mesir, Maroko, Balkan, Turki hingga ke Asia Tengah.

Dalam pengembaraannya itu, terkadang ia berbusana bak seorang darwish, sufi pengembara, membaur dengan rakyat jelata. Tak jarang dalam kesempatan lain, Saadi juga berkumpul bersama para saudagar sambil bergabung dalam kafilah menyusuri gurun pasir.

Sampai akhirnya kembali ke tanah kelahiran Saadi, Shiraz, pada tahun 1256 M. Dia menghabiskan sisa hidupnya disana. Selama itu juga, ia selesaikan dua karyanya yang populer, Gulistan dan Bustan. Bahkan, hingga sekarang, kedua karyanya tersebut masih dikenal dan ditelaah dalam kajian tasawuf dan sastra Persia.

Makam Saadi

Meninggal pada usia yang sangat tua, 107 tahun, pada tahun 1291 M, Saadi dikebumikan di kampung halamannya. Jaraknya dari ibu kota Iran, Teheran, sekitar 930 km. 

Dijelaskan dalam buku The Road to Persia karangan Afifah Ahmad, kompleks pemakaman Saadi jauh dari kesan angker seperti pemakaman pada umumnya. Justru sebaliknya, “kompleks pemakaman Saadi terletak di sebuah taman indah, di timur laut kota,” tulisnya. Bahkan, “tenang dan asri, itulah kesan pertama yang saya tangkap,” tambahnya.

Afifah dalam bukunya menggambarkan kondisi kompleks pemakaman Saadi pada ziarahnya di tahun 2011. Disebutkannya, tidak ada pohon kamboja atau aroma kenanga di sana. Malah, pohon cemara ditanam berjajar mengiringi peziarah sejak gerbang masuk hingga menuju pelataran makam. 

Sepeti kesan Afifah, makam Saadi lebih memberikan kesan menenangkan ketimbang menyeramkan.

Bahkan setiap harinya, makam ini selalu ramai dikunjungi para peziarah. Di Iran, tradisi berziarah ternyata tidak dilakukan hanya di makam para ulama saja, tetapi juga para penyair. Tak terkecuali makam Saadi yang memang namanya memiliki tempat istimewa di tengah masyarakat Iran.

Delapan abad sepeninggal Saadi, ia masih dikenal dan dikenang sebagai seorang penyair tidak hanya oleh masyarakat Iran, tetapi juga dunia. Salah satu penggalan puisinya pun diabadikan di gedung PBB, sebagai simbol kasih sayang umat manusia.

Anak Adam satu badan satu jiwa, terciptalah dari asal yang sama
Bila satu anggota terluka, semua merasa terluka
Kau yang tak sedih atas luka manusia, tak layak menyandang gelar manusia