Airnya berwarna hitam pekat, tenang. Sesekali saya melihat ke bagian air sungai, nampak sama persis suasananya dengan apa yang ada di atasnya. Air hitam ini mampu merefleksikan bentang keindahan luar biasa di atasnya, tentu dengan bantuan cahaya sang surya.Refleksi, Sungai Sebangau

Perjalanan menyusur sungai adalah perjalanan wajib, yang mau tidak mau harus anda lewati jika berkunjung ke kawasan TN Sebangau. Sebab, tipe hutannya 90-95% adalah hutan rawa gambut dengan ketinggian 0 – 3 mdpl dan sisanya tanah mineral yang letaknya jauh berada di kedalaman hutan.

Sarana akses berupa perahu mesin yang mampu mengangkut 3 – 5 orang dalam satu kali perjalanan. Di Kalimantan, sarana ini disebut dengan cess, kadang disebut juga alkon, sedangkan untuk moda transportasi yang sedikit lebih besar disebut kelotok.

Perbedaan mendasar antara cess dan kelotok pada jenis mesinnya, kapasitas penumpangnya, kecepatannya dan yang utama adalah daya jelajah cess, lebih jauh dan efektif digunakan menyusur sungai sempit atau rawa-rawa surut.

Catatan perjalanan ini saya fokuskan pada perjalanan di Sungai Bangah yang keberadaannya tidak se-tenar Punggualas di Kabupaten Katingan dan Sungai Koran di Palangka Raya, sebab Bangah belum dikembangkan menjadi destinasi wisata alam oleh TN Sebangau.

Terdapat dua jalur akses yang dapat ditempuh untuk sampai ke Bangah, kedua jalur sama, menggunakan perahu mesin (cess). Jalur pertama melalui Dermaga Kereng Bangkirai, dilanjutkan dengan menaiki kelotok kearah hilir sungai Sebangau, dengan waktu tempuh ± 3 jam perjalanan. 

Jalur kedua, dari Kota Palangka Raya menuju desa Garung Kecamatan Jabiren – Pulang Pisau menggunakan transportasi darat, dengan waktu tempuh ±1 jam perjalanan. Dari Desa Garung menggunakan cess menyusuri kanal garung atau kerokan garung dengan waktu tempuh 1,5 jam perjalanan. 

Route kedua lebih pendek waktu tempuh, namun mempunyai tantangan tersendiri sebab kanal atau kerokan garung dipengaruhi pasang surut. Kesalahan waktu dapat mempengaruhi panjang waktu perjalanan. 

Sahabat petualang jika menjumpai kondisi ini hanya dapat melakukan dua hal, yaitu; Menunggu air pasang sampai dapat dilalui, atau mendorong perahu mesin.

Kanal Desa Garung,

Resort Bangah berada di Kabupaten Pulang Pisau sedangkan Sungai Bangah merupakan sub DAS Sungai Sebangau. Tandanya unik, berupa Pos Jaga Taman Nasional (TN) Sebangau berwarna hijau dengan menara pantau tua disebelahnya. 

Pada bagian seberang sungai terdapat pondok-pondok kayu nelayan dengan kontruksi minimalis, berjejer memanjang sungai bangah.

Pos Jaga, Muara Sungai Bangah


Gumam, Hutan Gambut

Resort Bangah, menurut sejarahnya, merupakan kawasan konsesi hak pengusahaan hutan (HPH) pada era tahun 1990-2000an. Sisa-sisa peninggalan “kekurang bijaksanaan” itu sangat kontras terlihat. 

Tonggak-tonggak kayu berlumut menjadi pemandangan yang mampu mengilas-balik waktu, seolah berkata lirih pada kita “kami tak tumbuh dengan cepat, kami tak hijau dalam sekejap”.

Pada sisi lainnya, saya mendapati tegakan sisa, sebagian batangnya berwarna hitam, mengindikasikan sangat tersiksa oleh jalaran kebakaran vegetasi tingkat bawah. Alam yang saya lihat, benar-benar mampu membawa kenangan kelam, tentang kebrutalan dan keserakahan.

Pesan Alam

Pada titik lainnya, saya takjub melihat hamparan istemewa hutan alam khas rawa gambut yang homogen (sejenis), didominasi oleh pohon dari family dipterocarpa, jenis-jenis Blangeran (shorea blangeran), hutan dengan tajuk rendah, berjuang kuat beradaptasi dengan keasaman gambut dan pasang surut air laut. 

Di Kerapatan hutan ini, saya kembali melihat cara alam berkomunikasi, adanya tanda tinggi air rawa saat tergenang.

Hamparan vegetasi khas hutan gambut

Manfaat Berkelanjutan

Suasana pagi hari tidak kalah menawan, cahaya matahari pelan di ujung timur membiaskan rona cerahnya, membawa dalam situasi damai dan tenang, jauh dari bising, dering dan kesibukan kota.

Sungai Bangah yang hitam dan tenang pagi itu mulai kembali bergelombang oleh lalu lalang perahu kecil nelayan mengambil ikan dengan peralatan tradisional. Hari itu, saya berkesempatan mengikuti aktivitas keseharian mereka. 

Memeriksa alat tangkap, memindahnya jika kurang menjanjikan atau hanya memberikan umpan agar harapan dari sebuah proses itu selalu ada. Menurut nelayan yang saya ikuti, keberadaan hutan sangat mempengaruhi jumlah tangkapan. 

Pada hutan-hutan yang terbuka atau terbakar airnya gampang surut sedangkan pada hutan yang masih baik, seperti genangan air rawa, sisi akar pohon, rerimbunan tumbuhan rasau menjadi titik-titik favorit pemasangan alat tangkap.

Aktivitas Nelayan Tradisional Sungai Bangah

Sebangau adalah “rumah besar” 

TN Sebangau adalah kawasan gambut tersisa di Kalimantan Tengah. Bagian Timur dan Selatannya mengalami degradasi hebat oleh kebijakan pembukaan lahan gambut satu juta hektar tahun 1998. 

Berdasarkan literasi, luas TN Sebangau mencapai ±542.141 hektar, saat ini mulai menjadi rumah kondusif bagi 808 jenis flora (LIPI 2005). Data jenis fauna tercatat, di antaranya; 5.828 individu orangutan liar; 172 jenis burung, 75 jenis ikan dan 9 jenis primata endemik kalimantan.

Di Bangah, sepanjang perjalanan saya tidak menjumpai orangutan liar. Jenis primata yang sangat mudah terlihat hanya monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Saat dalam perjalanan dan selama berada di sekitar pos, saya dimanjakan oleh atraksi jenis-jenis burung pemangsa ikan, seperti ; elang; bangau tongtong dan burung cangak merah, ada yang hanya bertengger mengintai ada yang melayang berputar kemudian dengan cepat turun menyambar ikan di sungai.

Sahabat Petualang, jika hobi mengamati burung atau menipu ikan (memancing), Bangah menjadi lokasi yang saya rekomendasikan untuk kalian kunjungi.

Sahabat petualang, Wisata alam itu tidak melulu tentang keindahan alam, wisata alam tidak sama dengan tamasya akhir pekan. Wisata alam merupakan wisata minat khusus karena esensi aktivitasnya berpetualang, mencari pengalaman dan mampu menjadi media pembelajaran. 

Negara kita luar biasa, kita mempunyai gunung, laut, pantai yang sangat indah bentangnya, kita kaya akan keanekaragaman hayati, kita mempunyai budaya dan adab sosial yang sangat orisinil terhadap alam dan lingkungan.

Seluruhnya adalah modal yang menjadi sumber daya bangsa, dapat kita kemas, kita kelola dan kita tata agar berjalan seirama untuk sebuah peluang kesejahteraan. Masa lalu kita pulihkan untuk membangun masa depan yang lebih arif.