Seduhan kopi hitam saset buatan pabrik kapital memang menjadi alternatif mengurai kepenatan. Aroma yang disuguhkan cukup menjadi asupan penenang kegundahan. Terlebih disisipi dengan menyesap tembakau dengan kolaborasi cengkeh secara berimbang buatan pabrik.  Serta menikmati getuk goreng dengan sensasi lelehan gula jawa di dalamnya. Sungguh santapan nikmat pemantik semangat tiada tara.

Meskipun, sekali lagi cita rasa yang diberikan tidak senikmat apabila meneguk kopi Bowongso hasil dari kreasi para petani muda di Wonosobo. Di mana dengan perhitungan masa tanam dan masa panen yang akurat. Serta pengolahan kopi secara manual namun penuh penghayatan. Tentu menghasilkan serbuk kopi pilihan dengan mutu paripurna.

Adapun juga sebenarnya tembakau buatan pabrik tidak senikmat udud tingwe (linting dewe). Di samping harganya lebih terjangkau kita juga dapat berkreasi dalam meraciknya. Nahas keberadaan kopi, tembakau, cengkeh atau bahkan singkong yang dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan getuk sudah dikuasai oleh segelintir orang saja.

Semua produk di atas berhasil dikemas dengan tampilan necis dan dibandrol dengan harga fantastis. Dan terjual laris dengan menumbalkan produk lokal yang samakin pupus dan terkikis. Demikian juga dengan berbagai kelimpahan komoditas pangan atau bahkan pesona alam, tidak bisa tidak turut ikut diambil alih oleh perusahaan multinasional. Ditambah dengan kecanggihan teknologi yang secara kasat mata justru mendepak keberadaan manusia ke pojok jurang hutan belantara.

Kekhawatiran akan persaingan industri global yang secara gradual mematikan perekonomian di tingkat lokal juga berimbas pada terancamnya kesejahteraan masyarakat. Ambil contoh dari tahun 2015 hingga 2018 angka impor tembakau terus mengalami peningkatan. Ironisnya bukan saja ditimpa dengan masifnya impor tembakau tetapi petani juga dihadapkan dengan adanya upaya penanaman varietas tembakau Temanggung di salah satu negara maju. Bayangkan saja ini baru satu jenis komoditas, belum mencakup komoditas potensial lainnya.

Tentu tidak salah jika fenomena tersebut dapat terjadi dan dinormalisasikan karena selaras dengan teori seleksi alam. Di mana seleksi alam menurut sejarahwan bernama Charles Darwin yang berasal dari Inggris tersebut adalah usaha setiap makhluk hidup untuk dapat bertahan dan beradaptasi dalam setiap perubahan zaman. Tidak jauh berbeda dengan seleksi alam pada zaman purba, manusia modern juga menjalani pertempuran untuk bisa bertahan hidup di tengah ekspansi hegemoni dunia.

Namun, persoalan efisiensi serta komodifikasi menjadi tameng pembenaran dalam melakukan hegemoni oleh korporasi kapitalis. Di mana manusia secara bertahap diarahkan menuju kehidupan yang penuh dengan tipuan latar kemasan. Serta tidak luput dari hantaman secara bertubi-tubi dengan berbagai produksi iklan dan kemewahan serba instan.

Sudah barang tentu hal tersebut dilatarbeakangi oleh persaingan kehidupan yang selalu mencari celah memupuk keuntungan. Lebih lanjut, tidak dimungkiri apabila menjual mimpi menjadi sentral dalam proses dunia saat ini. Serta mendapatkan mimpi menjadi ambisi tersendiri yang mesti dupuaskan.

Celakanya persaingan tersebut membawa pada terdegradasinya keberadaan esensi makna, nilai, budaya atau bahkan keyakinan, yang telah sedemikian terepresentasi hingga merabunkan keabsahan batas prioritas kebutuhan dan kepentingan.

Dengan demikian dunia saat ini seakan-akan dapat dianalogikan seperti saset produk makanan. Terlihat anggun, kokoh, dan menggiurkan. Padahal di dalamnya bobrok, cacat dan tercampur senyawa yang membahayakan bagi kesehatan tubuh. Entah komposisi bahan dalam kemasan tersebut sesuai atau tidak, lebih atau kurang, yang kita tahu hanya lah bungkus saset yang penuh enigma.

Keadaan realitas di atas dapat diibaratkan juga sebagai sebuah imagologi. Istilah imagologi sendiri diutarakan pertama kali oleh seorang novelis bernama Milan Kundera, di mana beliau menerangkan bahwasannya media massa sebagai pembentuk imajinasi bersama yang membawa kepada pengakuan kebenaran.

Padahal imajinasi tersebut dihadirkan hanya sebagai upaya menonjolkan citra terhadap sesuatu. Akan tetapi kurangnya nalar kritis dan sikap apatis di tengah masyarakat menjadi saluran pemantik untuk mengukuhkan imajinasi sebagai sebuah kebenaran dalam realitas sosial.

Disadari maupun tidak, kerap kali kita tertipu dengan masifnya pembenaran subjektif tanpa diimbangi kebenaran itu sendiri. Perlu diakui juga, impresi sesaat senantiasa merasuk cepat pada hampir semua lini kehidupan. Seseorang senantiasa memercayai firasat dengan kesan yang justru diciptakan sendiri. Bayangkan saja, bagaimana mudahnya kita menilai personalitas orang secara singkat dari tampilannya atau bahkan tempat asalnya. Lebih diskriminatif lagi kita melihat warna kulit dan sandang yang dikenakan sosok tersebut.

Tidak heran jika banyak manusia di tengah arus modernitas ini terjebak dalam paradoks kemajuan. Mereka berbondong-bondong menggauli budaya asing namun mencampakan budaya negeri sendiri yang mereka anggap; primitif, terbelakang dan ketinggalan trend zaman. Mereka justru berkamuflase menjadi manusia tanpa esensi manusia.

Pada titik ini, manusia sudah semestinya berdaya bukan justru diperdaya dalam membedakan yang penting atau yang nyata. Sehingga memiliki kesempatan untuk tidak terjebak dalam pengejaran tanpa henti akan hal-hal semu, dalam jerat ideologi kapitalisme.

Patologi serta kerancuan akibat maraknya pengagungan imagologi semu tentu akan terus bermutasi. Menjadi anti kapital dan kemajuan teknologi juga bukan pilihan wajib. Akan tetapi bersikap skeptis dan membiasakan berpikir kritis terhadap segala sesuatu dapat menjadi petunjuk ketika mengembara di dunia saset kapital ini.