2 tahun lalu · 310 view · 9 min baca · Politik pater-beek.jpg
Sumber: serbasejarah.wordpress.com

Menyusun dan Menjernihkan Narasi Sejarah Politik

Izinkan saya menceritakan sebuah perjalanan tentang menemukan makna dari seorang kader.

Ada seseorang dalam hidup saya yang berkontribusi pada perkembangan saya sebagai perempuan muda yang wajib memahami politik. Dia adalah ayah saya. Ayah saya adalah seorang kader, dia mantan presidium di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Dia berkecimpung di dunia politik, tetapi nasibnya tidak semulus karir politisi kawakan di layar kaca.

Sejak kecil saya terbiasa mengikuti ayah saya dalam setiap aktivitas politiknya, pergi bertemu teman-teman organisasinya, pergi bertemu teman-teman dalam partainya. Saya biasa mendengar celotehan-celotehan dalam ruang pergaulan ayah saya.

Saya juga terbiasa melihat ayah saya berpidato di atas podium menerikkan kata ‘Merdeka! Merdeka!’ di hadapan kawan-kawannya. Kondisi ini seringkali membuat saya bertanya-tanya, ‘apa sih tugas seorang kader?’, apakah semata memetakan kekuatan untuk memperoleh kekuasaan?

Suatu kali pada hari ulang tahun saya yang ke 19 yang jatuh pada hari Minggu tahun 2011, ayah saya berjanji akan memberikan saya hadiah. Tak dinyana setelah misa, dia berkata, “Papa mau beli dulu buku, buat kamu baca. Buku biografinya Pater Beek.”

Saya pun kebingungan, Pater Beek? Berarti ini pastor dong? Ayah saya ini memiliki sikap seorang nasionalis. Saya hafal betul buku bacaan ayah saya sangat sedikit berbau agama-agama. Baginya, agama dan ibadah adalah ruang privat yang tidak perlu diumbar ke publik.

“Eh, tumben beli buku soal pastor. Memang Pater Beek itu siapa sih?” tanyaku polos.

“Justru karena itu, dia bukan pastor biasa. Dia pastor yang berpolitik. Bingung ya kamu? Dia pastor yang punya peran dalam menjatuhkan Soekarno tahun 65. Pastor ini juga adalah seorang guru kader, makanya Papa penasaran sama dia,” ujar ayah saya. Bersama-sama kami berjalan menuju toko buku rohani samping gereja tempat buku tersebut dijual.

Kader. Kader, dan kader. Kata ‘kader’ itu sudah tertanam dalam benaj saya karena berkali-kali juga ayah saya berkata dirinya adalah ‘kader GMNI’. Sekarang saya harus membaca lagi soal kader.

“Buku ini penting juga buat saya. Soalnya saya juga penasaran soal kebenaran historis bahwa pastor bertangan dingin yang disebut penuh darah ini terlibat dalam G30S membantai orang-orang PKI,” tutur Papa.

Saya hanya manut-manut saja mendengarnya. Dia bersikukuh setelah dia selesai membaca, saya juga harus membaca soal Pater Beek. Menurut ayah saya, sebagai anggota Badan Eksekutif Mahasiswa, saya wajib memiliki pengetahuan sedini mungkin soal kader, soal anak muda dan kewajibannya dalam ruang lingkup kampus hingga ruang lingkup negara.

Layaknya generasi Y pada umumnya yang sangat pragmatis, saya pun mencoba menggoogle sosok Pater Beek. Apa temuan saya? Tidak membahagiakan karena rata-rata yang menulis soal pastor ini ada di blogspot, bukan di sebuah portal berita yang terkenal. Apa isinya?

Secara garis besar informasi yang dimuat di Wikipedia dan blogspot adalah tentang Pater Beek yang ikut menginisiasi berdirinya CSIS (Center for Strategic and International Studies). Selain itu ada beberapa isi blogspot yang menyebutnya sebagai bagian dari Freemason, organisasi zionis Yahudi internasional yang diduga ada di Indonesia sejak 1945 untuk membendung gerakan Islam radikal.

Berdasarkan sumber dari segala blogspot itu, saya menemukan bahwa Pater Beek adalah salah satu pendiri Sekretariat Bersama Golongan Karya, akhirnya melebur menjadi sebuah partai yang kini kita kenal sebagai Partai Golongan Karya alias Golkar. Pater Beek ini juga berkarya pada Biro Dokumentasi yang bertugas meredam potensi pergolakan masyarakat di tengah krisis pemerintahan Soekarno.

Biro Dokumentasi mengumpulkan banyak berkas-berkas untuk menjelaskan kepada masyarakat terkait perbedaan ideologi sosialisme Indonesia yang lahir dari refleksi para pendiri bangsa dengan sosialisme yang dianut PKI.

Salah satu contohnya adalah tentang tujuan sosialisme, dimana sosialisme di Indonesia bertujuan mencapai revolusi Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sementara sosialisme menurut PKI adalah mewujudkan komunisme di Indonesia.

Menemukan banyaknya benturan fakta-fakta itu saya langsung dihampiri perasaan sungkan apalagi dengan penjelasan bahwa pastor ini terlibat secara politis menjatuhkan Soekarno dan menumpas Partai Komunis Indonesia.

Setelah ayah saya selesai membaca buku biografi Pater Beek SJ, gentian sayalah yang membaca buku itu. Ada banyak keterkejutan yang saya temukan pada buku itu, tentu saja kejutan-kejutan yang berbeda dari apa yang saya baca di internet.

Pada cover buku biografi Pater Beek tercantum kutipan dari Beek begini bunyinya; “Menjadi kader berarti menjadi sesuatu yang lain dari yang lain. Keranjingan dalam menjalankan apa yang dipikirkan dalam batas-batas yang ditentukan moral dan etika.”

Buku ini menjabarkan latarbelakang Beek, seorang pria Belanda yang belajar menjadi Imam Yesuit di Kolese Ignatius, Amsterdam dan menjadi Frater Novis Serikat Jesus di Hindia Belanda.

Secara garis besar buku biografi ini juga menjelaskan nas politik seorang Pater Beek yang kontra terhadap komunisme. Buktinya pada 5 November 1965, Beek menulis Surat Terbuka kepada Soekarno menolak komunisme karena berpotensi mencabik hakikat Pancasila. Beek menulis surat itu dengan nama samara yaitu Dadap Waru.

Akhirnya sampailah saya pada bagian dalam buku itu yang membahas soal kaderisasi yang digarap oleh Pater Beek. Sebelumnya, nyaris pada semua artikel di media sosial menyebut kaderisasi itu dalam kajian tentang aksi politik Pater Beek. 

Kaderisasi yang disebut dengan nama Khalawat Sebulan (Khasebul) itu dimulai pada 1966 adalah pendidikan kerohanian yang menitikberatkan pada doa, meditasi, dan pengenalan situasi konkret dalam masyarakat tempat kaum muda akan terlibat. Kaderisasi itu nampaknya selesai setelah Beek wafat, jadi bisa dikata generasi kader Beek adalah mereka yang masuk sebagai generasi baby boomers.

Jadi inilah salah satu bentuk kaderisasi yang menurut ayah saya harus saya ketahui. Tugas ayah saya sebagai pendidik adalah mengantarkan anak-anak muda, termasuk saya anaknya sendiri, dalam pengenalan konkret pada masyarakat tempatnya terlibat. Bukan melakukan pengabaian atas sejumlah permasalahan di sekitarnya.

Mungkin ini maksud ayah saya kepada saya. Bolehlah saya terlibat pada semua kegiatan kampus, bolehlah saya menjadi pemimpin di sejumlah ruang-ruang kerja anak muda, bolehlah saya terlibat pada banyak kegiatan yang menampilkan eksistensi diri saya di hadapan publik.

Namun bukan itu esensinya, tetapi bagaimana saya mempertanggung jawabkan nurani saya dengan tidak melakukan pengabaian atas sejumlah fenomena buruk yang menimpa masyarakat tempat saya hidup, lingkungan, dan alam raya. Lantas apa yang harus saya lakukan, atau bisa saya lakukan?

Buku ini juga menampik bahwa kader-kader Khasebul yang sangat tertutup itu menjadi alat politik Beek menjatuhkan Soekarno dan melawan komunisme.

Saya membaca salah satu kutipan yang dikatakan Beek, begini bunyinya; “Manakah partai yang harus kita dukung?” Pater Beek menjawab, “Terserah kamu, pilih sesuai dengan suara hatimu! Itu tugasmu [kadernya] bukan tugasku!” Kunci dari seorang kader menurut Beek adalah mengenali diri sendiri atau gnothi seauton.

Sekilas membaca cara pembinaan kaum muda oleh Pater Beek malah membubuhkan tanda tanya pada batin saya, apakah para pendidik yang bercongkol di singsana institusi pendidikan masih mau melakukan kegiatan pembentukkan karakter bermental baja seperti yang dilakukan oleh Pater Beek? Saya rasa sudah tidak ada.

Hal ini terbukti dari mudahnya anak muda angkatan saya menggampangkan segala informasi melalui internet ketimbang bersusah payah mencari literatur dan data untuk mengukuhkan penafsiran atas sebuah problem kenegaraan.

Saya memang agak ngeri membaca metode pelatihan dari Beek yang semi militer pada zaman itu. Namun saya mencoba memaklumi karena tantangan yang dihadapi pada zaman itu jauh lebih keras dari yang dihadapi anak muda masa kini. Lagipula, Beek sendiri adalah seorang pastor yang mengalami kerasnya hidup dalam tahanan pada masa penjajahan Jepang.

Usai membaca buku itu, saya dan ayah saya sepakat, sebagai seorang penganut Katolik, kami harus berlapang dada mengakui adanya penolakan dari unsur Katolik terhadap komunisme pada masa itu. Afiliasi politik Beek yang kontra terhadap komunisme seperti halnya sikap kontra dari satu golongan atas ideologi golongan lain tidak bisa digeneralisir bahwa orang Katolik -pada khususnya- sepakat menjatuhkan Soekarno dari singgasananya.

Pada kenyataannya sangat banyak orang Katolik yang juga adalah golongan kiri. Sangat banyak pula orang non Katolik yang juga terlibat dalam rencana melengserkan Soekarno serta ikut menumpas golongan PKI dan non PKI dalam Gestapu 30 September. Kondisi ini membuat saya merefleksikan bahwa kegiatan politik seorang guru kader tidak bisa dicampur adukkan dengan pilihan politis kader bentukkannya.

Setidaknya itulah yang saya alami dalam relasi saya dengan guru kader pribadi saya, ayah saya. Dia tidak memaksa saya ikut jejaknya masuk GMNI, masuk partai, atau apapun. Saya harus menjadi diri saya sendiri. Setidaknya melalui diskusi, buku-buku bacaan saya, keterlibatan pada aksi-aksi yang sesuai dengan hasrat keprihatinan saya, disitulah saya menabur partisipasi guna mewujudkan perubahan.

Saya yakin ayah saya lebih bangga dengan itu semua ketimbang saya memilih abai dan hanya manut pada apapun yang diinginkan orangtua apalagi manut pada keinginan publik. Pesan ayah saya; jadilah orang yang punya prinsip, tidak seperti kutu loncat. Itulah juga yang dilakukan ayah saya; tidak berpindah keyakinannya pada ideologi lain selain Pancasila, marhaen, yang membuat saya memberi dia gelar ‘golongan Soekarnois.’

Belakangan ini narasi sejarah tentang Beek mencuat lagi dalam beberapa surat kabar, salah satunya di Majalah Tempo beberapa tahun lalu. Sekarang narasi itu diperdalam melalui tulisan di website favorit saya, Indoprogress.

Tulisan itu dibuat oleh Made Supriatma yang mengangkat bukti keterlibatan Beek pada jaringan BA SantaMaria di Asia Tenggara. Saya pun lekas-lekas mendiskusikan isi tulisan itu dengan ayah saya karena tulisan Made begitu garang dan membuat perut tergelitik karena fakta-fakta yang diapaparkan. Buat saya tulisan ini hebat dan komprehensif.

Sebagai seorang kader GMNI yang sangat Soekarnois, saya sudah biasa mendengar kritik ayah saya terhadap golongan beragama, baik itu Katolik ataupun Islam, yang menolak sosialisme dan terlibat dalam menumpas PKI. Anehnya kali ini respon ayah saya cukup mengejutkan.

“Papa sudah baca tulisan Made Supriatma? Itu di Indoprogress soal Beek lagi. Lama-lama aku bingung kenapa narasi yang sama harus diulang terus menerus, sehingga indikasi orang Katolik salah terus pada penumpasan G30S,” ungkapku polos.

“Kita melihatnya sederhana saja, jangan judgemental. Setiap orang berhak berpendapat dan menanamkan sendiri kerangka asumsinya. Padahal menurut saya, Beek saat ini bisa dicap bersalah, tetapi pada masa itu yang dilakukan Beek tidak salah.

Setelah saya renung-renungkan lagi, bukankah itu cara seseorang memperjuangkan keyakinannya? Pada masa itu memang ada pilihan pro komunisme atau tidak. Jadi ya sudahlah, lebih baik kita yang tahu kita jernihkan sendiri narasinya seperti apa,” jelas ayah saya.

Memahami politik pada akhirnya bagi saya bukan soal terus menerus menuntut partisipasi politik generasi muda. Memahami politik ditengah suasana masyarakat yang krisis kepercayaan bisa jadi karena kemampuan masyarakat mengingat momen politik terlampau minim.

Kita hanya mengingat janji-janji politik yang tak tercapai, kita tak menanyakan kepada diri sendiri sejauh mana kita menarasikan perjalanan sejarah politik dari banyak kacamata.

Rasanya begitu sia-sia jika kita terus menuntut keterlibatan politik tanpa memahami narasi secara jernih, karena hal itu akan menyebabkan generasi mudah terjebak pada apatisme atau parahnya keterlibatan politik yang populis. Semuanya akibat narasi yang tak lengkap, narasi politik yang tak mau kita cari tahu lebih komprehensif. Keterlibatan politik memiliki ragam rupa, dan itu adalah pilihan bukan paksaan. Sekali lagi, generasi muda, gnothi seauton. Jadilah dirimu sendiri.

Sumber:

Pater Beek: Spindoctor Orba. https://serbasejarah.wordpress.com/2010/03/20/pater-beek-spindoctor-orba/ diakses pertama kali September 2011 kembali diakses pada 4 Oktober 2016

Menimba Semangat Penggagas Golkar, Pater Beek SJ. Sesawi.net. http://www.sesawi.net/2011/07/08/menimba-semangat-penggagas-golkar-pater-beek-sj/ diakses pertama kali September 2011 dan diakses ulang pada 4 Oktober 2016

Soedarmanta, J.B. Pater Beek SJ: Larut Tetapi Tidak Hanyut. 2009. Penerbit OBOR. Jakarta

Supriatma, Made. Kamerad Dalam Keyakinan: Pater Joop Beek, SJ dan Jaringan BA Santamaria di Asia Tenggara. http://indoprogress.com/2016/09/kamerad-dalam-keyakinan-pater-joop-beek-sj-dan-jaringan-ba-santamaria-di-asia-tenggara/ diakses pada 1 Oktober 2016

Wikipedia. Josephus Gerardus Beek. https://id.wikipedia.org/wiki/Josephus_Gerardus_Beek diakses pertama kali pada 2011 dan diakses ulang pada 4 Oktober 2016

#LombaEsaiPolitik

Artikel Terkait