Kertas lembaran tipis yang menjadi ikon ilmu pengetahuan dan pemikiran, karena kertas menjadi salah satu media penting untuk mengarsipkan semua bentuk kejadian, mulai dari ide, konsep berpikir, konsep ilmu sampai mencatat perilaku dan kejadian dalam setiap detik kehidupan. 

Walau sepintas kertas seperti pupus tergilas oleh dunia elektronik—semua tulisan Berubah dalam bentuk dunia maya : e-book, e-mail, medsos, bahkan uang kertas berganti jadi e-money—namun tetap ada, bahkan dalam banyak hal khusus kertas tak tergantikan. 

Harus tetap diakui, bagaimanapun majunya teknologi, kertas tetap menjadi produk yang sangat penting. Begitu pentingnya  kertas dalam kehidupan sehari-hari, maka masyarakat akan sulit rasanya untuk benar-benar meninggalkan kebutuhan akan  kertas.

Dengan meningkatnya teknologi hendaklah tidak mengurangi kebutuhan terhadap kertas, bahkan sebaliknya, kertas tidak hanya dibutuhkan dalam bidang tulis menulis, bahkan kebutuhan sehari-hari yang tidak ada kaitannya dengan bidang tulis-menulis. 

Kertas dapat digunakan untuk keperluan lain yang sebenarnya mempunyai nilai lebih dari sekedar fungsi alaminya. Misalnya untuk mengemas makanan kertas lebih ramah lingkungan dibandingkankan dengan plastik, atau untuk membawa barang-barang, bahkan kertas dapat dikreasikan menjadi aksesoris.

Begitu tingginya apresiasi terhadap karya Cai Lun (Tsai Lun) ini, sejak tahun 105 M dimana ia pertama kali ditemukan, kertas semakin mengalami inovasi dan kreasi, sehingga perkembangan kertas  maju dengan pesat. 

Seperti  di zaman Dinasti Han, kertas sudah mampu mendongkrak ekonomi penemunya bahkan menjadikannya seorang pengusaha besar, maka di era milenial penggunaan kertas ini semakin membanggakan dan menguntungkan bagi masyarakat terutama dibidang industri kertas. 

Tidak hanya secara personal  dapat menambah keuntungan, tetapi secara global dapat menambah devisa negara terutama negara-negara yang berkecimpung dalam industri kertas. Indonesia salah satu negara besar di dunia, juga tidak ketinggalan dalam hal ini. Mengingat banyak sekali pabrik-pabrik  yang memproduksi kertas. Baik berupa kertas siap pakai atau berupa buku.

Efek tingginya penggunaan kertas akan jelas terjadi, terlepas dari dampak secara langsung atau tidak langsung. Karena dalam setiap aktifitas kehidupan pasti menimbulkan dampak sesuai dengan banyaknya aktifitas tersebut. 

Misalnya jika masyarakat banyak menggunakan plastik maka akan menimbulkan sampah plastik. Begitu juga jika kita menggunakan kertas secara otomatis sampah kertas juga akan meningkat.

Penanganan sampah dari kertas cukup mudah, secara umum penanganan sampah kertas di masyarakat awam cukup dengan dibakar. Karena kertas berbahan alami sellulosa atau pulp jadi cukup mudah untuk dibakar, walapun dalam skala tinggi pembakaran  dapat menimbulkan masalah baru yang berkaitan dengan lingkungan. 

Cara lain yang termasuk mudah kertas cukup dibuang dan dibiarkan begitu saja, hingga kertas akan terdegradasi secara alami oleh mikroba penggurai. Begitu mudahnya mengelola dan menanggulangi sampah kertas menjadikan orang “sedikit malas” untuk memikirkan cara lain yang lebih bermanfaat.

Di tengah banyaknya kontroversi  mengenai cara menanggulangan sampah kertas ini, salah satu solusi yang lebih ekonomis dan tidak menimbulkan efek pencemaran lingkungan adalah dengan menciptakan kreatifitas yang tinggi dalam pengolahan sampah kertas. 

Tentu daya kreatifitas seseorang sangat bervariasi, mulai dari hal-hal yang sederhana, seperti membuat mainan anak-anak dari kardus bekas, membuat aksesoris, bahkan membuat buku atau bahan bacaan dari kardus bekas.

Salah satu kreatifitas yang cukup unik yang menggunakan bahan sampah kertas yaitu membuat replika tanduk rusa yang dilakukan oleh seorang warga Pekon Mutar Alam kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat. Bapak Agus Sulaeman,  mampu menyulap kertas bekas menjadi barang hiasan yang unik dan elegan, yaitu replika tanduk rusa.

Sebagaimana banyak diketahui bahwa tanduk rusa mempunyai bentuk yang unik dibandingkan tanduk hewan lain. Tanduk rusa menjadi benda langka dan bernilai tinggi yang dapat meningkatkan citra dan prestise tersendiri bagi pemiliknya, sehingga hiasan tanduk rusa ini sangat mahal—tanduk rusa asli bisa mencapai harga 4 juta rupiah—dan  sulit di dapat. 

Banyak mitos yang berkaitan dengan tanduk rusa, mulai kasiatnya dalam
 menjaga stamina tubuh sampai aura mistis bagi pemiliknya. Tingginya minat terhadap tanduk rusa menjadikan hewan pemakan rumput ini terus diburu, sehingga hewan ini terancam punah. 

Tindakan prepentif pada hewan ini dengan meluncurkan UU No 5 tahun 1990 mengenai konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya. Dengan undang-undang tersebut masyarakat tentu tidak akan mudah dapat memiliki tanduk rusa.

Melalui proses dan cara yang cukup sederhana, kertas-kertas bekas yang sudah tidak berguna dapat disulap menjadi replika tanduk rusa yang sulit dibedakan dengan tanduk rusa asli.

Tentu saja  berbagai tambahan bahan-bahan alami lainnya, seperti serat tumbuhan paku-pakuan, kulit buah dari sejenis tanaman labu, buah rotan dan lem kayu serta cat atau bahan pengawet lainnya sangat dibutuhkan dalam pembuatannya. Tentu saja keuletan dan jiwa seni dalam pembentukannya menjadi modal utama dalam mencipta sebuah karya yang kreatif.

Replika tanduk rusa yang dibuat Pak Agus cukup memancing minat masyarakat, namun sayangnya produksi replika tanduk rusa tersebut belum maksimal. Beberapa kendala yang membuat produksi replika tanduk rusa ini terhenti adalah kurangnya pengelolaan dan manajemen pemasaran yang kurang baik.

Karya yang sangat unik ini jika terus dikembangkan akan bernilai jual tinggi dengan harga yang bersaing. Selain itu hal yang paling utama adalah untuk mengedukasi pola pikir masyarakat terhadap sampah kertas. Yakni sampah kertas tidak hanya dibuang atau dibakar begitu saja, tetapi bisa dijadikan sesuatu yang lebih bermanfaat, bahkan bisa meningkatkan penghasilan keluarga. Namun hal itu dapat diwujudkan jika kreatifitas tersebut didukung oleh semua pihak.

Ujung tombak penggerak pengelolaan sampah kertas sebenarnya adalah pihak produsen kertas itu sendiri, karena pihak produsenlah yang tahu persis jumlah kertas yang diproduksi. Seberapa besar jumlah kertas yang diproduksi akan linier dengan jumlah sampah kertas yang dihasilkan. 

Misalnya dalam 1 tahun produksi kertas mencapai 40 ton, maka dapat dibayangkan sampahnya juga akan berkisar diangka tersebut. Apabila semua sampah kertas itu hanya dibakar, tentu andilnya akan cukup besar dalam pencemaran udara. 

Tetapi bila sampah tersebut di daur ulang sehingga menjadi benda-benda yang bermanfaat, maka dapat dipastikan sampah kertas tidak akan menjadi masalah. Bahkan sebaliknya dapat membuka peluang kerja baru bagi masyarakat dan dapat meningkatkan ekonomi keluarga.

Dimasa yang akan datang hendaknya para produsen kertas dapat menjadi motor penggerak yang utama bagi masyarakat untuk mengelolah sampah kertas. Lebih jauh lagi alangkah baiknya jika para produsen dapat memfasilitasi masyarakat baik dari segi sarana dan prasarana maupun dari segi manajemen pengelolaan dan pemasaran. Terutama masyarakat yang mempunyai daya kreasi yang tinggi dalam mengelola sampah kertas.

Mengubah pola pandang terhadap sampah kertas adalah tugas bersama, terutama produsen kertas dan masyarakat umum selaku konsumennya. Apabila semua pihak mempunyai andil yang tinggi dalam upaya mengelola sampah kertas ini, maka dapat dipastikan di masa yang akan datang “kehidupan kertas” akan terus bergulir.