Penulis
3 bulan lalu · 87 view · 3 menit baca · Lingkungan 11759_81175.jpg
CHIP, CSR Partner of PT Indah Kiat Pulp & Paper Serang Mill

Menyulap Limbah Kayu Jadi Emas

Dilihat dari sudut pandang kebanyakan orang, limbah tidak memiliki nilai khusus untuk mendapatkan manfaat bagi lingkungan sosial. Malah, limbah akan merusak keindahan lingkungan itu sendiri. 

Ambil contoh saja, limbah rumah tangga, seperti bekas sabun cuci, sampo, dan sampah-sampah plastik lainnya, yang mencemari Kali Sentiong di Jakarta. Itu membuatnya mendapat julukan khusus, yakni Kali Item, karena kalinya berwarna hitam dan baunya busuk.

Selain limbah rumah tangga, limbah yang paling ditakuti oleh masyarakat adalah limbah industri. Karena limbah industri dapat mencemari udara, air, dan bisa saja membawa pada pemanasan global.

Sudut pandang tersebut membuat limbah dinilai sebagai momok bagi penduduk sekitar dalam kehidupan sosial. Karena limbah bisa menjadi faktor penyakit di masyarakat.

Maka dari itu, industri-industri yang berada di lingkungan penduduk harus mengantongi izin lingkungan seperti yang tertera dalam UU Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan yang disesuaikan dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Namun, jika limbah dapat diolah dengan baik, itu persoalan lain. Karena limbah yang diolah oleh industri atau masyarakat dapat memperkecil dampak yang dihasilkan oleh limbah.


Senin (25/2) pagi, saya menyambangi salah satu perusahaan yang mampu mengelolah limbah dengan baik, yaitu PT Indah Kiat Pulp & Paper Serang Mill (Indah Kiat Serang). Perusahaan tersebut menjadikan limbah sebagai bahan pokok pembuatan kertas, seperti kardus kemasaan TV yang diolah dari limbah kertas dan kardus.

Dari sini saya mendapatkan sudut pandang yang berbeda mengenai limbah. Tidak semua limbah merugikan untuk lingkungan kita. Melihat dari sudut pandang mereka, limbah bisa menjadi ladang emas untuk menyejahterakaan 4.000 karyawan yang bekerja di Indah Kiat Serang.

Selain karyawan, anak APP Sinar Mas ini pun ikut menyumbang keuntungan bagi perekonomian Indonesia terhadap PDB sebesar 0,71 persen. Juga terhadap devisa negara sebesar 5,7 miliar dolar AS pada tahun 2017.

Indah Kiat Serang yang berlokasi di Jl. Raya Serang - Jakarta, Kragilan, Serang, Banten tidak berhenti menunjukkan manfaat untuk publik. Mereka menunjukkan bahwa perusahaan tersebut pun dapat membantu kehidupan masyarakat sekitar dengan beberapa program Corporate Social Responsibility (CSR).

Seperti pembuatan kursi dan meja sekolah untuk beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Serang, ia dibuat dari kayu bekas peti kemas. Kemudian ada pula Mitra Kreasi yang fokus menciptakan souvenir dari limbah kardus. Ada pula CHIP Handicraft yang memanfaatkan limbah kayu, sisa pembuatan meja kursi sekolah untuk membuat souvenir.

CHIP Handicraft merupakan mitra yang termuda dan ter-wow. CHIP berkreasi dari limbah kayu yang dulunya dibuang begitu saja oleh perusahaan dan diambil oleh masyarakat sekitar sebagai kayu bakar. 

Kreasi yang membuat Dani Kusumah, penanggung jawab CSR di Indah Kiat Serang, tertarik adalah ketika Herman memberikan contoh kandang burung. Dari situlah Dani membuat tantangan kepada Herman untuk membuat kerajinan seni lainnya.


Kerajinan yang dibuat oleh CHIP berupa gantungan kunci, miniatur kapal dan pesawat, miniatur ikon daerah, aneka lampu hias, bingkai foto, tempat tisu, piala, jam dinding, hingga tempat sauna dan booth pameran.

Adapun harga jual barang bervariasi, mulai dari gantungan kunci seharga Rp5.000, photo on wood seharga Rp250.000, hingga tempat sauna seharga Rp30.000.000.

Ya, itu semua terbuat dari limbah kayu yang dianggap sebagai sampah bagi kebanyakan orang. Tapi bagi Herman (36), pemuda asal Desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, Serang Timur, Banten, dipandang sebagai ladang emas.

“Jika souvenir ini dibuat dengan bahan baku yang utuh itu tidak ada istimewanya, tapi mereka (CHIP) menjadikan souvenir ini istimewa karena terbuat dari poyongan kayu yang tidak beraturan dan bisa dianggap sebagai sampah atau hanya sebagai kayu bakar saja. Di situlah istimewanya CHIP,” ujar Dani.

Keistimewaan itu juga membuat kehidupan Herman dan 11 rekannya berubah. Karena omset yang didapatkan sungguh luar biasa. Dahulu CHIP hanya bisa mendapatkan Rp15.000.000 hingga Rp20.000.000 per bulan. Kini bisa mencapai Rp50.000.000 hingga Rp100.000.000 per bulannya.

Dari potongan-potongan kayu tersebut, CHIP mendapatkan penghargaan langsung dari Siti Nurbaya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Kementerian LHK juga pernah memesan secara khusus 200 photo on wood sebagai cendera mata untuk delegasi acara The Fourth Intergovernmental Review on Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Landbased Activities (IGR-4) di Bali tanggal 31Oktober - 1 November 2018.

Sudut pandang ini membuat kita sadar bahwa semua limbah tidak pantas untuk dibuang begitu saja. Ada cara lain untuk memanfaatkan limbah tersebut agar dapat menyejahterakan masyarakat.


Herman dan rekan-rekan lainnya di CHIP memberikan contoh yang berharga bagi kita. Dari modal hobi dan peralatan seadanya, mereka bisa menyulap limbah kayu yang dianggap sampah menjadi pundi-pundi yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. 

Semoga ini menjadi lecutan bagi setiap orang untuk selalu melihat sudut pandang yang berbeda dari suatu objek dengan kemampuan yang dimiliki.

Artikel Terkait