Ada apa dengan bahan bakar fosil ?

“ Transisi energi mutlak dilakukan. Kita masih memiliki banyak sumber energi yang belum termanfaatkan, ."

Begitulah perkataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pada tahun 2020 yang lalu. Ia menyebutkan bahwa bahan bakar fosil di Indonesia diperkirakan habis dalam 9 tahun kedepan jika tidak ada energi terbarukan yang dapat menggantikannya.

Belakangan ini terjadi kelangkaan bahan bakar fosil dikalangan masyarakat, kelangkaan bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak bumi yang jika digunakan terus menerus maka ketersediaan bahan bakar tersebut akan habis. Hal tersebut dikarenakan bahan bakar fosil sangat terbatas dan tidak termasuk kedalam golongan energi terbarukan.

Adanya pertumbuhan populasi penduduk dan terus menipisnya sumber cadangan minyak dunia mengakibatkan pemakaian energi terus meningkat. Selain itu terdapat faktor pendorong yang dapat meningkatkan tingginya konsumsi bahan bakar fosil yaitu banyaknya penggunaan mesin industri dan transportasi penunjang yang biasanya masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai bahan penggeraknya.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2019 produksi minyak bumi mencapai sekitar 20 ribu, bahkan terjadi penurunan pada tahun 2020 yaitu menjadi sekitar 14 ribu. Disamping menurunnya produksi minyak bumi, pemakaian energi tetap mengalami peningkatan dari tahun ke tahun terutama untuk Bahan Bakar Minyak (BBM). Maka dari itu harga minyak bumi mengalami ketidakstabilan yang seharusnya kita sadar bahwa jumlah cadangan minyak yang terdapat dibumi akan semakin menipis.

Minyak bumi merupakan salah satu bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui. Oleh karena itu, kita harus memikirkan bahan bakar penggantinya. Kita memerlukan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar tak terbarukan saat ini. Salah satu sumber energi terbarukan yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil adalah bioetanol, yang diyakini dapat menggantikan bahan bakar fosil yang ada saat ini.


Bioetanol, Untung atau buntung ?

Bioetanol adalah termasuk salah satu energi terbarukan yang ramah lingkungan. Produk bioetanol dapat dibuat dengan menggunakan berbagai jenis tumbuhan dan bahan  bahan lainnya yang dapat diperbaharui, sehingga kita tidak perlu khawatir akan terjadinya kelangkaan dari bahan bakar bioetanol ini. Asalkan bahan tersebut memiliki kandungan pati/glukosa, maka bahan tersebut bisa diolah untuk dijadikan produk bioetanol.

Salah satu jenis bahan yang dapat digunakan sebagai penghasil bioetanol adalah nangka. Kita bisa mengambil kulitnya karena mengandung pati atau glukosa yang lumayan tinggi didalamnya. Walaupun tidak setinggi dibanding bahan lainnya ,seperti bonggol pisang, kulit nangka ini tetap memiliki potensi untuk diolah menjadi bioetanol. Dengan memanfaatkan kulit nangka sebagai bahan baku bioetanol, ternyata tidak hanya mengatasi kelangkaan bakar fosil saja loh !!.

Kulit nangka merupakan bagian buah nangka yang sering dibuang dan menjadi limbah karena masih sedikit sekali produk olahan yang memanfaatkan kulit nangka sebagai bahan bakunya yang disebabkan oleh pengetahuan masyarakat dalam pengolahan limbah kulit nangka tersebut. Penggunaan kulit nangka diyakini dapat mengurangi limbah kulit nangka yang terus meningkat.

Kulit nangka mengandung karbohidrat yang terdiri dari glukosa, fruktosa, sukrosa, pati, serat, dan pektin dengan jumlah sekitar 15,87% dan protein 1,30%. Selain itu, kulit nangka ini juga mandungan selulosa sebesar 38,69%. Karena kandungan yang ada pada kulit nangka tersebut (terutama glukosa), menandakan bahwa kukit nangka ini memiliki kemungkinan dapat dijadikan sebagai bahan dasar dalam pembuatan bioetanol. Pencampuran ekstrak kulit nangka diharapkan semakin banyak karbohidrat yang tersedia sehingga proses enzimatis yang dilakukan dapat menghasilkan bioetanol dalam jumlah yang banyak.


Bagaimana caranya ?

Bioetanol adalah salah satu produk yang dapat dibuat dengan memanfaatkan proses ekstraksi  dengan hidrolisis dan fermentasi. Limbah kulit nangka terlebih dilakukan pengeringan dengan menggunakan oven. Setelah kering, selanjutnya limbah kulit nangka tersebut dihidrolisis. Proses hidrolisis dapat dilakukan dengan 2 metode berbeda. Dapat menggunakan metode hidrolisis asam atau hidrolisis enzimatis.

Pada metode hidrolisis asam, kita dapat menggunakan salah satu dari bahan asam seperti H2SO4, HCl, atau asam perklorat. Namun metode hidrolisis asam ini memiliki kelemahan berupa terbentuknya produk samping yaitu limbah yang juga bisa mempengaruhi serta menghambat proses pembentukan bioetanol yang dilakukan.

Pada metode enzimatis ini kita dapat menggunakan enzim berupa alfa-amilase serta gluko-amilase. Enzim alfa-amilase digunakan pada proses likuifikasi dan dilanjutkan dengan menggunakan enzim gluko-amilase yang disebut dengan proses sakarifikasi, sehingga kita mendapatkan monosakarida berupa glukosa atau gula.

Glukosa atau gula yang telah kita dapatkan pada proses hidrolisis, proses selanjutnya adalah berupa fermentasi dari gula tersebut. Fermentasi ini digunakan mikroorganisme berupa khamir seperti Saccharomyces cerevisiae. Penggunaan khamir tersebut agar kita mendapatkan enzim invertase yang berfungsi untuk mengubah monosakarida dari hasil hidrolisis yaitu glukosa menjadi bioetanol dan karbondioksida. Barulah kita dapat melakukan destilasi untuk mengambil bioetanol yang didapatkan.


Energi kian hari kian menipis. Diperlukannya cara untuk menggantikannya. Salah satunya adalah dengan membuat bioetanol menggunakan bahan yang mengandung pati. Tidak hanya bioetanol, masih banyak cara lain untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Dengan menggunakan energi terbarukan, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan bahan bakar saat ini. Sehingga kita harus terus berinovasi dengan berbagai macam cara lainnya, untuk masa depan yang lebih baik lagi.