1 bulan lalu · 75 view · 3 min baca menit baca · Politik 73885_18682.jpg

Menyontek adalah Bagian dari Korupsi

Menyontek adalah kata kerja dari ‘sontek’ yang mempunyai arti menguntip atau menjiplak suatu tulisan. Sedangkan korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara atau perusahaan untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Di Indonesia sendiri menyontek dan korupsi sudah seperti mendarah daging dalam jiwa masyarakatnya, baik yang masih anak-anak maupun dewasa.

Mengapa demikian? Apa hubungan antara menyontek dengan korupsi? Apakah korupsi bersifat sama dengan mencuri? Menyontek di Indonesia merupakan salah satu kebiasaan buruk bagi rakyatnya. Dari mulai pendidikan dasar hingga di perguruan tinggi pun tidak lepas dari kebiasaan menyontek.

Banyak hal yang menjadi faktor mengapa seseorang bisa menyontek, salah satunya adalah ingin terlihat berada atau bisa juga disebut ingin dilihat hebat oleh seseorang. Faktor ini menyebabkan seseorang kurang percaya diri dalam melakukan sesuatu, mereka selalu ingin menjadi nomer satu entah dengan bagaimana caranya.

Di Indonesia sendiri masih banyak ditemui karakter-karakter orang yang selalu ingin dipandang, baik dari segi kepandaian, kekayaan materi, jabatan, dan lain sebagainya. Tetapi tidak semua orang mendapatkannya dengan cara yang benar. Mereka akan melakukan segala cara agar mereka bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan, seperti ingin dipandang pintar, dipandang kaya, dipandang sukses, dan lain-lain. 

Dari sifat inilah muncul rasa ingin melakukan kecurangan agar lebih mudah mendapatkan apapun yang mereka inginkan. Hal ini terjadi dimulai dari kalangan sekolah, universitas, maupun masyarakat. Semua pasti dimulai dari kalangan kecil, lalu menyambar ke kalangan yang lebih luas. 

Korupsi contohnya, tidak mungkin kecurangan sebesar ini dilakukan oleh orang yang tidak pernah melakukan kecurangan-kecurangan kecil. Kecurangan-kecurangan kecil disini salah satunya adalah menyontek. Mengapa menyontek? Menyontek adalah kecurangan kecil yang sangat sering dilakukan oleh seseorang, hampir semua orang pernah melakukan kecurangan ini.

Lalu apa hubungannya menyontek dengan korupsi?. Jika seseorang terbiasa melakukan kecurangan, walaupun kecil, di masa yang akan datang dia tidak akan takut melakukan kecurangan lagi walau itu termasuk kecurangan yang besar. Hal ini terjadi karena mereka telah terbiasa dan mereka telah mengetahui bagaimana cara agar mereka bisa melakukan ini dengan baik tanpa diketahui oleh siapapun.

Jadi, tidak heran jika di Indonesia sendiri masih ditemukan banyak sekali koruptor-koruptor karena budaya menyontek di Indonesia masih sangat tinggi. Dilihat dari pandangan beberapa siswa, Indonesia sendiri tidak terlalu mementingkan bagaimana proses mereka. 


Indonesia lebih melihat dari hasilnya saja. Seperti contoh, siswa diwajibkan mengikuti UNBK agar dapat diketahui batas kemampuan dari siswa tersebut. Batas kemampuan disini hanya didasari dari hasilnya saja, jika nilai siswa bagus maka siswa dianggap mampu, jika nilai siswa kurang bagus maka siswa dianggap kurang mampu. 

Karena inilah banyak siswa di Indonesia lebih memilih mencari kunci jawaban dari joki agar mereka bisa mendapatkan nilai yang baik dengan tanpa susah payah. Memang pemerintah sudah melakukan upaya yang sangat keras untuk menanggulangi masalah ini, butuh waktu untuk menuntaskan masalah ini. 

Karena bagaimana pun upaya untuk mengatasi masalah ini, tidak akan terselesaikan jika yang bersangkutan tidak mau merubah dirinya sendiri. Banyak siswa yang sesungguhnya tidak tergoda dengan tersebarnya kunci jawaban, namun keadaan yang memaksa mereka, rasa gengsi yang mendorong mereka untuk melakukan semua itu.

Siswa tidak sepenuhnya salah, karena siswa melakukan ini semua hanya semata ingin masuk sekolah favorit. Karena apa? Karena sekolah favorit hanya menerima murid yang pintar pintar saja. Jika lembaga pendidikan hanya menerima siswa yang pintar dan cerdas saja, lalu apa tujuan dari pendidikan itu sendiri? 

Tujuan pendidikan Indonesia adalah memintarkan yang kurang pintar, memberi mereka wawasan, dan sebagainya. Lalu jika yang diterima hanyalah siswa yang mempunyai nilai IQ tinggi misalnya, atau yang selalu mendapat peringkat di kelas, tujuan mereka tidak lebih dari membesarkan nama sekolah.


Sehingga mereka yang pintar semakin pintar, dan yang bodoh semakin bodoh. Ini semua berkaitan dengan pendidikan karakter. Sampai kapan Indonesia begini? Dengan segala pergantian kurikulum yang tidak mempermudah dan malah mempersulit. Dan dampaknya adalah hal ini memacu siswa untuk melakukan kecurangan, dan sekali mereka melakukan kecurangan lalu berhasil. 

Maka seterusnya mereka akan melakukan hal yang sama dengan mempelajari dari pengalaman sebelumnya. Jika dari dini mereka sudah terbiasa melakukan kecurangan-kecurangan, tidak bisa dipungkiri bahwa kelak jika mereka dewasa pun mereka mancapai sukses mereka dari kecurangan pula. 

Ini karakter yang sangat tidak sehat, sehingga banyak sekali kasus korupsi di Indonesia. Lalu bagaimana cara menanggulangi kasus korupsi di Indonesia? Perbaiki generasi mudanya, bangun karakter generasi mudanya. Karena penentu Indonesia esok hari adalah para generasi muda. Selama generasi muda Indonesia masih menyontek, jangan harap masalah korupsi di Indonesia bisa terselesaikan.

Artikel Terkait