Dalam sebuah medsos, seorang teman menulis status yang cukup menggelitik. Petikannya seperti ini:

Saya memang orang yang paling konsen dengan hasil cetakan. Bahkan saya hanya percaya dan menggunakan percetakan yang bonafide dan berkualitas untuk mendukung produk2 hasil kerja team saya. Buku dan majalah bila diibaratkan seorang gadis adalah mukanya. Tentu kita akan menampilkan kesan pertama yang enak dilihat dan memukau kan? Nah, itulah kesan hasil cetakan.                                                                                                                             Namun malam ini saya dibuat terkaget2 ketika harus menghubungi bbrp percetakan besar dan percetakan kualitas terbaik sudah tutup. Ada juga ini percetakan besar yang siap2 tutup dan sedang ngitung pesangon karyawannya. Dan tragisnya lagi ada dua percetakan besar yang sudah menjual mesin cetaknya. Kini yang masih eksis justru percetakan2 kecil dengan mesin kecil.  (status fb RR –pengusaha muda- 5/12/2017; 21.57) – tampilan petikan sudah seizin yang empunya status-pen.

       Mencermati konten status di atas, terbelalaklah mata kita bahwa ternyata sekarang ini era percetakan tengah menuju lonceng kematian. Sadis! Ngeri! Tanda-tanda yang nyata tampak di depan mata. Artinya zaman keemasan produk cetak-mencetak dengan media kertas akan segera berlalu. Coba simak beberapa komentar yang menanggapi status di medsos tadi.

Zaman peralihan ke arah serba digital menuju era “nirkertas” 

● Saiki aku wis lali kapan terakhir moco koran, mbukak majalah (komentar dalam bahasa  Jawa, yang artinya: Sekarang saya sudah lupa kapan terakhir membaca koran, membuka majalah)

       Orang yang bergerak di dunia cetak, rasanya perlu berlatih sabar dengan gerutuan sewajarnya bolehlah, lantaran kini tengah memasuki suatu babakan baru yang menuntut dan memaksa bahwa kertas tak lagi dibutuhkan. Sebelum era sekarang atau kerap disebut “zaman now”, reputasi kertas dan mesin cetak serta hasil cetakannya sempat mengenyam zaman keemasan. Namun, kini keadaan itu bergeser ke arah yang lebih canggih dan dahsyat, sekaligus membawa konsekuensi perubahan yang signifikan.

Kenyataan Sekarang

       Sekarang orang tak lagi menulis surat di lembaran kertas, yang dikemas sedemikian rupa dan dimasukkan rapi ke dalam amplop lalu dilem, ditempeli perangko dan dikirim via pos. Tentu saja kantor pos mendadak sepi untuk layanan surat berperangko. Cara seperti ini yang telah sekian waktu begitu familier dalam aktivitas keseharian, kini benar-benar ditinggalkan lantaran perkembangan teknologi yang spektakuler. Sebagai gantinya adalah e-mail atau surat elektronik, yang jauh lebih praktis, simpel, dan tanpa perangko. Tinggal klik dengan ujung jari, surat itu sudah terkirim dalam hitungan detik. Bahkan data lampiran seperti gambar atau foto jika memang diperlukan, turut pula terkirim ke alamat yang dituju. Sebuah realita transformasi dahsyat karena campur tangan kemajuan teknologi. Produk teknologi yang pada masanya berjaya, pada suatu masa di kemudian hari akan tergusur dan tergeser oleh sistem teknologi yang lebih baru.

       Di ranah teknologi percetakan dan keredaksian (penerbitan) media cetak seperti koran atau surat kabar, majalah, tabloid, dan juga buku terjadi lompatan perubahan yang luar biasa. Kejayaan teknologi percetakan tersebut benar-benar tengah terancam tak lagi digunakan. Lihat saja, tiras atau oplah media cetak umumnya terjun bebas menurun drastis. Pada sebuah komentar atas contoh status medsos di awal tulisan ini, pun dilontarkan: “Sekarang saya sudah lupa kapan terakhir membaca koran ….” Betapa media cetak yang pernah berkibar dan berjaya, kini tak lagi dilirik publik. Di tingkat agen atau pengecer, kini tak ada lagi pembeli. Sungguh ironis efek perubahan dari bergulirnya suatu produk teknologi. Oplah yang terjun bebas tadi berbanding lurus dengan merosotnya omzet yang sangat berpengaruh pada cash flow.

       Memang betul, beberapa industri media cetak masih bertahan dengan menghela napas keprihatinan. Namun, perusahaan media cetak yang tanggap dengan fenomena ini, segera bergegas memindahkan mindset sistem konvensional ke sistem digital, sehingga bisnis bidang medianya itu tetap eksis meski berubah wajah dengan penyesuaian di sana sini. Perusahaan media cetak yang tidak siap dengan perubahan dahsyat tersebut, akhirnya terengah-engah, kolaps, dan gulung tikar. Setali tiga uang terjadi pula di penerbitan buku. Penerbit konvensional banyak yang menyerah, tapi yang sigap sudah mengantisipasi dengan menjual produk e-book.

       Dulu hingga hari kemarin, media cetak ramai berkompetisi memunculkan berita yang lagi menyedot perhatian publik dengan sebutan headline.  Harian A, misalnya, menurun-kan headline berita politik yang lagi hangat-hangatnya. Sementara tabloid Z menampilkan liputan mengenai sosok artis yang terjun ke dunia politik sebagai balon (bakal calon) gubernur, dan seterusnya. Lazimnya berita utama itu ditaruh di halaman muka atau depan. Namun, apa yang terjadi sekarang? Hari ini, sayup-sayup headline mulai terlupakan sekaligus tergusur dengan istilah viral di media digital. Viral berarti konten berita atau info yang banyak mendapat tanggapan dan perhatian kalangan nitizen (pengguna internet). Biasanya nitizen memberi tanda suka atas berita tersebut, sebagian di antaranya malah menulis komen(tar) langsung. Nyatalah kini bahwa headline telah tergulung oleh viral.

       Realita keseharian menunjukkan, ketika dua-tiga orang terlibat bincang-bincang santai, atau interaksi komunitas yang melibatkan orang banyak, di situ sering terdengar ungkapan: “Ini loh.., lagi viral.” Orang yang melontarkan ungkapan tersebut biasanya sambil menunjukkan telepon seluler pintar yang dalam posisi online. Inilah sebuah keniscayaan zaman, yang mau tidak mau atau suka tidak suka, akan terus menghiasi kehidupan kita sekarang ini.

Menyikapi Perkembangan

       Efek perkembangan dan perubahan dahsyat di dunia cetak (keredaksian) seperti ini, bisa disikapi melalui dua sisi. Ada sisi keuntungan atau keunggulan, serta sisi kerugian di sisi yang lain. Keuntungan yang paling dominan adalah bahwa di era digital terpangkas prosedural mata rantai yang lebih singkat pada industri cetak. Tak lagi diperlukan mesin cetak dan kertas. Percetakan kok tak memerlukan kertas dan mesin cetak. Lho kok bisa? Sungguh aneh tapi nyata. Soalnya produk yang dijual bukan lagi sesuatu konten yang bermediakan kertas berbentuk cetakan, tetapi berganti digital yang menggunakan sistem online atau internet. Tak ada lagi hasil cetak.

      Demikianlah, maka fokus aktivitas tercurah di bagian keredaksian versi digital karena produk itulah yang akan dijual secara online. Out put-nya berupa sajian aneka berita dan informasi yang dapat diakses via perangkat elektronik seperti laptop, notebook, netbook, tablet, atau telepon seluler smart (pintar) yang tersambung dengan fasilitas internet.

       Keuntungan lain adalah hutan yang memproduksi kayu sebagai bahan baku pembuatan kertas, menjadi  lebih terpelihara secara ekologis karena frekuensi penebangan berkurang. Sebagaimana dimafhumi, bahwa kertas diproses dari tanaman kayu yang dilebur menjadi bubur pulp, kemudian direkayasa sedemikian rupa sehingga dihasilkan berbagai jenis kertas dengan kualitas yang beragam. Berkurangnya penebangan berdampak pada ekosistem hutan yang lebih kondusif, sekaligus berkontribusi sebagai paru-paru alam raya. Dalam kehidupan sehari-hari pun volume sampah kertas kian berkurang. Seiring dengan itu, kalangan aktivis lingkungan hidup yang selama ini mengampanyekan kurangi dan kurangi penggunaan kertas dalam kehidupan sehari-hari, kini bisa sedikit tersenyum atas efek perubahan fenomena yang sedang bergulir itu. Selaras dengan konsep go green, era kehidupan tanpa kertas atau nirkertas agaknya bukan sekadar isapan jempol belaka. Kehidupan masyarakat tanpa kertas (paperless society) sudah mulai terasa dan pada gilirannya nanti akan mewujud di depan mata.

       Adapun sisi kerugian yang paling terasa adalah ambruknya industri dunia cetak. Tragis! Sadis! Mesin cetak yang tadinya nyaris tak henti aktif siang-malam memproduksi koran, tabloid, majalah, buku, dan semacamnya, kini sangat berkurang pergerakannya bahkan terancam berhenti. Kalau benar-benar berhenti dengan kata lain mati, tentu berefek pada operator mesin cetak serta jajaran personalia cetak yang praktis kehilangan pekerjaan. Belum lagi jajaran bagian sirkulasi yang melibatkan agen, subagen, hingga pengecer. Tragis, karena ribuan orang kehilangan pekerjaan yang terkait dengan industri percetakan. Sadis, karena pekerja cetak kelimpungan memikirkan nasib diri serta keluarganya lantaran terguncang secara ekonomi. Kendile njomplang, kata orang Jawa. Artinya periuknya terguling alias dapur tak lagi ngebul.

     Dalam situasi perubahan dahsyat seperti ini, ada kemenduaan posisi sosiologis yang berujung pada suatu keadaan nyaman di satu hal, serta ketidaknyamanan di hal yang lain. Posisi pertama, mereka yang sudah beralih secara familier ke era digital meninggalkan era konvensional. Mereka lagi asyik masyuk berselimut fasilitas teknologi digital terkini seraya menikmati kenyamanan baru. Posisi kedua, mereka yang masih bergelut dengan era konvensional dan masih gamang memasuki era digital. Umumnya mereka dalam ketidaknyamanan menghadapi perubahan, meski hati kecilnya boleh jadi mengakui bahwa pada saatnya nanti mau tidak mau harus menyesuaikan dengan kekinian. Memang, kemajuan produk teknologi terbaru akan berdampak pada teknologi sebelumnya secara signifikan. Simpelnya, sesuatu yang baru berpeluang memakan “korban” (dalam tanda petik) pada sesuatu yang terdahulu.

       Era nirkertas di zaman now mesti disikapi secara bijak. Belum sepenuhnya atau belum seratus persen terjadi masyarakat tanpa kertas itu. Bisa dikatakan masih bersifat warning. Pada batas tertentu, kertas masih diperlukan meski skalanya cenderung berkurang. Misalnya data digital yang mesti di-print untuk kebutuhan tertentu, buku pelajaran atau referensi di lembaga pendidikan, tugas perkuliahan di masyarakat kampus, laporan-laporan di lingkungan perkan-toran, pembuatan selebaran untuk promo tertentu, pembungkus kemasan suatu produk makanan ringan, dan sebagainya. Semua itu masih memerlukan kertas.

      Kenyataan membuktikan, bahwa industri pulp dan kertas masih cukup menjanjikan. Panggah Susanto, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, menilai bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki peluang cukup besar untuk pengembangan industri pulp dan kertas, selain beberapa negara di Amerika Latin dan Asia Timur (Kompas.com – 31/01/2017). Lebih lanjut Panggah mengungkapkan, industri pulp dan kertas juga menyerap sebanyak 260 ribu tenaga kerja langsung dan 1,1 juta tenaga kerja tidak langsung.

       Akhirnya, sungguh dibutuhkan kelegawaan atas bergulirnya zaman di industri cetak pada khususnya. Mesti disiasati dengan langkah-langkah persiapan dan penyesuaian tertentu hingga pada saatnya nanti sistem digital diterima dan dipakai sepenuhnya. Industri bidang ini bisa bermetamorfosis untuk menghasilkan produk yang bukan berbentuk kertas. Jika ini terealisasi, maka masyarakat nirkertas akan benar-benar terwujud. Hutan yang tadinya ditebang untuk bahan baku kertas, tentulah akan menjadi lebih hijau dan kian rimbun. Sampah kertas pun akan jauh berkurang, sehingga berkontribusi pada lingkungan hidup sekitar yang lebih sehat dan terawat. (Imron Samsuharto)