Hakekatnya proses pendidikan merupakan proses pemberdayaan seseorang untuk membentuk kepribadian dan menciptakan integritas dirinya sendiri. Melalui aktivitas pendidikan itulah seseorang diharapkan dapat memperoleh kemampuan yang dibutuhkan dirinya sendiri maupun oleh masyarakat, dan negara sehingga mampu memberikan kontribusi nyata sesuai dengan kapasitas kompetensinya.

Kompetensi individual sebagai hasil belajar, diharapkan mampu menjadi modal dasar berkontribusi di masyarakat untuk melakukan perubahan yang tentu saja ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu pendidikan kita memerlukan orientasi dan arah yang jelas sesuai dengan cita-cita dan tujuan negara. 

Itu sebabnya dalam implementasinya pendidikan seharusnya tidak sekedar mendidik seseorang dari sisi intelektualnya, akan tetapi juga kepribadian, etika, dan estetika dari dalam potensi diri isi Pembelajar. Dengan bekal keseimbangan pribadi seperti itulah, peserta didik kita, diharapkan mampu menjadi agen perubahan (agent of change).

Namun sayangnya arah pendidikan saat ini terlihat kehilangan arah dari cita-cita para pendahulu. Pendidikan dewasa ini seperti menjadi komoditas dan dagangan saja. Institusi pendidikan (kampus) yang berorientasi pada selera pasar tak ubahnya seperti menjadi pabrik pencetak mesin mesin manusia siap kerja namun miskin inovasi. Pendidikan kita yang hanya berorientasi pada hasil (yang dijawantahkan dengan nilai tertulis) tanpa memperhatikan prosesnya menjadikan hasil anak didik menjadi insan-insan yang hanya berorientasi pada hasil dan uang saja.

Jika menyimak secara seksama kebijakan Kemendikbud terkait kampus merdeka berpotensi membuat pendidikan tinggi kita tak menentu arah. Berangkat dari konsep lama link and match, kebijakan ini bakal membuat kampus semakin terjebak menjadi pabrik pencetak tenaga kerja untuk berbagai ragam industri. Empat program kampus merdeka, yakni kemudahan buat kampus mendirikan program studi baru, relaksasi aturan akreditasi, percepatan perubahan status perguruan tinggi menjadi badan hukum, dan opsi magang tiga semester buat mahasiswa, memang tak semuanya buruk.

Program magang yang panjang dan tidak harus diisi dengan bekerja di perusahaan bisa membuka ruang eksplorasi buat mahasiswa yang kreatif. Mereka sekarang boleh memilih membantu petani di desa ataupun menjadi relawan paralegal di lembaga bantuan hukum, tanpa khawatir akan dipecat dari kampus karena meninggalkan kuliah terlalu lama.

Masalahnya, ada kesan empat paket kebijakan kampus merdeka ini berangkat dari asumsi bahwa masalah paling krusial yang dihadapi perguruan tinggi adalah rendahnya tingkat perekrutan lulusannya. Faktanya, memang, setiap tahun ada ratusan ribu sarjana yang menjadi pengangguran. Tapi hal itu tak semata-mata disebabkan oleh buruknya link and match. Pengangguran di kalangan lulusan universitas terjadi justru karena komersialisasi yang berlebihan di kampus-kampus.

Begitu pula akibat mahalnya biaya pendidikan yang ada menjadikan para orang tua mengharapkan bahwa biaya (investasi) yang mereka keluarkan untuk menyekolahkan anaknya haruslah kembali berlipat-lipat ganda, sehingga memaksa anak hanya berorientasi untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang besar tanpa lagi memikirkan hakikat pendidikan itu sendiri. Dengan adanya kebijakan Badan Hukum Pendidikan. Biaya pendidikan yang seharusnya ditanggung Negara diserahkan kepada masing-masing institusi pendidikan melalui biaya pendidikan yang selangit itu.

Tren komersialisasi kampus memang makin terasa sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi menjadi tonggak perubahan status universitas menjadi badan hukum otonom yang harus mencari dana untuk membiayai dirinya sendiri. Sejak itu, kampus sibuk membuka kelas internasional, kelas paralel, kelas bisnis, dan macam-macam sebutan lain, untuk menutupi biaya operasionalnya. Perguruan Tinggi berlomba lomba menjadi yang terdepan mempromosikan dirinya sebagai “mesin pencetak pekerja” yang paling unggul.

Dampak perubahan itu pada kualitas kampus kita juga nyaris tidak ada. Delapan tahun lewat dan hanya ada tiga perguruan tinggi Indonesia yang masuk daftar 500 top universitas dunia versi Quacquarelli Symonds World University Rankings 2019/2020. Ketiga perguruan tinggi itu adalah Universitas Indonesia yang ada di peringkat ke-296, Universitas Gadjah Mada di posisi ke-320, dan Institut Teknologi Bandung di peringkat ke-331.

Kampus seharusnya jadi sarana mobilitas vertikal untuk siswa cerdas dari keluarga tak berpunya, yang tak punya kesempatan naik kelas dengan cara lain. Sekarang, dengan kampus yang semakin komersial, hanya mereka yang berduit yang bisa jadi sarjana. Seleksi masuk yang tak lagi murni berdasarkan prestasi ikut berkontribusi menghasilkan inflasi sarjana abal-abal yang pengangguran.

Semestinya, perguruan tinggi tidak boleh dikerdilkan menjadi pusat pelatihan buruh. Itu tugas pendidikan vokasi. Hakikat universitas adalah pusat keunggulan (centreof excellence) ilmu pengetahuan. Kampus seyogianya menjadi institusi rujukan di bidang pendidikan, penelitian, serta penerapan ilmu dan teknologi.

Perguruan tinggi tidak disiapkan sebagai pemasok 'tenaga kerja siap pakai', hanya karena ledakan permintaan industri, tetapi pemasok “tenaga terdidik”, yang memiliki elastisitas untuk memenuhi ragam keperluan. Itu sebabnya, mengapa ada tendensi di banyak negara, termasuk Tiongkok, untuk mengubah kurikulum pembelajaran dari spesialisasi berlebihan menuju penyiapan pembelajar generalis yang mampu berpikir independen dan inovatif.

Dalam buku Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World (2019), David Epstein, setelah melakukan studi komparatif secara ekstensif dan lintas-profesi, menyimpulkan bahwa kepercayaan lama tentang perlunya menekuni spesialisasi secara dini sebagai jalan menuju sukses ternyata hanyalah suatu perkecualian (exception), bukan ketetapan (rule).

Dalam profesi dengan bidang permainan (ruang manuver) yang terbatas, bersifat repetitif dan terukur dengan aturan yang tetap, fokus secara dini dalam spesialisasi ini memang bisa mengantarkan sukses seperti yang diraih Tiger Wood (dalam golf) dan Polgar bersaudara (dalam catur).  Namun, dalam profesi dengan bidang permainan yang kompleks, saling berhubungan, berubah cepat dan sulit diprediksi, spesialisasi dini tidak menolong. Diperlukan range berpikir yang lebih luas dan adaptif dengan konteks dan perubahan.

Disrupsi kehidupan akibat perkembangan artificial intelligence (AI), big data, dan connectivity, menambah arti penting wawasan berpikir generalis. Dengan adanya AI, keterampilan teknis-taktikal bisa ditangani lebih baik oleh mesin. Yang dibutuhkan manusia justru kemampuan berpikir strategis dengan pemikiran holistis. Dengan big data dan connectivity, yang diperlukan manusia adalah daya analitis-sintetis dengan wawasan interdisiplin dan transdisiplin.

Singkat kata, kelebihan manusia atas mesin, dan yang perlu lebih ditekankan adalah kemampuan melihat hutan secara keseluruhan ketimbang melihat satuan-satuan pohon. Semua ini ada implikasinya pada dunia pendidikan. Maka Pendidikan tinggi kekinian menuntut penyiapan peserta didik sebagai manusia pembelajar seumur hidup. Manusia yang selalu update dengan perkembangan baru dengan kesediaan terus belajar memperbarui dirinya untuk bisa menjawab segala macam tantangan.

Pada titik ini, kedatangan zaman baru tidak berarti mengubah hakikat prinsip pendidikan. Prinsip pendidikan seumur hidup (life long education) justru harus dibudayakan lebih sungguh. Suhu pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, secara visioner mendefinisikan pendidikan sebagai proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan mempelajari dan mengembangkan kehidupan (miko-kosmos dan makro-kosmos) sepanjang hidup.

Manusia pembelajar harus dibekali dengan dua macam kemampuan. Di satu sisi harus memiliki kelenturan untuk menyesuaikan diri dengan angin perubahan. Di sisi lain harus memiliki akar yang kuat agar tidak mudah roboh diterjang angin. Yang pertama memerlukan daya kreatif. Yang kedua memerlukan daya karakter. Menumbuhkan mental kreatif Dalam menumbuhkan manusia pembelajar yang kreatif, tugas dunia pendidikan adalah menumbuhkan mental kreatif (creative mind).

Dilain sisi, praktek pembelajaran pendidikan tinggi kita masih kental top-down (dari atas ke bawah) atau kalau menggunakan istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank. Sistem pendidikan ini sangat tidak membebaskan dan mencerdaskan karena peserta didik dianggap manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa dan dosen dianggap tahu segalanya.

Dosen sebagai pemberi mengarahkan kepada peserta didiknya untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Dosen sebagai pengisi dan peserta didik sebagai yang diisi. Otak peserta didik dipandang sebagai safe deposit box, dimana pengetahuan dari dosen ditransfer kedalam otak peserta didik dan bila sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil saja.

Peserta didik hanya menampung apa saja yang disampaikan dosen. Tentu saja sistem pendidikan yang seperti ini sangatlah menyiksa dan hanya menindas para peserta didik karena para peserta didik hanya dipaksa menjadi objek pembelajaran tanpa memiliki kesempatan untuk berinovasi dan mengembangkan bakat serta kemampuannya sendiri.

Dengan mengacu kepada model pendidikan yang seperti itu, maka manusia yang dihasilkan oleh model pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap keadaan. Sehingga manusia-manusia yang dihasilkan adalah mereka yang apatis dan kekurangan empati terhadap keadaan sekitarnya.

Semestinya peserta didik perlu diberikan ruang untuk belajar mengajukan pertanyaan, hipotesis, mendesain eksperimentasi, mengumpulkan data, dan merumuskan kesimpulan. 'Keliaran' imajinasi dengan membiarkan mereka bertumbuh kembang menjadi kreatif . Perkembangan imajinasi peserta didik bisa difasilitasi dengan dengan berbagai metode dan strategi pembelajaran kretaif untuk bisa merangsang penjelajahan imajinasi mereka.

Para peserta didik diarahkan belajar dengan beragam peralatan, program, dan teknik sesuai dengan preferensinya. Dosen lebih berperan sebagai mentor pendamping, pengarah, pendorong, dan penghubung peserta didik dengan dunia luar. Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Mengikuti kencederungan pilihan karier pekerjaan di era baru, yang tidak terlalu terikat (freelance), para peserta didik hari ini harus diadaptasikan pada praktik pembelajaran dan pekerjaan berbasis proyek.

Mereka harus belajar bagaimana menerapkan keterampilannya dalam jangka pendek pada ragam situasi. Hal ini harus mulai diperkenalkan sejak mereka masuk perguruan tinggi. Keterampilan berorganisasi, kolaborasi, dan pengaturan waktu juga dapat diajarkan sebagai modal dasar untuk dikembangkan sebagai kompetensi soft skill mereka.

Perluasan pengalaman lapangan (field experience) karena teknologi dapat memfasilitasi secara lebih efisien pembelajaran aspek-aspek teoritis pada domain tertentu, kurikulum akan memberi ruang bagi pengembangan keterampilan dalam pengalaman langsung. Perguruan tinggi menyediakan kesempatan yang lebih luas untuk meraih keterampilan dalam dunia nyata sesuai dengan preferensinya. Kurikulum akan menciptakan lebih banyak ruang bagi peserta didik untuk menjalani permagangan, proyek kolaborasi, dan mentoring.

Teknologi bisa menolong aktivitas belajar mandiri di luar kelas manakala peserta didik memiliki budaya belajar dan literasi yang kuat. Untuk itu, kurikulum pendidikan harus memberi perhatian pada olah pikir lewat pembelajaran membaca, menulis,  dan meneliti. Budaya membaca, menulis, meneliti harus menjadi kecapakan fungsional yang dibiasakan (reading habit).

Kecakapan dan kebiasaan membaca, menulis, meneliti akan memudahkan peserta didik untuk menjelajahi dunia ilmu pengetahuan melampaui batas-batas pelajaran kampus. Budaya baca kian penting dihadapkan pada perluasan terpaan media digital dengan muatan pesan yang serba ringkas dan instan. Tanpa tradisi membaca yang kuat akan sulit bagi generasi baru untuk memahami dan mengembangkan penalaran panjang seperti pengetahuan-pengetahuan naratif (filsafat, ideologi, sejarah, agama, sastra, dan lain-lain). Padahal, pengetahuan naratif merupakan sumber penemuan diri dan pembentukan karakter.

Pengembangan karakter merupakan pendekatan holistis yang menghubungkan dimensi moral pendidikan dengan ranah sosial dan sipil kehidupan peserta didik. Dalam pendidikan karakter, moral itu ditangkap (caught) dengan keteladan, bukan diajarkan (taught) dengan hafalan. Cara mengajarkannya tidak terisolasi dalam mata pelajaran tersendiri, tetapi melekat dengan seluruh rangkaian kurikulum dan melibatkan peran komunitas sivitas akademika. Sifat-sifat karakter yang dikehendaki harus merembesi lingkungan belajar peserta didik baik dalam kelas, jalan masuk, kafetaria, lapangan olahraga, dan tempat-tempat lainnya, yang kemudian terhubung dengan praktis moral dalam realitas masyarakat.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu benih harapan. Pendidikan benih harapah harus memprioritaskan pengembangkan manusia pembelajar yang kreatif dan berkarakter. Proses pendidikan harus mampu mengembangkan kreativitas berbasis keragaman kecerdasan insani dengan panduan kompas nilai yang dapat menjaga keselarasannya dengan tertib kosmos dan harmoni dunia.

Kemendikbud punya kesempatan mengembalikan roh pendidikan tinggi kita. Niat Menteri Nadiem mereformasi pendidikan tinggi sudah benar. Tapi dia harus melakukan terobosan yang jauh lebih radikal. Mengambil langkah kebijakan baru saat ruang publik disapu kelatahan era RI.40, dengan ultimatum ancaman 'daya sintas' tanpa jalan keluar yang terang.