4 bulan lalu · 402 view · 4 menit baca · Pendidikan 22498_50745.jpg
Perwakilan Yayasan Al-Azhar Cairo Indonesia bersama Duta Besar RI di Helsinki, Wiwiek Setyawati Firman.

Menyoal Sistem Pendidikan Finlandia

Tak ada yang menyangkal, sistem pendidikan di Finlandia masih menjadi salah satu rujukan sistem pendidikan terbaik di dunia. 

Meski tahun 2016 Singapura lebih unggul dalam Program for International Student Assessment (PISA), namun, bila diselisik, sistem pendidikan yang diterapkan di Finlandia terdapat kemiripan dengan prinsip pendidikan Indonesia yang diusung Ki Hadjar Dewantara. Hanya saja, kini arah pendidikan di Indonesia semakin jauh dari tujuan.

Hampir tiga minggu menjelajah bumi Eropa dan menghabiskan sepekan di kota Helsinki, Finlandia, membawa saya sampai pada kesimpulan bahwa negara ini bukan negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, melainkan negara yang berhasil merancang sistem pendidikan terbaik sesuai dengan potensi negara dan masyarakat yang ada di dalamnya. 

Berawal dari rasa penasaran bagaimana pendidikan di negara ini begitu mengundang perhatian dan decak kagum dunia, ditambah dengan laporan tingkat kebahagiaan negara-negara di dunia yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Maret 2018 lalu.

Begitu mengejutkan.  Masih bagian dari negara Skandinavia, Finlandia menggeser posisi Norwegia yang sebelumnya berada di peringkat pertama di tahun 2017.

Dilansir dari World Happieness Report 2018, PBB telah menyusun 156 negara di dunia berdasarkan indeks kebahagiaan dilihat dari survei Gallup World Poll dari tahun 2015-2017. Negara bagian utara Benua Eropa yang sudah hampir mendekati kutub utara ini menempati peringkat pertama. 

Hasil studi tingkat kebahagiaan dilihat dari kesejahteraan manusia, yakni pendapatan, harapan hidup sehat, dukungan sosial, kebebasan, kepercayaan, dan kemurahan hati.

Semakin menjadi-jadi rasa penasaran untuk menemukan kepingan jawaban dari mozaik pertanyaan yang terus saja bermunculan tentang negara Nordik ini. 


Belum lagi referensi yang saya baca mengenai pendidikan di Finlandia, sedikit sekali yang membahas tentang penggunaan teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Kesannya, pendidikan terbaik di dunia sama sekali tidak terintegrasi dengan teknologi.

“Pendidikan yang terintegrasi dengan teknologi tidak menjadi penekanan utama dalam pendidikan di Helsinki, Finlandia,” nukilan dari buku Teach Like Finland yang terbit  Juli 2017 lalu. Buku ini memuat pengalamam Timothy D. Walker, seorang guru berkebangsaan Amerika saat mengajar di Finlandia.

Ia katakan bahwa teknologi yang menyilaukan dapat mengganggu guru untuk mengerjakan hal-hal mendasar bersama siswa. Meskipun ia tidak percaya sepenuhnya bahwa teknologi tidak diperlukan di dalam kelas, tapi, pada kenyataannya, saat ia mengajar di Finlandia, ia tidak mendapatkan tekanan, baik internal maupun eksternal untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.

Belum lagi hasil tes mengenai keterampilan digital yang dipublikasikan Organization for Economic Cooperation and Develompment (OECD) tahun 2015. Organisasi untuk kerja sama dan pengembangan ekonomi yang merancang tes PISA ini mengatakan secara keseluruhan hasil belajar siswa yang menggunakan komputer secukupnya di sekolah cenderung memiliki hasil belajar yang lebih baik dibanding mereka yang jarang menggunakan komputer. 

Namun pukulan telaknya, siswa yang sangat sering menggunakan komputer di sekolah jauh lebih buruk.

Belum lagi buku-buku yang mengisahkan pendidikan di negara ini menambah keinginan untuk segera mendarat memenuhi undangan Wiwiek Setyawati Firman selaku Ambassador Indonesian Embassy of Helsinki, September 2018 lalu. 

Sampai di Helsinki, mata saya terbelalak melihat wujud negara yang selama ini hanya saya nikmati dari kisah mereka yang lebih dulu menginjakkan kaki ke negara seribu danau ini. 

Wajar bila negara ini meraih predikat pertama negara bahagia. Pemerintah sangat konsekuen dengan visinya Healthy and Happy Young People and Mental Well Being for Health of Citizen. 

Anak-anak di sini bebas dari rasa takut tentang persaingan, kegagalan, prestasi dengan pengujian standar yang di kebanyakan negara menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan. Mereka bebas dari tekanan untuk menghadapi tes masuk ke sekolah unggulan seperti yang terjadi di Indonesia. Semua sekolah pemerintah di Finlandia memiliki kualitas yang sama. 

Jauh berbeda dengan negara kita tercinta. Indonesia malah ingin mewujudkan pendidikan berdaya saing. Paradigma inilah yang beberapa tahun lalu bermunculan ide Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) atau bahkan 'demam' World Class University. Untungnya hal ini segera direvisi.


Mengunjungi beberapa sekolah di Finlandia secara langsung mengubah stigma negatif banyak orang tentang teknologi. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran sudah dilakukan. Saya terpana melihat pembelajaran di dalam kelas yang memadukan berbagai teknik dan pendekatan sesuai dengan individu siswa. 

Ada yang menggunakan iPad lengkap dengan aplikasi yang digunakan untuk membantu siswa supaya lebih cepat berhitung. Ada lagi siswa yang sambil mendengarkan musik, namun tangannya menulis. Saya pikir ini adalah strategi dalam mencapai tujuan instruksional. 

Tidak hanya itu, beberapa sekolah juga sudah menggunakan Google Classroom Suite for Education. Setiap anak dilengkapi dengan komputer jinjing. 

Menyambut Abad-21 sebagai abad internet, kemampuan beradaptasi secara berprinsip (Principled Adaptability) akan ditentukan dari belajar mandiri. 

Teknologi adalah satu-satunya cara memperluas akses pada pengetahuan. Negara seharusnya berinvestasi secara lebih efektif dan memastikan bahwa guru berada di garis depan dalam merancang dan menerapkan perubahan ini.

Guru-guru di Finlandia begitu menghargai perbedaan setiap individu dalam menerima materi pembelajaran. Setiap guru merancang pembelajaran dan menghadirkannya melalui bantuan berbagai media. Sehingga anak-anak dapat memilih cara yang mudah mereka pahami. 

Misalnya saja, untuk kelas kreativitas dan skill, guru mengunggah materi di Google Classroom dan terhubung bersama siswa. Materi yang guru rancang tidak hanya berbentuk teks prosedur, namun juga dilengkapi dengan vlog penjelasan materi dari guru, persis seperti platform bimbel online yang berhasil menggeser ratusan bimbel di Indonesia.

Anak-anak yang memiliki kecerdasan audio-visual bisa langsung membuat kerajinan tangan langsung dengan bantuan video. Fungsi guru melihat perkembangan per individu kemudian mendampingi mereka untuk menyelesaikan tujuan. 

Kunci meraih 'keuntungan' dalam pembelajaran berbasis teknologi tampaknya berada di tangan kita, guru.


Kita tidak harus memindahkan sistem pendidikan Finlandia di negara kita. Cukup kita kembalikan saja prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara:

Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Idealnya, pendidikan dapat mengembalikan pada fitrah penciptaan manusia. Pendidikan bukan soal kesuksesan individu melanglang buana entah ke mana, namun seberapa besar manfaat yang ia berikan dengan potensi keunikan lokal yang ada.

Artikel Terkait