Tulisan saudara Miftah Risal yang berjudul "Saatnya Adil pada Habib Rizieq" tanggal 15 Januari 2017 lalu baru-baru ini dibagikan kembali oleh Qureta di laman Facebook. Meski merupakan postingan lama, tulisan tersebut disambut secara negatif oleh beberapa orang. Mereka menuduh jika tulisan Miftah membela pernyataan Rizieq.

Dalam tulisannya, Miftah menunjukkan jika Rizieq pernah menyampaikan sebuah ceramah yang menyatakan bahwa "Pancasila Soekarno, sila ketuhanan ada di pantat; Pancasila Piagam Jakarta, sila ketuhanan ada di kepala."

Penggunaan kata "pantat" menimbulkan tuduhan bahwa seorang Rizieq, pimpinan tertinggi Front Pembela Islam, telah menghina atau, menggunakan istilah yang sedang nge-trend belakangan, telah "menistakan" Pancasila dan Sukarno secara bersamaan. Namun, alih-alih menyerang, saudara Miftah malah "membela" Rizieq. Bagi Miftah, penafsiran kita bahwa Rizieq telah "menistakan" itu terlalu terburu-buru dan gegabah.

Sebagai penulis, Miftah menunjukkan bahwa apakah cukup bagi kita untuk mencap seseorang telah menghina suatu hal hanya karena kata-kata saja? Jika kita berprasangka baik, mungkin saja saat ceramah, Habib Rizieq menemukan para hadirin yang menyaksikannya telah kelelahan atau bosan.

Mungkin saja kalimat yang dilontarkannya hanyalah sebuah guyonan untuk membuat semua yang berhadir untuk tertawa. Kita tidak tahu apa yang seorang Habib Rizieq pikirkan. Mungkin seperti itu lah selera humor yang dimiliki Rizieq.

Di akhir tulisan, Miftah meminta kita untuk bersikap rasional dan harus berlaku adil. Mengapa? Karena tuduhan serupa dengan logika yang sama pula telah dijatuhkan kepada Ahok! Seorang Ahok yang menyindir lawan-lawan politiknya karena telah menggunakan Surat Al Maidah untuk melawan dirinya kemudian dituduh telah menistakan agama Islam. Alasannya? Ahok telah membawa-bawa Al Maidah sebagai alat guyonan dan candaan.

Dengan potongan video singkat tersebut tanpa mendalami isi perkataan Ahok secara mendalam, opini pun digulirkan. Dikatanya, Ahok telah menistakan agama Islam. Ahok telah meolok-olok sebuah firman Ilahi. Jadi benar dugaan mereka, Ahok selama ini memang bajingan. Dia bukan cuma kafir, tapi juga penista agama orang lain.

Kemudian, sebuah potongan video singkat lain yang kali ini "pemeran" utamanya adalah Habib Rizieq muncul. Isinya telah dinyatakan di atas, yakni Rizieq telah mengolok-olok Pancasila. Lebih parah lagi, beliau juga mengolok-olok Sukarno. Kalau Ahok yang "kafir" telah menghina agama orang lain, kini Habib yang kena tuduh telah menghina ideologi negara dan bapak bangsanya sendiri. Lalu, ada yang berpikir kalau Rizieq ini yang Indonesia cuma luarnya saja. Isinya mah Wahabbi sampai ke inti-intinya.

***

Sarkasme yang disampaikan oleh seorang Miftah Risal dapat dikatakan sangat kecut, sangat pahit dan sangat liar. Dari tulisannya, Miftah mempaparkan pembelaan terhadap Habib Rizieq dengan pembelaan yang serupa terhadap Ahok.

Ketika pendukung-pendukung Rizieq, atau minimal pembenci-pembenci Ahok, menghakimi Ahok habis-habisan dengan tuduhan penista agama hanya karena perkataannya di Kepulauan Seribu yang ditampilkan dalam sebuah potongan video pendek, logika yang sama juga harus dilakukan dalam menilai Rizieq.

Perselisihan yang timbul karena Pilkada DKI Jakarta baru-baru ini sama sekali perselisihan yang tidak melibatkan fungsi berpikir. Semua yang berselisih hanya mengandalkan temperamen dan sentimen. Hasilnya, tidak ada satu pun pihak yang berkepala dingin. Padahal, dalam keadaan yang tegang seperti ini kita memerlukan kejernihan berpikir sekali pun pilihan atau paham politik kita berbeda.

Masyarakat kita kadang hanya membaca sebuah tulisan sepintas lalunya. Lebih buruk, banyak yang kadang hanya membaca judulnya saja, lalu sudah berkomentar habis-habisan.

Salah satu komentar pada tulisan Miftah Risal, sebagai contoh, mengatakan bahwa: “Qureta mulai menunjukan ketidak-objektifan...dengan menayangkan tulisan atau artikel tak berkualitas...[karena] penulis dalam menganalisa bahasa berdasarkan selera humor”. Inilah pertanda jika kita sedang mengalami rendahnya tingkat literasi karena ketidakmampuan dalam memahami tulisan secara utuh.

Lebih buruk, kita saat ini berada dalam era dimana informasi mudah diakses dan masuk dari mana saja. Pesan-pesan berantai yang menggiring opini kita bisa bersliweran masuk di media sosial kita, seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Line dan sebagainya. Celakanya, kita kadang sering ‘menelan’ bulat-bulat informasi yang ada. Akibatnya, tidak ada kebenaran yang kita capai, hanya ada kesesatan berpikir yang dihasilkan.

***

Penulis secara pribadi merasa berat hati dalam menulis tanggapan ini. Hal ini karena penulis merasa jika kebanyakan dari kita masih menggantungkan penafsiran suatu informasi dari orang lain. Kita lebih percaya perkataan orang lain dari pada berusaha mencari kebenaran secara mandiri.

Sarkasme merupakan suatu senjata yang maha hebat bagi seorang penulis karena dapat menunjukkan kesesatan berpikir yang dimiliki pihak dengan pendapat yang berlainan. Miftah Risal menampilkan kepada kita sebuah usaha berdialektika terhadap kasus Ahok dan kasus Rizieq dengan suatu logika yang sama.

Jika kita melihat dengan lebih jernih, maka kita akan melihat bahwa dengan menggunakan argumen yang sama dengan kelompok-kelompok “Bela Islam”, maka akan dua kemungkinan yang mungkin terjadi: “Ahok dan Rizieq sama-sama memiliki selera humor dan kita yang tidak” atau “Ahok dan Rizieq sama-sama menistakan suatu hal, entah itu agama atau Pancasila”.

Ketika kita mampu berpikir obyektif, maka kita akan melihat bahwa baik Ahok dan Rizieq sama-sama bersalah atau sama-sama tidak bersalah. Sebagai penulis, Miftah menunjukkan bahwa “jika Ahok bisa dijebloskan ke penjara, mengapa Rizieq tidak?” dan “jika Rizieq bisa bebas bersliweran, mengapa Ahok tidak?”. Di sinilah kita mendapat pencerahan yang luar biasa dan akal kita mampu terbuka.

Terkait kasus Ahok dan Rizieq, Miftah Risal memberi pesan penuh makna di akhir tulisannya: “Adil memang sulit, tapi ia bisa dilatih”. Mulailah bagi kita untuk keluar dari fase sentimen dan masuk ke fase baru, yakni ke fase berpikir.

Jangan takut untuk berbeda pandangan dengan teman atau keluarga selama kita masih mampu berpikir dengan kepala dingin terkait isu yang ada saat ini. Kelompok sebelah mungkin boleh temperamental, tapi kita tidak. Be rational!