Dalam hari tasyriq tahun lalu, berusaha menyapa satu kawan yang selama ini tidak saya jumpai. Menyapa langsung di dunia nyata, saya datangi rumahnya. Berkirim kabar selama ini hanya melalui gawai. Momen idul adha menjadi kesempatan untuk berbincang ditemani dengan ketupat dan menu yang hanya wujud di masa hari raya.

Walaupun demikian, setelah jadwal kunjungan terjadwal lebih awal, ketika menerima untuk sebuah undangan diskusi bersama dengan kawan-kawan di Yayasan Insancita Bangsa (YIB), tetap saja diterima. Sehingga dalam perjalanan, sembari bersilaturahmi dengan kawan, juga menunaikan janji untuk turut menyuarakan pandangan sekaitan dengan tema pendidikan di kawasan Asia.

Untuk menjadi memori, saya mengunggah dua photo tersebut. Berkunjung sekaligus tetap terhubung dengan diskusi yang dilaksanakan kawan-kawan YIB.

YIB menjalankan satu program unggulan yaitu melatih kemampuan bahasa Inggris sehingga bisa meraih beasiswa ke luar negara. Peluang-peluang besiswa selalu tersedia, hanya saja kemampuan Bahasa menjadi kendala. Ini yang menjadi perhatian YIB.

Dari lokasi tengah sawah di Bantimurung (Sulawesi Selatan), saya tetap menyapa kawan. Senyampang itu, diskusi juga berjalan. Walaupun konsekwensinya, saya mengunggah materi paparan dalam bentuk file ke sekretariat setelah tiba di rumah malam harinya.

Dosen peluang untuk mengkreasikan idealisme melalui eksperimen di masyarakat yang disebut sebagai pengabdian masyarakat. Masalah sosial yang terjadi, dapat menjadi pembelajaran tindakan. Catatan dari realitas sosial itulah yang menghidupkan kelas sebagai bentuk diskusi. Pada gilirannya, akan dipublikasikan dalam pelbagai media.

Untuk menghidupkan pembelajaran di kelas, maka pada saat yang sama seorang dosen perlu mengerjakan aksi sosial. Dengan riset akan memaksa untuk membaca dan menulis. Keduanya akan menopang proses pembelajaran sehingga selalu mendiskusikan perkembangan mutakhir. Bukan saja soal sejarah tetapi kekinian.

Begitu menggunggah kedua gambar tersebut, seorang kawan yang baru saja kembali dari Australia mengetikkan komentar terkait dosen.

Hanya saja, saya menahan diri menyampaikan informasi. Semata-mata saya harus tahu diri, jangan sampai saya menggarami air laut. Kawan-kawan mahasiswa di Makassar, kerap bercanda “di Makassar hanya ada dua perguruan tinggi, pertama unhas (Universitas Hasanuddin), dan kedua yang lain”.

Saya masuk kategori yang kedua. Termasuk dengan kemampuan bukan saja kelas dua, tetapi bahkan bisajadi yang paling belakang. Atau bahkan jangan sampai tidak memiliki daya sanding untuk bersama dengan kolega lainnya.

Dua belas jam setelahnya, saya berkutat dengan persiapan diskusi dengan dosen-dosen, satu perguruan tinggi lain yang terletak di kabupaten Sidrap. Satu kabupaten di sebelah utara Sulawesi Selatan.

Ini diskusi yang pertama, sehingga saya memilih topik “Kapasitas Dosen”. Untuk melangkah menemuki profesi dosen, maka perlu penyamaan persepsi tentang kapasitas yang perlu dikuasai seorang dosen.

Dengan menggunakan frekuensi radio sebagai gambaran penjelasan. Sebuah radio bisa terdengar suaranya jikalau frekuensinya sama. Walaupun frekuensi sama kalau alat, yaitu radio tidak lagi memadai untuk menerima siaran.

Sama dengan dosen, obrolan bisa berlangsung kalau berada dalam frekuensi yang sama. Termasuk kesediaan untuk menerima pesan-pesan yang disampaikan mitra wicara.

Tipikal pribadi setiap orang, akan banyak bicara ke kawan yang memiliki minat yang sama. Namun, akan memilih diam jika mitra wicara memiliki minat yang berbeda. Konteks dimana berbicara dan tidak berbicara adalah proses komunikasi untuk menjembatani ide itu tersampaikan.

Sama dengan kawan diskusi, kalau dia memiliki minat menonton kesebelasan Barcelona, maka akan menjadi perbincangan yang garing kalau mendiskusikan kesebelasan Real Madrid.

Sederhananya, memulai dengan membentuk tim “riset”. Kumpulan orang, dengan jumlah yang kecil, memiliki minat yang sama, kemudian saling mendorong dan juga mendukung. Bahkan bisa jadi tempat “curhat”.

Dua (bukan) rahasia yang harus dikuasai dosen (Wekke, 2020). Kemampuan berkolaborasi dan juga alat. Diatas semuanya adalah keterbukaan ilmu pengetahuan (sains terbuka).

Ini yang mejadi titik awal bagi seorang dosen yang mencita-citakan diri untuk bergelut dalam ilmu pengetahuan. Membuka seluruh aktivitas ilmu pengetahuan yang digelutinya, Sebab “tak ada misteri dalam ilmu pengetahuan”. Juga, kemampuan bukan diwariskan melainkan dilatihkan. Jikalaupun seorang anak yang terlahir dari seorang bapak yang dosen, tetap saja tidak mungkin akan menyamai bapaknya ketika tidak berlatih untuk sebuah keterampilan.

Sebagaimana disampaikan dalam pelbagai kesempatan, bahkan bisajadi itu berulang. Kolaborasi tidak saja berkaitan dengan kemudahan melaksanakan agenda-agenda dan keperluan individual, tetapi juga disitu terkandung keberkahan.

Suatu masa berkesempatan menemui Rustamadji, penerima Anugerah Tokoh Perubahan Republika 2018. Beliau menyatakan bahwa walau superman is dead, tetapi masih ada kekuatan super melalui superteam atau teamwork.

Perguruan tinggi adalah wadah melakukan eksperimentasi. Pada saat yang sama, ditopang oleh idealisme dan juga cita disertai khazanah ilmu pengetahuan.

Maka, tugas dosen mendekatkan diri perguruan tinggi ke masyarakat. Justru, tidak semakin jauh dan justru menjadi momok sebagaimana di masa lalu dilabeli dengan “menara gading”. Jauh tak tersentuh dan hanya menjadi bangunan bagi aristokrak.

Dosen idealnya mendasari diri untuk kebermanfaatan. Bukan untuk semata-mata pada reputasi sebuah jurnal. Apalagi kalau jurnal itu kemudian hanya dibaca segelintir orang saja. Sementara atribut mesin dijadikan sebagai “kebanggaan” yang kesemuanya itu semu.

“Seberapa banyak dibaca oleh publik itu juga penting”, berbanding dengan ukuran-ukuran mesin.

Pangkat juga penting, tetapi bukan itu satu-satunya kepentingan seorang dosen. Menanti jadwal untuk bertemu dengan mahasiswanya merupakan sebuah kemewahan, dan itulah yang perlu dirawat sepanjang dalam pengabdian menjadi seorang dosen.

Menapaki karir sebagai sebuah dosen, teringat pesan Prof. Oman Fathurahman (2017) bahwa perlu meluruskan niat terlebih dahulu. Sehingga apapun yang dijalani, semuanya semata-mata niatnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan.