Peneliti
2 tahun lalu · 214 view · 5 menit baca · Pendidikan students-702094_960_720.jpg
Foto: Pixabay

Menyoal Pendidikan Multikultural

Indonesia lahir dari rahim kemajemukan. Ia adalah sebuah negara yang sangat plural. Lihat saja betapa Indonesia beraneka suku, etnis, agama, bahasa pula budaya yang dimilikinya.

Dari beberapa perbedaan yang telah disebutkan tadi, maka bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk, bangsa yang (sejatinya) bersahabat dengan segala perbedaan dalam bentuk apa pun, di mana Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya.

Kemajemukan tersebut pada satu sisi merupakan bentuk keragaman yang khas dan indah sekaligus menjadi kekuatan sosial jika satu sama lain bersinergi, saling membahu, membangun kemajemukan tersebut. Namun, di sisi lain, jika kemajemukan tersebut tidak dikelola dan dibina dengan baik dan tepat akan menjadi pemicu, penyulut konflik dan kekerasan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Insiden tergelincirnya Basuki Tjahaya Purnama oleh Al-Maidah: 51, misalnya, merupakan contoh konkret konflik horizontal yang telah menguras habis energi bangsa ini dan tentu sangat merugikan, baik materi dan psikologis bangsa ini, pula mengorbankan keharmonisan antar sesama rakyat Indonesia yang sebelumnya relatif rukun, aman dan damai.

Kemajemukan jika dimaknai secara negatif pasti akan menjadi bumerang bagi eksistensi manusia itu sendiri sebagai subjek. Kemajemukan adalah sebuah keniscayaan, mengingkarinya berarti bersiap menanggung konsekuensi dan risikonya. Konflik adalah buah pahit yang diproduksi oleh pengingkaran terhadap kemajemukan yang melibatkan sentimen etnis, ras, golongan dan juga agama.

Masyarakat Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai masyarakat “multikultural” karena realitas di lapangan seperti itulah faktanya. Akan tetapi pemaknaan terhadap istilah multikultural belum menjadi motto bersama, sehingga lagi-lagi konflik yang terjadi bermula dari perbedaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas toleransi bangsa ini masih merah angkanya.

Tiga Pandangan Menyoal Konflik

Menurut Jalaluddin dalam Teologi Pendidikan (2001), ada tiga kelompok pandangan yang mempunyai perspektif terhadap konflik yang sering kali muncul akibat perbedaan. Pertama, pandangan kaum primordialis. Mereka menganggap bahwa  perbedaan-perbedaan yang berasal dari genetika seperti suku, ras (termasuk agama) adalah sumber utama yang melahirkan benturan-benturan kepentingan etnis ataupun agama.

Kedua, pandangan kaum instrumentalis. Mereka menjadikan suku, agama dan identitas-identitas lain sebagai alat yang digunakan individu atau kelompok tertentu untuk mencapai tujuan yang lebih besar, baik dalam bentuk materil maupun non-materiil. Perspektif ini lebih banyak digunakan oleh para politisi dan para elite untuk mendapatkan dukungan dari kelompok identitasnya.

Misalnya, dengan meneriakkan “Islam” atau “Kristen“ diharapkan semua orang Islam atau orang Kristen bersatu mendukung kepentingan politiknya. Pandangan kaum instrumentalis menjadi sangat populer saat mendekati momentum  pilkada atau pilpres, seperti saat ini.

Banyak konstituen yang merasa satu identitas dengan para politisi terjebak pada justifikasi kebenaran, hingga tanpa sadar akhirnya terkelabui. Karena itu, dalam pandangan kaum instrumentalis, selama setiap individu mau mengalah dari prefence yang dikehendaki elite, selama itu pula benturan antarkelompok identitas dapat dihindari.

Ketiga, kaum konstruktivis, mereka mempunyai pandangan bahwa identitas kelompok sangat dinamis, sama sekali tidak bersifat kaku. Tidak seperti yang dibayangkan kaum primordialis atau instrumentalis. Etnisitas, bagi kelompok ini, dapat diolah hingga membentuk jaringan relasi pergaulan sosial (Jalaluddin, 2001).

Etnisitas adalah aset berharga yang dimiliki manusia sebagai individu untuk saling mengenal dan memperkaya budaya. Bagi kaum konstruktivis, persamaan menjadi anugerah dan perbedaan menjadi berkah. Dalam pandangan kaum terakhir, masih terdapat ruang wacana tentang multikulturalisme dan pendidikan multikultural sebagai sarana membangun toleransi atas keragaman.

Pendidikan Multikultural

Pendidikan adalah kata yang sangat agung dan mulia dalam rangka memuliakan manusia. Betapa Tuhan sangat mencintai dan menghargai orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dengan jaminan akan mengangkat martabatnya ke tempat yang lebih tinggi.

Pendidikan, sederhananya, bertujuan, tak lain, sebagai alat untuk memanusiakan manusia. Pendidikan yang mengandung penindasan menjadikan manusia sebagai objek semata, tak layak disebut sebagai pendidikan.

Sejak zaman dahulu, beragam kritik yang ditujukan terhadap dunia pendidikan masih hangat dan relevan hingga kini. Misalnya, Paulo Freire dan Ivan Illich pernah melontarkan kritik tajam dan mendasar tentang asumsi pendidikan yang selama ini disakralkan.

Dua tokoh tersebut menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan yang selama ini seolah sakral dan diyakini mengandung nilai-nilai kebajikan tersebut ternyata mengandung penindasan. Bayangkan, siswa diharuskan, misalnya, memenuhi ekspektasi keinginan seseorang, lembaga, atau pesanan perusahaan tertentu dengan mengabaikan pendidikan budi pekerti.

Dalam hal ini, siswa hanya dicekoki pengetahuan kognitif, misalnya, hanya menyelesaikan rumus-rumus ilmu pasti setiap harinya atau menghafal definisi teori-teori, atau juga hanya belajar hal-hal normatif dan dogmatis belaka. Mereka tidak pernah diajarkan apa itu manajemen konflik dan bagaimana menyikapi keragaman yang ada di sekitarnya sejak dini.   

Hal di atas diperkuat oleh Muhammad Iqbal, seorang filsuf Pakistan yang mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya proses belajar mengajar semata dalam rangka mentransformasikan pengetahuan belaka yang berlangsung secara sederhana dan mekanistik. Namun, pendidikan adalah keseluruhan yang mempengaruhi kehidupan perseorangan maupun kelompok masyarakat.

Proses pendidikan ini mencakup pembinaan diri secara integral untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan kemanusiaannya tanpa mesti terbatasi oleh sistem transformasi pengetahuan secara formal dalam lingkungan akademis. Pada akhirnya, pendidikan dalam arti luas mencakup penyelesaian masalah-masalah manusia secara umum dan mengantarkan manusia tersebut pada tujuan hidupnya yang mulia (Mukhtar Solikin, 2005).

Freire menegaskan bahwa pendidikan sangat berkaitan erat dengan cinta dan keberanian. Menurutnya, pendidikan adalah tindakan cinta kasih dan karena itu juga merupakan tindakan keberanian. Pendidikan tidak boleh membuat orang yang akan menganalisis realitas menjadi takut dan mundur.

Output pendidikan ditentukan oleh proses yang terus berlangsung dalam interaksi pendidikan. Proses dan metode dalam pendidikan didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai dari pendidikan tersebut. Sedangkan tujuan pendidikan ditentukan berdasarkan pilihan paradigma yang dijadikan dasar dalam pendidikan.

Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa paradigma pendidikan yang dianut seseorang atau sebuah lembaga pendidikan tertentu  menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Seorang tokoh yang dikenal sebagai perintis pendidikan multikultural, James A. Banks, menyakini bahwa sebagian dari pendidikan lebih mengarah pada mengajari bagaimana berpikir daripada apa yang dipikirkan. Untuk menjadi siswa yang baik, ia harus mempelajari seluruh pengetahuan ditambah harus aktif dalam membicarakan konstruksi pengetahuan. Di samping itu, ada yang lebih penting dari semuanya, yaitu siswa harus dibiasakan menerima perbedaan dalam keragaman.

Banks dengan sangat cerdas mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai ide, gerakan pembaruan pendidikan dan proses pendidikan yang bertujuan untuk mengubah struktur lembaga pendidikan agar siswa-siswi baik yang normal atau berkebutuhan khusus, yang merupakan bagian dari kelompok suku, agama, dan ras, yang beragam tersebut akan memiliki kesempatan yang sama dalam meraih prestasi akademis.

Menurut Palmer (2003), dengan adanya pendidikan multikultural sejak dini, diharapkan anak mampu menerima dan memahami perbedaan budaya yang berdampak pada perbedaan usage (cara individu bertingkah laku); folkways (kebiasaan-kebiasaan yang ada di masyarakat), mores (tata kelakuan di masyarakat), dan customs (adat istiadat suatu komunitas).

Adapun menurut Farida Hanum (2008), peserta didik yang mampu memahami keragaman, terbuka terhadap kritik, mempunyai rasa empati yang kuat, bersikap toleran dan sejenisnya adalah mereka yang mengenyam pendidikan multikultural sejak dini.

Hal senada juga diungkapkan oleh Musa Asya’rie (2013) bahwa pendidikan multikultural mempunyai makna  sebagai proses pendidikan untuk bagaimana menghormati, tulus, toleransi terhadap keragaman budaya dalam lingkungan yang plural, sehingga peserta didik kelak memiliki mental yang tangguh dalam menyikapi konflik sosial di tengah masyarakat, di mana ia hidup dan berkembang bersama yang lain.