Peneliti
2 tahun lalu · 259 view · 5 menit baca · Politik images_117.jpg

Menyoal Pahlawan di Negeri Gaduh

Jutaan orang Indonesia, bahkan lebih, kini tengah disibukkan memproduksi argumentasi untuk melawan logika rival kelompoknya. Saling sindir, serang, dan tuduh menjadi tontonan sehari-hari seolah anyir darah menjijikkan mengepung jejaring sosial.

Kalimat-kalimat yang keluar dari setiap mulut, yang kemudian direpresentasikan dalam goresan tangan, tak lagi mencerminkan bahwa kita adalah satu bangsa, yang senasib sepenanggungan. “Yang berbeda denganku adalah musuh yang harus dihabisi, jika tidak, ia akan menghabisiku.” Demikian kesimpulan sederhananya.

Mencurigai atau dicurigai, mengancam atau diancam, melempar atau akan dilempar. Bangsa ini, tak mampu (lagi) merumuskan persoalan dan tak mampu menundukkannya dalam tempat yang benar. Kondisi demikian, menurut Alexander A. Apelaby (2016)  dapat menyebabkan neurosis kolektif yakni sakit jiwa massal.

Penyebabnya, tak lain, adalah tokoh utama yang sedang naik daun, tak henti-henti menjadi man of the match di media massa. Wartanya sampai ke negeri tetangga bahkan dunia. Dialah, Basuki Tjahaya Purnama, yang biasa disapa Ahok.

Hanya karena ulah mulutnya yang tak bisa dipahami nalar banyak orang, saat mengutip QS. Al-Maidah: 51, yang notabene berseberangan dengann mereka, ia menjadi sasaran empuk, bulan-bulanan, dan cercaan jutaan kaum muslim tertentu se-Indonesia, pula rival politiknya dalam pilkada DKI 2017. 

Di negeri ini, siapa pun bisa berkomentar apa pun. Kata dan kalimat berseliweran setiap detik, terlepas positif maupun negatif. Jangan tanya sumbernya valid atau invalid, fiksi atau nonfiksi, bisa dipertanggungjawabkan atau tidak, melanggar kode etik atau tidak. Semua kriteria tersebut tidak terlalu penting, yang terpenting adalah pesannya sampai ke pembaca. Naifnya lagi, pembacanya juga sangat mudah terprovokasi.

Gizi bacaannya buruk, pemahamannya rendah dan rapuh, sangat reaktif dan celakanya tipe pembebek. Sejatinya, setiap informasi yang didapat ia rasa, cerna, olah dan seleksi sebelum kemudian ia telan.

Negeri dan bangsa ini sedang sakit, bahkan akut. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Realitas tak bisa dibohongi atau dibikin pura-pura. Terkuras habis energi bangsa ini dipakai untuk membenci dan mencaci sesama anak bangsa. Seluruh persoalan minta diselesaikan di jalanan, bukan didialogkan di atas meja. Semuanya diumbar, aib seseorang ditelanjangi di ruang publik. Jauh dari kata beradab. Rupanya kedewasaan bangsa ini harus terus diasah dan diuji setiap waktu.

Saling Mengklaim Kebenaran

Jika dikerucutkan kondisi yang saya potret di atas, setidaknya ada dua pihak domain yang sedang berjuang menguatkan logika dan opini masing-masing. Keduanya sedang mencari dukungan dan pembenaran pihak luar. Segala daya dan upaya dikerahkan untuk menarik massa sebagai supporter. Semakin banyak didukung supporter maka ia menganggap dirinya benar, yang lain, otomatis, salah dan kalah. Padahal belum tentu demikian rumusnya.

Kebenaran itu tidak bisa diukur oleh kuantitas supporter, kebenaran adalah fakta telanjang yang berdiri sendiri apa adanya.

Kelompok pembela agama, misalnya, sedang mendapat angin segar, pasalnya, sedang didukung langsung oleh Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo (ILC TVOne, 8/11/2016), karena kebetulan pernyataannya sama dengan argumentasi yang dibangun mereka. Kira-kira demikian yang ia katakan “Perbuatan Ahok menjadi salahsatu faktor perpecahan dan harus segera diselesaikan.”

Jika ditafsirkan bebas apa yang disampaikan jenderal tersebut adalah Ahok sebagai biang keladi kegaduhan negeri ini. Kini, sang jenderal menjadi idola baru kelompok tersebut. Sorak sorai, acungan jempol dan sejumlah pujian membanjirinya.  

Sebaliknya, kelompok yang dianggap penista agama, juga tak kalah, mereka didukung, secara tidak langsung, oleh tokoh senior Muhammadiyah, Buya Syafii Ma’arif. Beliau menyesalkan sikap kegegabahan MUI yang berbuntut panjang hingga munculnya insiden aksi 4 November.

Beliau katakan: “Apakah kita mau mengorbankan kepentingan bangsa dan negara ini akibat fatwa yang tidak cermat itu atau apakah seorang Ahok begitu ditakuti di negeri ini, sehingga harus dilawan dengan demo besar-besaran? Jangan jadi manusia dan bangsa kerdil.”

Maarif tegaskan dalam tulisannya bahwa Ahok tidak menghina Al-Quran, berdasar pada video asli yang beliau lihat sebelum transkripnya diedit Buni Yani.

Dua orang yang saya sebutkan di atas merupakan tokoh besar di negeri ini, yang mempunyai pengaruh besar bagi rakyat biasa (commoner). Jenderal Gatot diklaim pembenar argumentasi pembela agama, pula demikian Syafii Ma’arif diklaim sebagai pembela korban yang diduga sebagai penista agama.

Dua orang tersebut seolah menjadi pahlawan. Mereka berdua sudah mempertimbangkan konsekuensi dan risiko yang bakal diterima. Selain mendapat sanjungan, pujian dan penghargaan. Dalam waktu bersamaan juga mendapat kritikan, cercaan, cemoohan dan tuduhan beragam yang langsung melabeli dirinya masing-masing.

Menjadi pahlawan memang penuh tantangan dan berisiko tinggi. Lihatlah bagaimana kerasnya perlawanan Bung Tomo sebagai pahlawan nasional saat mengusir penjajah dalam agresi militer di Surabaya. Beliau pasrahkan nyawanya untuk kemerdekaan anak cucu bangsa ini. Atau lihatlah bagaimana “pahlawan tanpa tanda jasa” di pedalaman dan pelosok negeri ini.

Mereka bekerja keras, berjuang tanpa lelah mengajari anak-anak penerus bangsa ini agar bisa membaca, menulis dan berhitung demi Indonesia yang berkeadaban. Dan sejumlah ilustrasi lain yang lebih ekstrem dari yang saya paparkan.

Pahlawan bagi Diri Sendiri

Tanggal 10 November selalu diperingati Hari Pahlawan, sebagai bentuk apresasi tertinggi kepada mereka yang telah berjasa untuk negeri ini. Saking hebat dan berjasanya terhadap negeri ini, di Surabaya dibangun sebuah monumen yang dijadikan markah kota tersebut, yakni Tugu Pahlawan. Monumen tersebut dibangun bermuatan historis dan filosofis. Tingginya, 41,15 meter, berbentuk lengkungan (canarules) berjumlah 10 lengkungan. dan terbagi menjadi 11 ruas.

Angka-angka di atas bukan sembarang angka. 10 lengkungan mempunyai makna perlawanan arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu dan Belanda dalam peristiwa agresi militer tanggal 10 Nopember. 11 ruas menerjemahkan bulan peristiwa tersebut, dan 41,15 adalah tafsiran tahun di mana insiden itu berlangsung.  

Jika kita merujuk pada etimologi kata “pahlawan”, kita semua harus menjadi pahlawan, setidaknya bagi diri kita sendiri. Menurut Wikipedia, pahlawan adalah bahasa Sansekerta, berasal dari akar kata; phala  dan wan, berarti orang yang dirinya menghasilkan buah phala yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama atau bisa ditafsirkan sebagai orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. atau pejuang gagah berani.

Setiap individu yang menyuguhkan buah kualitas tinggi untuk negerinya adalah pahlawan. Hendaklah, kaum agamawan menjadi pahlawan bagi umatnya, jangan jadi pengancam bagi yang berbeda tafsir dengannya. Politisi seharusnya menjadi pahlawan bagi konstituennya, jangan pernah menipunya.

Jenderal mestinya jadi pahlawan bagi anak buahnya, jangan sekali-kali arogan kepada prajuritnya. Presiden sejatinya menjadi pahlawan bagi rakyat kecilnya, jangan jadi penghamba Amerika atau China. Begitu juga bagi para menteri, kepala daerah dan lain sebagainya.

Kegaduhan negeri ini semestinya berhenti di sini. Energi yang tersisa hendaklah dipakai untuk membangun negeri, bukan sebaliknya. Negeri ini menunggu pahlawan-pahlawan baru untuk kemajuan, kesejahteraan dan kejayaan. Jangan mau diadu domba. Jadikan kitab suci setiap agama masing-masing sebagai nilai luhur, bukan alat penyerang. Jadikan Pancasila sebagai perekat, pemersatu bangsa ini. Indonesia Merdeka, Indonesia Jaya.