Lecturer
5 bulan lalu · 2312 view · 4 min baca · Budaya 49782_42205.jpg
The Commentator

Menyoal Paham Teologi Tulang Rusuk

Pada 8 Maret, Hari Perempuan Internasional tahun 2019 ini, saya ingin menyoal tentang pandangan mengenai teori penciptaan manusia, terutama bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk pria, dan bengkok pula. 

Kepercayaan itu diajarkan berabad-abad lamanya dan ditransfer nilainya dari generasi ke generasi, sehingga dianggap sebagai suatu kebenaran doktrin yang tak bisa dibantah dan dipercaya begitu saja. Ini menjadi penyebab manusia berjenis kelamin perempuan dipandang tidak utuh sebagai manusia.

Kepercayaan ini berasal dari tradisi Semit, termasuk diyakini sebagai bagian dari ajaran Islam. Jika ia berasal dari ajaran Islam, maka mari kita selidiki, bagaimana sesungguhnya teks Alquran berbicara tentang penciptaan manusia:

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (nafs wahidah), dan dari jiwa yang tunggal Allah menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak (QS. Al-Nisa (4):1).

Pada bagian lain, tersurat dalam Alquran: Dan di antara tanda-tanda kebesaranNya, Ia menciptakan pasangan-pasangan bagimu dari jenis kamu sendiri, supaya kamu hidup tenang dengan mereka, dan Ia menanamkan rasa cinta dan kasih di antara kamu (Qs, Ar-Rum (30): 21).

Atas teks-teks Alquran di atas, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan para sarjana muslim mutakhir lainnya menyatakan, ‎perempuan dan laki-laki diciptakan dari Diri Yang Satu dan merupakan pasangan yang integral. 

Jika pun ada pernyataan bahwa yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan adalah Adam, kata dimaksud bukanlah menunjuk pada nama jenis kelamin tertentu, melainkan menunjuk pada kata benda kolektif yang merujuk pada spesis manusia, bukan menunjuk pada jenis kelamin laki-laki.


Kata Adam sendiri berasal dari kosakata bahasa Ibrani, Adamah, yang bermakna tanah. Makna yang hampir disepakati oleh para ahli tafsir Alquran mengenai ayat ini adalah perempuan dan laki-laki diciptakan dari jenis yang sama, yakni sama-sama dari tanah.

Bahkan Riffat Hassan menyatakan, dari sekitar tiga puluh ayat yang menyebutkan penciptaan manusia oleh Tuhan melalui pelbagai tahapan, tidak ada satu ayat pun yang dapat ditafsirkan sebagai penegasan atau pernyataan bahwa laki-laki diciptakan sebelum perempuan, atau bahwa perempuan diciptakan dari laki-laki. 

Karena pada kenyataannya, terdapat beberapa ayat yang dari sudut pandang linguistik dapat ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa yang pertama kali diciptakan (nafs wahidah) adalah unsur perempuan, bukan laki-laki.

Bagaimana dengan kata 'Hawa' yang diyakini sebagai ibu pertama diciptakan setelah Adam, dan dimaknai perempuan penggoda Adam yang mengeluarkan keduanya dari surga? 

Menurut Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2015) bahwa kata 'Hawa' berasal dari bahasa Semit yang berarti 'ular', atau 'ular betina', sebuah kepercayaan masyarakat purba yang memandang ular tidak sebagai musuh, melainkan sebagai leluhur.

Hingga kini, masyarakat asli seperti masyarakat Aborigin Australia, Aranda, dan Diere memercayai bahwa ‎suku-suku mereka yang istimewa berasal dari kadal atau ular primordial yang bertransformasi menjadi manusia. Malah, orang Barat modern yang percaya pada teori evolusi juga berpikir bahwa kita pada dasarnya adalah reptil yang dimodifikasi.

Mengenai spesis manusia, masih menurut Harari dalam bukunya Sapiens (2014), ia mengelompokkan makhluk di alam semesta ini menjadi beragam spesies. Beberapa hewan disebut sebagai anggota spesies yang sama jika mereka bisa saling kawin dan menghasilkan keturunan yang subur. 


Kuda dan keledai memiliki leluhur yang sama dan menunjukkan banyak kemiripan fisik. Sementara spesies manusia dikelompokkan pada homo sapiens (manusia bijaksana) di mana jenis beragam spesies tersebut adalah simpanse, gorila, dan orang utan. 

Simpanse adalah anggota kelompok manusia yang paling dekat. Sebab enam juta tahun yang lalu, satu kera betina memiliki dua putri. Yang satu menjadi nenek moyang semua simpanse, yang satu lagi adalah nenek moyang manusia.

Kekerasan Simbolik

Apa yang hendak penulis ungkap dan ingatkan tentang teori penciptaan perempuan ini adalah bahwa sejak dari pikiran dan kesadaran, perempuan telah direndahkan keberadaannya melalui sistem makna yang dibangun oleh masyarakat. Sistem makna yang cenderung merendahkan ini ditransfer nilai-nilainya oleh pihak yang kuat terhadap yang lemah, oleh pihak dominan terhadap yang didominasi. 

Ia dilakukan oleh beberapa agen atau pelaku (termasuk para laki-laki yang berorientasi patriarch) dan pelbagai institusi (keluarga, sekolah, organisasi agama, negara) dalam bentuk pemaksaan simbol dan makna terhadap kebudayaan dan kelompok serta kelas sosial tertentu.

Perendahan ini oleh Pierre Bourdie disebut sebagai bentuk kekerasan simbolik, yakni bentuk kekerasan yang samar, halus, dan tersembunyi, sehingga makna tersebut tampak tidak bermasalah serta diterima oleh banyak kebudayaan sebagai sesuatu yang sah. Karena itu, ia direproduksi sedemikian rupa melalui beragam media pendidikan, mulai dari pendidikan keluarga, pendidikan formal, dan pendidikan non-formal. 

Akibat lebih jauh dari pemahaman tersebut adalah manusia berjenis kelamin perempuan ini dibeda-bedakan, baik dari aspek hukum agama, hukum negara, dan pembedaan dalam beragam kebudayaan masyarakat.


Sama dengan bentuk kekerasan fisik dan psikis, kekerasan simbolik ini berdampak buruk pada perempuan, seperti menimbulkan rendah diri, penakut, mudah cemas, tidak berdaya, dan bentuk-bentuk pelemahan lainnya. 

Karena itu, bentuk kekerasan simbolik tentang tafsir penciptaan perempuan dari tulang rusuk pria ini harus segera diakhiri. Ini merupakan salah satu cara untuk menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dalam pelbagai bentuknya.

Artikel Terkait