Artikel tulisan ini adalah respons serius dari tulisan Airlangga Pribadi Kusman di Geo Times berjudul Dialektika Pembebasan dan Penundukan Sains dalam Kapitalisme. Genealogi tawaran dalam tulisan ini kurang lebih seperti ini: bagi Kusman, ilmu pengetahuan manusia dalam tata organisasi sosial kapitalisme telah menjadi penggerak utama melalui inovasi riset (yang di dalamnya juga menyoal problem institusi pendidikan). 

Kusman memberikan realitas seputar krisis ekologis yang merupakan kontradiksi antara keseimbangan ekologis dengan sistem sosial mainstream, kapitalisme. Hal inilah yang bagi Kusman telah menciptakan inkorporasi ilmu pengetahuan, di mana ilmuwan bertindak dan terisoalasi kepentingan bisnis kapitalisme. 

Sehingga sikap Kusman, perkembangan aktual momen krisis tersebut merupakan momen terbaik untuk manusia berpikir waras merehabilitasi kemanusiaan beserta segenap ekosistemnya. Di sinilah tulisan tersebut kehilangan konteks dan utopis.

Absennya Penjelasan Negara

Saya memulai penjelasan antropologis yang juga menjadi bagian pemeriksaan hubungan materialis antara kapitalisme dengan ilmu pengetahuan dalam tulisan tersebut. Karl Marx dan Engels menaruh penjelasan ilmu pengetahuan dalam dialektika materialis historis-nya. Ilmu pengetahuan telah berkembang sejak pra-sejarah, manusia – kelompok masyarakat - telah melakukan pengembangan teknologi seperti alat berburu dan alat makan untuk bertahan hidup. 

Perkembangan manusia degan alat produksinya -alam- mulai mengalami ketercabutan seiring terbentuk dan berkembangnya kelembagaan yang makin advance dari kelompok hingga institusi modern – termasuk negara. Di sinilah juga proses hubungan sosial antara manusia dengan manusia serta kelompok dengan kelompok berubah menjadi ber-kelas. 

Dari penelusuran itulah kita sejenak patut mempertimbangkan analisis Karl Polanyi mengenai Homo Economic untuk menelusuri embedednya masyarakat dan pasar yang nantinya kita akan terbantu melihat posisi negara. Polanyi mengkritik self-regulating market system.

Menjadi penting mengenai analisa Karl Polanyi mengenai ketercabutan pasar dari relasi sosial masyarakat menjadi pasar yang menatur dirinya sendiri – self regulating system – atau dari masyarakat ekonomi di mana nature-nya manusia merupakan homo economic sehingga pasar ekonomi diatur di bawah aturan yang diciptakan oleh masyarakat (negara) menjadi ekonomi self regulating system atau sistem ekonomi pasar dengan demikiran proses ketercabutan tersebut lahirlah apa yang disebut masyarakat pasar. 

Kusman mengabaikan perkembangan institusional dalam melihat perkembangan hubungan kapitalisme dan ilmu pengetahuan. Perkembangan institusi modern dalam diskusi kapitalisme seharusnya diselesaikan sejak awal sebelum menyoal hubungan ilmu pengetahuan dan kapitalisme aktual.

Mengabaikan Kontekstualisasi sebagai Analisa

Analisa utama tentang hegemoni relasi oligarki tidak ditempatkan Kusman sebagai variabel penting dalam analisa Kusman mengenai krisis kapitalisme karena pandemi COVID-19. Sehingga terdapat dua pendapat yang saya ajukan. 

Pertama, di domain universal, problem utama dari krisis kapitalisme – setidaknya hingga hari ini – adalah berhentinya semua aktivitas ekonomi, penurunan konsumsi harian sektor non-pemerintah lumpuh. 

Pendapat teranyar dari David Harvey bahwa penyelamatan krisis kapitalisme – untuk sementara- adalah perubahan pola konsumsi dari sektor yang sebelumnya didukung sektor non-pemerintah menjadi konsumsi pemerintah. 

Kedua, in-korporasi sains yang di dalamnya koalisi intelektual yang menjadi problem yang mengganggu seorang Kusman dalam tulisannya adalah mekanisme yang nature dari format ekonomi neoliberal yang saat ini beroperasi. 

Hal ini dapat dilihat dari tesis Kusman dalam buku The vortex of Power (2019)  bahwa kaum intelektual tidak bersalah berkontribusi dalam perebutan kekuasaan yang membentuk lanskap politik Indonesia kontemporer (Kusman 2019). Penegasan berkali-kali bahwa intelektual, menurutnya, selalu terlibat dalam perebutan kekuasaan, utamanya di negara-negara dengan lanskap relasi oligarki yang mapan. 

Laporan IMF dalam Outlook Update Juni 2020 juga perlu diperhatikan seperti peningkatan daya dukung keuangan oleh negara bagi kapasitas perawatan kesehatan hingga penyaluran dana untuk produksi vaksin. IMF juga memberikan rekomendasi negara-negara emerging market and developing economies untuk melalukan proteksi konsumsi rumah tangga. 

Jika hal ini dilakukan di mana negara mengambil kontrol atas situasi krisis tersebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 di negara emerging and developing Asia positif di angka 7,4% di mana hingga akhir 2020 proyeksi pertumbuhan ekonomi negara emerging and developing Asia di angka negatif 0,8%.

Di level konteks, karena mengabaikan diskusi negara, Kusman terjebak pada analisa aktual yang utopis. 

Sebelumnya, Kusman memperkenalkan tesisnya dengan gambaran indahnya tentang intelektual sebagai pembawa obor ide-ide demokrasi pro-pasar dan liberal, analisis neo-Foucauldian tentang keterikatan intelektual dalam permainan dan hubungan kekuasaan diskursif, dan kritik neo-Gramscian terhadap intelektual sebagai agen kelas kapitalis transnasional. 

Namun dalam tulisan artikelnya di Geotimes, secara gagap melihat situasi inkorporasi sains terkait dengan pengembangan vaksin sangat bergantung pada logika bisnis adalah problem dan harus segera dibebaskan. Di sinilah logika materialis yang hilang. Pertautan relasi oligarki dengan kelas intelektual sebagai sebuah realitas digugurkan untuk membentuk optimisme dari krisis kapitalisme. 

Kesimpulan

Jika diterima Kusman maupun pembaca secara umum, saya memberikan dua catatan. Pertama, pentingnya degree of state dalam diskusi neoliberalisme aktual seharusnya menjadi bagian penting ketika melihat krisis kapitalisme dalam hal ini karena pandemi COVID-19. Meningkatnya peran negara justru menjadi bagian dari temporary fix krisis internal kapitalisme itu sendiri, dan ini harus diperhatikan.  

Kedua, kontektualisasi menjadi penting yang tidak bisa diabaikan. Saya dalam tulisan ini me-challengeargumen Kusman sendiri dalam The Vortex of Power mengenai pertautan kaum intelektual dengan relasi oligarki. 

Jika pengembangan sains dalam hal ini pengembangan vaksin harus terbebas dari logika bisnis sedangkan proses crisis fix adalah bagian dari internal krisis kapitalisme itu sendiri, maka tesis Kusman dalam The Vortex of Power justru relevan dalam situasi hari ini, justru dalam artikelnya Kusman mengabaikan tesisnya sendiri. 

Walaupun pada akhirnya saya tidak sepakat atas sikap Kusman mengenai pembajakan oligarki atas agenda neoliberalisme. Secara bersama-sama kelas intelektual, relasi oligarki dan agenda neoliberalisme bertautan pada satu titik dalam situasi pandemi COVID-19.