Mahasiswa
1 tahun lalu · 665 view · 5 menit baca · Agama 94055_36860.jpg
http://www.hdwallpaper.nu/christian-backgrounds/

Menyoal Moralitas Kaum Ateis

Entitas Yang Liyan dan Refleksi bagi Kaum Beragama

"Compassion is the basis of morality." - Schopenhauer

Belum lama ini, saya sengaja mengajukan satu pertanyaan nakal kepada teman-teman saya melalui fitur polling di Instagram. Anggaplah itu sebagai survey kecil-kecilan. Pertanyaannya kurang lebih begini: "Apa reaksi kalian ketika mengetahui ada kenalan, teman, atau pacar (dan lain-lain) yang ternyata tidak percaya pada eksistensi tuhan (atau ateis)?"

Saya memberikan dua opsi jawaban yang tak kalah nakalnya dari pertanyaan itu: (1). Semoga (dia) mendapat hidayah, atau (2). Nggak apa-apa, kok.

Hasil dari jajak pendapat singkat itu cukup menarik. Paling tidak, dari situ saya kemudian mendapatkan insight dan inspirasi sehingga akhirnya mampu menyelesaikan tulisan ini.

Opsi jawaban yang pertama yakni "semoga mendapat hidayah" meraih persentase suara lebih tinggi, yaitu sebesar 56%. Sedangkan dari puluhan partisipan yang ikut, 44% memilih opsi jawaban yang kedua. Adapun ketika polling ini dibuat, saya menitikberatkan kata kunci "hidayah" pada pilihan jawaban yang pertama.

Meminjam definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, hidayah berarti petunjuk. Seseorang yang sedang mendaki gunung, misalnya, tentu memerlukan petunjuk agar sampai ke puncak sebagai tujuan akhirnya.

Apakah petunjuk itu berupa arah penunjuk jalan ataukah menggunakan jasa seorang guide, apapun itu, intinya, tanpa petunjuk jalan seorang pendaki dikhawatirkan akan tersesat. Bahkan yang lebih parah, seorang pendaki bisa saja terperosok ke dasar jurang karena salah mengambil jalur.

Dengan analogi tersebut, kesimpulan sederhana yang dapat diambil yakni bahwa tanpa hidayah atau petunjuk seseorang dapat berisiko tersesat dalam hidupnya.

Kerangka berpikir itulah yang terkandung di dalam opsi jawaban nomor satu. Sedangkan, pilihan jawaban yang kedua tak lain merupakan negasinya. Dengan demikian boleh dikatakan jika pilihan jawaban yang pertama secara tersirat meneguhkan asumsi bahwa seorang ateis adalah individu-tanpa-petunjuk atau dengan kata lain: orang-orang-sesat. Namunapakah asumsi tersebut sudah tepat?

Sistem Moral Ateis dan Beban di Pundak Agama

Tak bertuhan berarti tidak mempercayai ajaran kebaikan (yang datang dari Tuhan). Tak bertuhan adalah sebuah kejahatan. Demikianlah stigmatisasi yang umumnya ditancapkan kepada mereka orang-orang yang memilih tak berkeyakinan.

Tapi apakah betul begitu? Tunggu dulu.

Di Aceh belum lama ini (28/1) tersiar kabar bahwa ada dua belas waria yang digunduli. Mereka diamankan dari sejumlah salon di kawasan Lhoksukon dan Panton Labu. Aksi pencidukan itu dilakukan oleh kepolisian dan wilayatul hisbah (polisi syariat) di wilayah Aceh Utara. Sampai artikel ini ditulis, saya belum juga menemukan alasan yang terang-benderang mengapa kelompok waria itu ditangkap hingga digunduli.

Namun yang jauh lebih mengusik ialah melihat bagaimana masyarakat, utamanya para warganet, bereaksi terhadap fenomena-fenomena semacam itu. Tak sedikit dari mereka yang kemudian mendadak menjadi polisi moral; menghujat apapun termasuk soal kewariaan yang sekonyong dianggap sebagai sesuatu yang amoral.

Padahal di sisi lain, Komnas HAM justru menyebut tindakan kepolisian tersebut sebagai aksi persekusi. Tindakan yang menurut Komnas HAM sebagai merendahkan martabat manusia itu, jelas-jelas dilakukan oleh sekelompok orang yang sama sekali bukan ateis.

Sama halnya seperti kelompok waria di atas, posisi ateis juga tak kalah terpinggirkan daripada itu. Merasa lebih superior, kita kemudian mengadili mereka dengan semena-mena hanya karena menyalahi apa yang kita imani sebagai kepatutan moral (moral fitness).

Meminjam istilah Simone de Beauvoir, kelompok ateis, LGBT, bahkan perempuan dan kelompok-kelompok minoritas lainnya adalah entitas yang liyan (the Other). Mereka secara realitas ada namun dikonstruksi sedemikian rupa oleh budaya dan sebagainya, sehingga akhirnya dianggap sebagai kelompok insidental semata, bukan esensial. Identitas mereka terus-menerus dicela. Suara mereka tak layak didengar, bahkan eksistensi merekapun dianggap tidak (boleh) ada.

Mengenai ateis sendiri, hasil studi yang diketuai oleh psikolog Will Gervais menarik untuk dicermati. Studi tersebut menemukan bahwa di seluruh dunia, orang-orang berasumsi jika mereka yang melakukan tindak kejahatan, bahkan kriminalitas ekstrem seperti pembunuhan berantai, kemungkinan adalah ateis.

Stigmatisasi seekstrem itu, seperti yang telah saya singgung di atas, sangat jamak terjadi di sekitar kita. Seorang ateis dianggap sama dengan pezina, pemerkosa, bahkan pembunuh berdarah dingin.

Pendeknya, sebagai entitas di luar kita, ateis dicap sebagai makhluk yang mesti dijauhi layaknya iblis. Prasangka semacam itu kemudian dipupuk terus-menerus hingga menumbuhkan bibit-bibit kebencian. Bahkan, pada satu titik itu mampu menyulut api kekerasan.

Kasus-kasus persekusi dan kekerasan yang dialami oleh kaum ateis, maupun kelompok minoritas lainnya (seperti Ahmadiyah dan Syiah), merupakan bukti betapa prasangka dan ketakutan pada pemikiran yang berbeda, bisa demikian mengerikan. Menganggap kelompok lain tak memenuhi "standar kebenaran" versi kelompoknya, kekerasanpun dijadikan jalan keluar satu-satunya. 

Sistem moral, sederhananya, mengandung landasan dan aturan mengenai tingkah laku yang baik dan benar. Sistem moral tidak mesti selalu bersumber dari dogma agama.

Sejak dulu kerja-kerja filsafat nyatanya mampu menghasilkan beragam sistem moral yang cukup komprehensif, yang kemudian lebih dikenal sebagai etika. K. Bertens dalam bukunya yang berjudul "Etika" menjelaskan secara rinci mengenai filsafat moral, termasuk di dalamnya soal kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, dan lain-lain.

Dengan demikian, setiap individu (termasuk kaum ateis) bisa saja memiliki sistem moralnya sendiri yang bebas dari paham-paham keagamaan. Dia bisa saja mengadopsi Etika Utilitarianisme Bentham-Stuart Mill sebagai pedoman hidupnya. Atau mengikuti Etika Kant yang berlandaskan pada kehendak baik (a good will).

Selain itu, tak menutup kemungkinan juga jika sistem-sistem moral yang bersifat filosofis tersebut lantas beririsan dengan ajaran agama yang ada. Berjalan beriringan, sama-sama mengajarkan kebaikan.

Di lain pihak, sistem moral yang berasal dari postulat agamapun nyatanya tak bebas dari 'masalah'. Moralitas keagamaan bisa berubah seiring dinamika sosial dan budaya di sekitarnya. Pada 1543, misalnya, Martin Luther yang merupakan salah seorang Bapak Protestanisme, menerbitkan risalah berjudul "Orang Yahudi dan Kebohongan Mereka”.

Risalah tersebut mempromosikan sentimen anti-Semit yang merupakan satu kelaziman bagi berbagai kelompok agama pada zaman itu. Kini bagi para penganut Protestan tentu ajaran tersebut sudah tak berlaku lagi.

Di Indonesia sendiri, persoalan yang dihadapi oleh agama mengenai moralitas juga tak kalah kompleks. Fakta menunjukkan bahwa korelasi antara ajaran agama dan moralitas kemasyarakatan tak selalu saling sejalan.

Ketika agama hakikatnya mengajarkan kasih sayang dan kepedulian, namun yang kita jumpai justru ialah laju individualisasi yang semakin hebat. Jurang kesenjangan antara lapisan masyarakat pun terus-menerus melebar. Jangankan harapan terciptanya solidaritas dan toleransi antar mereka yang berbeda keyakinan. Antar mereka yang jelas-jelas satu keyakinanpun, nyatanya api permusuhan kian menyala-nyala.

Cita-cita sejati agama yang menghendaki pembebasan dan kesetaraan sosial pada akhirnya seakan menjadi utopia belaka. Agama seolah hadir hanya sebatas sebagai “obat penenang”; sarana pelarian dari realitas hidup yang dianggap begitu menyiksa menuju pelepasan spiritual yang melegakan.

Gagasan ini sesungguhnya tidak baru. Gus Dur dalam banyak kesempatan kerapkali menyinggung persoalan semacam ini. Dalam salah satu kolomnya yang bertajuk "Dakwah Harus Diteliti?", misalnya, ia mengkritisi sejauh mana pengaruh dan efektivitas dakwah terhadap perubahan sosial yang positif.

Sudahkah itu mampu menciptakan rasa solidaritas dan toleransi yang hakiki - bukan sekadar di permukaan saja? Ataukah jangan-jangan malah semakin mempertajam eksklusivisme kelompok?

Tampaknya, jeratan eksklusivismelah yang jauh lebih berkuasa. Ia melenakan sekaligus membutakan. Adalah kemudian menjadi satu tantangan besar bagi kita semua, terutama kalangan umat beragama, untuk mampu melepaskan diri dari narasi aku vs kau maupun kami vs mereka (yang liyan).

Jikalau akhirnya mampu lulus melewati tantangan itu, kelak dapat tercipta satu narasi damai yang menyejukan. Yakni hanya ada kita: sesama manusia.