Tulisan ini berangkat dari informasi adanya film “Jejak Khilafah di Nusantara” yang akan dirilis dalam waktu dekat. Fokus tulisan ini sebenarnya menyoroti proses pembuatan film tersebut.

Menurut akun Khilafah Channel, rencananya Jejak Khilafah di Nusantara (disingkat JKN) akan di-publish pada 1 Muharram nanti. Berkisah tentang sejarah perjalanan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara dan adanya hubungan diplomatik dengan ekhalifahan Islam saat itu (Turki Utsmani).

Film bergenre dokumenter ini diklaim menggunakan sumber sejarah yang sahih, serta melewati sedemikian rupa penelitian lapangan. Melalui visual yang memukau, dan verbal yang meyakinkan, penonton dapat dibuat kagum dan seketika mengangguk-angguk.

Agar tidak terkesan menghakimi dan memiliki argumentasi ilmiah yang jelas, kami mencoba mengesampingkan 'ideologi' pembuat film. Dengan begitu, tulisan ini dapat menjadi sebuah dialektika ilmu pengetahuan.

**

Perlu diketahui bersama, bahwa sejarah adalah semesta yang penuh misteri. Sejarah banyak sekali memberikan kemungkinan penafsiran yang beragam (multi-tafsir). Tergantung sejauh mana langkah yang ditempuh untuk membedahnya.

Bisa diibaratkan seperti kita diminta menjelaskan satu per satu properti yang ada dalam suatu ruangan gelap. Setiap orang yang masuk ke dalam ruangan itu tentu akan kesulitan melihat dan menjelaskan seperti apa satu persatu barang yang ada disitu.

Cara termudah untuk mengidentifikasinya adalah dengan melakukan perabaan. Akan tetapi setiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Sehingga apa yang ia raba dan cara menyimpulkannya terkadang berbeda.

Kesimpulan mana yang paling benar, adalah mereka yang memiliki tingkat ingatan bentuk yang paling banyak, serta pengetahuan tentang barang yang ia sentuh. Kalaupun salah, setidaknya masih bisa dikatakan ‘mendekati’.

Permasalahannya muncul, ketika ada yang masuk ke dalam ruangan itu, secara tidak teliti meraba satu per satu properti yang ada. Cara ia berpindah dari satu properti ke properti lainnya juga serampangan sehingga menabrak tiap properti.

Bukan saja propertinya yang kemungkinan rusak, tapi juga anggota tubuhnya yang bisa jadi merasakan sakit. Sehingga membutuhkan perbaikan dan pengobatan.

Kiranya, begitulah contoh betapa penelitian sejarah, perlu kehati-hatian berlebih. Karena sejarah tidak hanya berusaha menguak masa lampau, tetapi juga sebagai pengawal masa depan, agar tidak terjadi permasalahan berulang atau tambahan.

Itulah yang kami dapati selama mengais ilmu sejarah di jurusan sejarah dahulu. Bahwa kehati-hatian dalam mengolah sumber, dan purpose (tujuan) dari suatu hasil penelitian masa lalu haruslah memiliki standar kredibilitas yang mumpuni.

Proses menuju hasil yang memiliki kredibiltas ini dilalui dengan melakukan suatu kerja penelitian yang bernama Metodologi Penelitian Sejarah.

Nah, kru film Jejak Khilafah di Nusantara kiranya perlu melihat kembali proses metodologinya. Bahwa sebelum jauh pada konklusi (kesimpulan) dan membuat suatu historiografi (tulisan sejarah/hasil dari penelitian) penting memahami step demi step secara komprehensif.

Sebagai sebuah film dokumenter sejarah, proses metodologi sangatlah penting. Sebab inilah patron di berbagai macam penelitian sejarah. Baik jurusan sejarah kampus umum, kampus Islam, ataupun lembaga riset sejarah independen mana pun.

Proses metodologi bukan seperti jejeran lauk prasmanan yang tinggal ambil kemudian menjadi suatu kudapan siap santap. Metodologi juga bukan sekadar proses memasaknya. Tapi juga kompor, wajan, bumbu-bumbu yang dipakai bahkan rincian terhadap kualitas bahan bakunya.

Sedikit izin lebar mengulas, bahwa proses metodologi itu adalah Heuristik (pengumpulan sumber), Verifikasi (pemilahan sumber), Interpretasi (proses penafsiran), dan Historiografi (penulisan hasil penelitian sejarah).

Proses empat besar step ini pun belum berhenti. Ada step lanjutan yang menjadi akar-akar penelitian setelahnya.

Misal, heuristik dibagi menjadi primer, sekunder dan tersier. Ada pula pembagian berdasarkan subjek, waktu, pelaku dan peristiwa. Step ini pun perlu dikaji kembali apakah masih menyalahi kesalahan-kesalahan dalam proses identifikasinya.

Beberapa kesalahannya yaitu holism (generalisasi peristiwa dan menyamakan seluruh peristiwa lainnya), pragmatis (sumber tunggal/satu sudut pandang) sampai kesalahan ad Hominem (keliru menentukan sumber yang diambil informasinya).

Ini belum ditambah verifikasi, interpretasi dan historiografi yang juga memiliki akar mendetail yang sama. Proses  inilah yang sering dilewatkan oleh beberapa tokoh, namun mengklaim dirinya sebagai seorang sejarawan.

Film JKN ini agaknya melibas beberapa step di atas. Ini kami temukan sejak awal mengikuti launching dalam bentuk diskusinya, serta menyoroti setiap detik thriller-nya. Karenanya, film JKN sebaiknya perlu ditinjau kembali, sebelum memunculkan kontroversi dan mispersepsi terhadap sejarah peradaban Indonesia kita.

Benar, bahwa wilayah kepulauan di Asia Tenggara yang dikenal Nusantara ini memang pernah berdiri beragam kerajaan. Baik yang menggunakan agama Islam sebagai basis ideologi kerajaannya, maupun yang masih menggunakan hukum adat. Namun, persepsi bahwa kerajaan kita merupakan perpanjangan tangan dari kekhilafahan yang ada di dunia perlu kembali dikoreksi.

Bukti sejarah memang menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara Nusantara dengan negeri lainnya. Namun sepotong bukti itu melewatkan bukti pendukung lainnya bahwa hubungan tersebut sebelumnya sudah ada.

Hubungan diplomatik antara Nusantara dan negeri lainnya sudah dimulai sejak awal-awal abad Masehi. Sebagaimana adanya hubungan diplomatik yang baik antara Kutai Kartanegara sejak abad 5 dengan bangsa lain.

Jika yang menjadi tolok ukur hanyalah hubungan diplomatik antara Kesultanan Utsmani dengan Kesultanan Aceh (abad 12-15), kenapa tidak dijelaskan pula bagaimana hubungan kerajaan di Nusantara dengan kekhilafahan sebelum Utsmani? (abad 8-15).

Padahal, kedigdayaan Dinasti Abbasyiah sebagai imperium besar yang ‘menguasai dunia’ juga harus dipertimbangkan. Sebagaimana kita mengenal banyak ilmuwan dan tokoh terkemuka muslim lahir dari periode ini.

Ini baru satu hal koreksi terkait sejarah hubungan diplomasi antar-kerajaan di dunia.

Hubungan diplomasi Nusantara pun sebenarnya bukan hanya dengan kesultanan Muslim. Tapi juga dengan armada Tiongkok, India, Belanda, Spanyol dan Portugis. Lantas, ketika Kerajaan Islam Nusantara ada yang memiliki hubungan dengan tiga yang terakhir disebut, apakah kemudian disebut kerajaan murtad?

Memang bisa dimaklumi tidaklah mungkin menjelaskan sejarah secara menyeluruh dalam suatu frame. Namun ada yang lebih disayangkan lagi, yakni memaksakan satu frame untuk menyeluruhkan semua persamaan dan kepentingan kelompok.

Thus, bisa dikatakan, di sini terjadi penyempitan makna dari sebuah kronik sejarah. Bisa disebabkan proses metodologinya yang kurang tepat, atau mungkin kurang kehati-hatiannya dalam memilih pisau analisis.

Tentu hadirnya film ini perlu ‘diapresiasi’, mengingat ada sekelompok orang Indonesia yang 'peduli' dengan sejarah negerinya. Bahkan berusaha menjabarkan melalui bukti-bukti arkeologis dan naskah-naskah yang merupakan abstraksi dari sebuah skripsi.

Setidaknya ini adalah usaha media yang baik, meskipun alur dan penempatannya rupanya terlampau sangat jauh keliru. Serta terkesan memaksakan dan mengabaikan proses etika metodologi dengan mengutip informasi narasumber kemudian menyetirnya.