Di era yang pascamodern ini, perkembangan filsafat khususnya sudah mulai bergeser dari filsafat modern ke postmodern. Di antara beberapa slogan yang digembor-gemborkan dalam postmodern adalah dekonstruksi. Yakni menilai ulang, meninjau ulang makna suatu pemikiran tertentu. Bentuk aplikatifnya bisa didapat dari pemaknaan ulang atau penakwilan makna teks tertentu.

Di sini penulis ingin sedikit memberikan analisisnya terhadap kata yang sering digunakan yang perlu ditinjau ulang maknanya. Yang tentunya dekonstruksi oleh penulis tidak hanya berhenti pada kata saat ini. Sangat mungkin di waktu-waktu ke depan akan muncul pemikiran-pemikiran baru. Dan kemungkinan juga akan termuat dalam tulisan-tulisan berikutnya. Baca juga artikel sebelumnya.

Kata yang dimaksud adalah rumah. Apakah itu rumah? Apa yang dimaksud dengan rumah? Adakah kata lain yang semakna dengan rumah? Atau adakah penggunaan makna rumah yang tidak tepat digunakan dalam kalimat, dalam kehidupan dan dalam teks akademik, seni dan sastra?

Kalau dalam Bahasa Inggris, ada dua kosakata yang diartikan rumah dalam Bahasa Indonesia, yakni house dan home. Lantas apa perbedaan makna di kedua kosakata tersebut?

Melihat kamus Inggris, kita dapat melihat definisi dari masing-masing kata.

House: a building in which a person or a family lives

Home: a house or apartment where a person or a family lives

Jane Mairs (Director of English language Learning Publishing) dalam artikelnya menjelaskan perbedaan keduanya. Perbedaan keduanya terletak pada konsentrasinya, house menunjuk pada bangunan rumah itu sendiri.

Sedangkan home menunjuk pada bangunan atau lokasi tempat ia tinggal. Bisa jadi berupa house, apartemen, ataupun gua. Home menunjuk tempat yang abstrak. Kalimat let’s go home tidak berarti ajakan untuk pergi ke tempat tinggal secara fisik. Namun bisa diartikan tempat spesial yang kamu merasa nyaman dan itu milikmu.

Dari penjelasan di atas, kata house bisa diartikan sebagai bangunan rumah secara fisik. Sedangkan home diartikan sebagai “rumah” secara esensial, yang dianggap nyaman untuk ditinggali, yang kamu merasa aman di sana, yang itu milikmu bisa berupa bangunan (rumah, masjid, gereja, tempat ibadah, kos-kosan, sekretariat, pondok pesantren, asrama) ataupun sesuatu hal seperti komunitas, organisasi, bahkan kelompok.

Lantas adakah analogi makna antara house dan home dalam Bahasa Indonesia? Kalaupun ada, apakah penggunaannya semasyhur penggunaan kata home dan house?

Menjawab pertanyaan di atas, penulis menemukan sesuatu di puisi karya Umbu Landu Paranggi yang ditulis tahun 1970.

Apa ada angin di Jakarta

“Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati”

Baris terakhir cukup menarik perhatian penulis, dikarenakan ada kata yang jarang dipergunakan. Yakni kata “huma”. Jika melihat KBBI, didapatkan hasil sebagai berikut :

Rumah: bangunan untuk tempat tinggal; bangunan pada umumnya (seperti gedung)

Huma: ladang padi di tanah kering; tanah yang baru ditebas hutannya

Menurut hemat penulis, pemberian makna huma sebagai berikut (dalam KBBI) masih kurang tepat dipergunakan. Hal ini lebih berkaitan dengan penempatan makna di bait puisi tersebut. 

Kalau dilihat maknanya, puisi di atas bertujuan memotivasi agar para perantau agar kembali dari kota menuju desa untuk membangun desanya kembali. Karena desa tempat asalnyalah rumah ternyaman. 

Ataupun bisa juga diartikan bahwa “huma berhati” adalah lading-ladang, sawah-sawah yang ada di desa dikarenakan banyaknya sawah dan lahan di desa yang terbengkalai akibat dari urbanisasi yang cukup massif. Hal ini didukung pula dari penjelasan Emha Ainun Najib - yang juga sekaligus murid dari Umbu Landu. Bahwa huma dimaknasi sebagai “home” dalam Bahasa Inggris.

Apakah kita harus mengikuti KBBI? Pertanyaan yang cukup menarik. Namun ada artikel yang ditulis oleh Nursalam AR dengan judul: “Haruskah fanatik pada KBBI?”

Dapat disimpulkan bahwa jawaban beliau adalah TIDAK. Beliau megajukan dua alasan utama. Pertama, karena KBBI adalah produk manusia sehingga masih ada kemungkinan salah di dalamnya. Walaupun tidak menafikan bahwa penyusunnya merupakan para ahli bahasa.

Alasan kedua, inkonsistensi prinsip penyusunan KBBI. Bila dibandingkan dengan negara tetangga yang masih serumpun bahasanya, yakni Malaysia. Dalam Kamus Dewan (KBBInya Malaysia) penyerapan bahasa asing didasarkan pada pelafalan bunyi bahasa aslinya. Contoh: mesej (message : inggris), taip (type: inggris). 

Sedangkan Bahasa Indonesia, lebih diserap berdasarkan makna atau pengertian konsepnya. Misal: daring (dalam jaringan, dari kata online: inggris), pelantang (dari kata microphone : inggris). 

Namun kenyataannya, KBBI melanggar prinsip tersebut. Hal ini dibuktikan dengan beberapa contoh kata seperti kata “twit” untuk “tweet” padahal sudah sering kita dengan dan pergunakan kata “kicauan” sebagai pengganti kata tersebut. 

Selain alasan tersebut, ada pula alasan akbat adanya supremasi Bahasa Inggris sebagai bahasa yang mendunia. Sehingga kata “debet” yang berasa dari serapan Bahasa Belanda, berubah menjadi “debit” yang notabene berasal dari Bahasa Inggris. Walaupun faktanya masih banyak pula yang mempergunakan kata “debet” dibanding “debit”.

Maka dapat disimpulkan bahwa analog kata house dalam Bahasa Indonesia adalah rumah, sedangkan analog kata home adalah huma. 

Pertanyaan kedua, apakah penggunaannya semasyhur penggunaan kata home dan house? Jawabannya adalah tidak. Walaupun faktanya pemaknaan kata rumah oleh sebagian orang juga dipahami sebagai “huma/home”. 

Misalnya ketika ada anak yang lebih betah berada di asrama, pondok, di sekretariat ekstra kulikuler di sekolahnya, ataupun di sekretariat organisasi. Yang mungkin bagi mereka lebih nyaman berada di “rumah kedua” ini dari pada di rumahnya sendiri.