Pengantar

Postmodernisme dan sejumlah variabel yang diciptakannya secara holistik membuka peluang-peluang bagi lahirnya tradisi pemikiran yang benar-benar baru atau pemikiran lama yang terus menerus direvitalisasi sebagai bagian darinya. Dunia dia abad ke-21 disesaki oleh manuver-manuver informasi yang sedemikian gamblang dan cepat, hingga daya interpretasi manusia seakan tak berlaku lagi.

Sedemikian gamblang, sehingga setiap fenomena yang lahir dan muncul di berbagai tempat dapat tersaji dengan jelas dan hampir tanpa interpretasi. Dalam memandang dinamika dunia kontemporer, manusia dihadapkan pada berbagai wacana yang menggelitik untuk dibicarakan, baik dalam bingkai pembicaraan informal maupun dalam konteks resmi yang biasanya menggunakan kaidah saintifik.

Salah satu fenomena lama yang kembali memperbarui dirinya adalah diskursus seputar LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Saya meyakini, isu ini sangatlah klasik dan cenderung basi, namun, manusia perlu menyelam lebih dalam, mengasah lebih tajam dan mendaki lebih tinggi guna menemukan paradigma baru dalam menanggapi berbagai isu lama yang sebenarnya tidak lagi lama dan basi. Isu LGBT adalah sebuah fenomenon yang  senantiasa lestari dikaji.

Sekelumit Narasi Historis tentang LGBT

LGBT, sebagaimana terminologi ini digunakan, mengacu pada komponen-komponen orientasi seksual yang tak lazim dalam konteks sosial dan keagamaan. Lesbian mengacu pada ketertarikan  seksual seorang perempuan terhadap perempuan lainnya, Gay, mengacu pada ketertarikan seksual seorang lelaki pada lelaki lainnya, Biseksual, mengacu pada ketertarikan seksual seseorang baik terhadap sesama jenis maupun lawan jenis, dan Transgender, yang mengacu pada pengubahan/transformasi diri dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya (awalnya lelaki kemudian mengubah dirinya menjadi perempuan atau sebaliknya) merupakan sebuah fenomenon lama.

Secara historis, di zaman kekaisaran Romawi, terdapat sejumlah orang yang telah memiliki disorientasi sejenis. Nero, seorang kaisar Romawi (54-68 M) memiliki empat orang isteri. Isteri terakhirnya bernama Sporus, yang sebelumnya adalah seorang lelaki dan diperintahkan untuk mengubah dirinya menjadi perempuan.

Selain itu, seorang mantan gladiator, Spartacus, yang memberontak pada tahun 73-71 SM, memiliki sepasang pengikut, Agron dan Nasir. Keduanya adalah pasangan sesama jenis. Alexander the Great, salah sorang megaloman dari Makedonia (336-272 SM) di balik kesuksesannya menguasai sepertiga wilayah dunia, adalah seorang biseksual. Pasangan lelakinya, Hephaistion dan Bogoas adalah lelaki-lelaki yang setia mendampinginya.

Di era modern,  seorang pendongeng terkenal asal Denmark, Hans-Christian Andersen (1805-1875) adalah pesohor dunia yang juga adalah biseksual. Andersen, secara diam-diam terlibat dalam hubungan percintaan dengan sahabat lelakinya, Edvard Collins.

Runutan historis perihal keberadaan LGBT menjadi eksponen utama LGBT di era post-modern. Ia lahir dan tumbuh dalam dinamika masyarakat yang kompleks serta tak memandang ideologi negara tempat ia lahir. Dinamika LGBT tak pandang isu politik, ekonomi maupun budaya, ia lahir dari sebuah pengalaman empiris individu yang secara personal tidak merasa nyaman dengan kondisi tubuh dan jiwanya.

Hal ini diperjelas oleh tumbuhnya kebebasan berpikir pada periode Aufklarung di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19 yang serta merta mengubah struktur kemasyarakatan dan menginisiasi  pola interaksi baru dalam hubungan sosial antar individu. Liberalisme sebagai produk utama Aufklarung telah menjadi kredo utama sebuah zaman baru (New Age) dalam cara pandang masyarakat.

Tanpa bermaksud menggeneralisasi, dinamika Eropa yang sedemikian kompleks telah menginjeksikan sejumlah wacana dasar yang sebenarnya telah diketahui oleh masyarakat di belahan dunia lainnya, namun, dalam memandang konteks LGBT, Eropalah yang telah dengan sadar merevitalisasi isu ini menjadi sebuah isu global lewat imperialisme dan kolonialisme yang mewabah di abad ke-17.

Walaupun dalam beberapa kasus isu ini terdapat di beberapa wilayah di luar Eropa, benua biru tetap menjadi penyumbang terbesar pemikiran liberalisme yang menghalalkan LGBT dalam scope global.

LGBT Serta Kontroversinya

Sebagian besar kritik yang diarahkan kepada individu-individu pelaku LGBT dilontarkan oleh organisasi keagamaan dan lembaga pendidikan. Nahdlatul Ulama (NU) dalam situs resminya, nu.or.id per tanggal 26 Januari 2016 secara tegas menolak keberadaan kelompok LGBT di Indonesia yang dinilai bertentangan dengan moral  dan budaya bangsa. Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi-Pendidikan Tinggi, M. Nasir, dengan tegas menolak keberadaan LGBT di Indonesia yang dianggap melanggar kesusilaan dan standar nilai yang dijaga.

Setali tiga uang, Bapa Suci Paus Fransiskus selaku pemimpin Gereja Katolik Roma Universal pernah menolak kedatangan Laurent Stefanini, duta besar baru Prancis untuk Vatikan. Pasalnya, ia adalah seorang gay. Sementara itu, beberapa komunitas Hindu di dunia tidak memberikan tanggapan tegas terhadap LGBT. Di Amerika Serikat, terdapat komunitas The Gay &Lesbian Vaishnava Association yang bergerak dari persamaan agama secara rutin menjalankan kegiatannya bersamaan dengan kegiatan keagamaan.

Konteks yang dibangun dalam dinamika LGBT adalah konteks yang lahir dari sebuah sentimen. Pada dasarnya, manusia tak dapat menghindarkan dirinya dari asumsi. Sebuah asumsi yang lahir dari fondasi pengetahuan yang diperolehnya menentukan tanggapan dan asumsi yang diambilnya.

Pada dasarnya, susah mempertemukan argumentasi agama yang berbasis teologi dan pledoi kaum LGBT yang umumnya berangkat dari basis rasionalisme yang sebetulnya tidak keliru. Dalam mengkritisi fenomenon LGBT, jika menggunakan pendekatan rasio-empirisme sebagai dasarnya, kita tidak akan menemukan posisi salahnya karena titik berangkat kita adalah pada persoalan benar salahnya.

Tidak ada yang salah dengan konsep LGBT yang menurut para aktivisnya merupakan perwujudan Hak Asasi Manusia (HAM). Secara akali, masyarakat mesti melihat kenyataan ini dalam kerangka yang lebih luas. Persoalan LGBT tidak melulu harus dipandang secara moral, bahwa ia adalah sebuah fenomenon aktual.

Pemikiran selanjutnya yang sekiranya tidak bertentangan dengan HAM adalah sedapat mungkin memikirkan suatu solusi yang tidak berorientasi menghilangkan disorientasi ini melainkan mengupayakan suatu konsensus bersama guna secara perlahan menghilangkan pengaruhnya di masyarakat sehingga tidak ada eksesnya di kemudian hari.

Melihat LGBT sebagai sebuah fenomenon tunggal memudahkan para pengambil kebijakan memetakan permasalahannya  secara lebih mendalam. Menggunakan pendekatan koersif dan melulu moralis tentu tak akan benar-benar berhasil mendestruksi dampak negatif LGBT. Basis rasionalisme dan empirisme mesti dimanfaatkan.

Persoalan dasar para pelaku LGBT tentu sangatlah kompleks. Pendekatan sosiologis  dan psikologis sangat dibutuhkan untuk meredam penyebarannya ke generasi muda yang sangat rentan terkena pengaruhnya. Ini merupakan sebuah kerja jangka panjang, Sementara itu, mereka yang sudah jatuh dalam disorientasi ini mesti secara sadar mengakui bahwa LGBT merupakan sesuatu yang secara moral tidak baik karena menentang kodrat (prosopon) yang digariskan Tuhan.

Relatif susah menggunakan pendekatan etis terhadap mereka yang murni menggunakan pisau analisis rasionalisme untuk berargumentasi, namun pada hakikatnya, sebuah pendasaran pengetahuan selalu berangkat dari antitesis terhadap agama yang secara paradoksal menjadi katalisator utama lahirnya rasionalisme-empirisme.

Kombinasi pendekatan ini akan sangat efektif menderadikalisasi  para pelaku LGBT. Hal ini tentu mesti dilakukan untuk menghindari konflik horizontal antar masyarakat yang pro dan anti-LGBT.

Probabilitas  konflik dalam kasus ini sangatlah besar karena Indonesia adalah negara yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai moral keagamaan dan tentu saja dengan basis rasio yang didominasi oleh religious-centered, kaum LGBT dianggap akan mendatangkan malapetaka bagi bangsa jika tak bertobat namun kaum LGBT merasa tak ada yang salah dengan orientasi seksual mereka. Bila hal ini berlarut-larut, akan ada kerusuhan masif yang terjadi.

Prediksi ini sangat beralasan menimbang variabel-variabel pembentuknya. Untuk itu, penyelesaian masalah ini mendesak dilakukan sebagai bagian dari pemetaan kemungkinan yang sedianya menjurus pada resolusi konflik,

Penutup

Menimbang LGBT dalam terang moralitas dan rasionalisme-empirisme tentu sangat penting dilakukan guna menyediakan sejumlah peluang yang dapat dimaksimalkan oleh setiap individu. Liberalisme memang membuka sejumlah kemungkinan yang tak terakses oleh individu pada masa-masa sebelumnya, termasuk lahirnya kembali LGBT sebagai fenomenon retrospektif.

Akan tetapi, konsekuensi yang ditimbulkan dari wacana ini adalah kemungkin perselisihan yang potensial berujung pada konflik fisik antara pihak-pihak yang pro dan kontra. Untuk itu, sebuah win-win solution mesti diperoleh untuk mereduksi ekses negatif LGBT sebagai bagian dari gejala sosial yang tengah mapan.