Tulisan ini akan membahas tentang wacana terorisme virtual di Asia Tenggara saat pandemi. Seperti yang kita ketahui saat ini, dunia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kasus pandemi covid  yang berlangsung sejak 2019 mengalami penurunan bahkan kenaikan yang signifikan. Begitu banyak yang telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi penyebaran covid-19, contohnya yang sedang hangat dibicarakan adalah PPKM (Peraturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) darurat.

Terlepas dari semua cara yang dilakukan pemerintah, ada hal yang tak kalah pentingnya yang harus diperhatikan terkhususnya di wilayah Asia Tenggara, yaitu adanya isu, wacana, sampai dengan gencatan senjata oleh terorisme yang dilakukan di saat pandemi.Pandemi Covid-19 seharusnya bisa membantu beberapa negara untuk meminimalisir terjadinya gencatan senjata terorisme di seluruh dunia. Karena pandemi ini berdampak pada krisis ekonomi yang membuat teroris susah untuk mencari dana dan semangatnya pun akan melemah.

Tetapi hal ini berbeda di wilayah Asia Tenggara yang justru masih beredar isu gencatan senjata oleh terorisme. Meskipun jumlah aksi terorisme dianggap mulai menurun, masih terdapat sejumlah operasi intensitas rendah (LIO) di seluruh Asia Tenggara, mulai dari pemenggalan kepala hingga serangan terisolasi terhadap polisi dan personel militer, tulis Siddharth Anil Nair, peneliti South East Asia Research Programme (SEARP) IPCS di Eurasia Review.

Keadaan pandemi yang kian parah ini membuka peluang besar bagi terorisme untuk mengalihkan isu gencatan senjata. Ketika negara sibuk dengan bagaimana cara menanggulangi covid-19, disinilah para terorisme beraksi dan memanfaatkan keadaan yang ada. Meskipun  gerak mereka terbatasi di masa pandemi ini, tapi mereka sudah mempunyai solusi untuk tetap melakukan serangan terorisme tanpa harus terjun langsung ke lokasi yang akan dijadikan sasaran.

Yaitu para terorisme menggunakan media online atau media virtual untuk kelanjutan misinya. Dengan media virtual ini isu terorisme terus di gencarkan dan menyebarkan kebencian pada etnis tertentu, sehingga akan berdampak pada pemikiran radikalisme. Media virtual ini dianggap salah satu solusi yang efektif untuk tetap menyebarkan ajarannya. Dengan menggunakan media virtual, para teroris tetap berusaha menjalankan aktivitasnya layaknya sebelum terjadi pandemi covid-19.

Seperti yang disampaikan oleh kepala BNPT (Badan Nasionalisme Penanggulangan Terorisme) “Selama masa pandemi grup teroris memaksimalkan aktivitas daring. Mereka aktif melakukan propaganda dan proses rekrutmen anggota bahkan soal pendanaan”. Aktivitas yang dilakukan teroris menggunakan media virtual ini dianggap sangat berbahaya bagi kaum pemuda. Mengingat media online atau virtual merupakan media yang sering dijangkau oleh generasi pemuda sehinga mudah untuk didoktrin. Doktrin yang diberikan tak lain lagi yaitu agar mereka bisa mendukung ideologi para teroris dan kemudian ikut terjun melakukan aksi terorisme.  

Tak hanya itu saja, kepala BNPT  juga mengatakan bahwa ada kecenderungan perempuan menjadi teroris. Studi dari Soufan Center menyebut angka dukungan kepada teroris yang dilakukan kaum perempuan bertambah di wilayah Asia Tenggara. Secara statistik pada 2015 ada tiga perempuan yang ditangkap karena kasus terorisme. Jumlah itu naik drastis kurun waktu 2016 hingga 2020 yang mencapai 40 orang. Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia telah menyaksikan aksi terorisme yang dilakukan wanita seperti di Surabaya (Jawa Timur), Sibolga (Sumatera Utara), dan baru-baru ini di Makassar (Sulawesi Selatan). Hal ini sesuai dengan ideologi dari para terorisme bahwa perempuan diperbolehkan untuk berijihad. Perempuan yang ikut berjihad bagi mereka dianggap seperti naik pangkat.

Dari beberapa pembahasan diatas, membuktikan bahwa pandemi covid-19 tak hanya berdampak pada kesehatan, politik, ekonomi, melainkan juga pada sistem pertahanan dan keamanan. Eksistensi kelompok terorisme di Asia Tenggara pada saat pandemi tetap harus diwaspadai. Berbagai cara yang dilakukan kelompok terorisme agar tetap eksis pastinya tidak terlepas dari kaderisasi kepemimpinan yang baik, sesuai dengan temuan Perlman (2002) dalam buku Psychology of Terrorism, menuliskan temuan bahwa pemimpin teroris seringkali merupakan individu dengan kemampuan intelijen dan strategi yang tinggi.

Hal ini dibuktikan dengan kepintaran para kelompok terorisme menghadapi situasi pandemi untuk tetap melakukan aktivitasnya meskipun dengan media virtual. Hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, mengingat islam masuk ke Asia Tenggara melalui suatu proses damai yang berlangsung selama berabad-abad. Penyebaran Islam di kawasan ini terjadi tanpa pergolakan politik atau bukan melalui ekspansi pembebasan yang melibatkan kekuatan militer, pergolakan politik atau pemaksaan struktur kekuasaan dan norma-norma masyarakat dari luar negeri.

Melainkan Islam masuk melalui jalur perdagangan, perkawinan, dakwah dan pembauran masyarakat Muslim Arab, Persia dan India dengan masyarakat pribumi. Ajaran Islam tidak memperbolehkan kekerasan dan kejahatan dalam bentuk apapun, entah itu teroris yang mengatasnamakan jihad. Jihad tidak dilakukan pada keadaan damai ataupun dilakukan untuk melukai saudara seagama, negara, dan sesama manusia. Jihad hanya dilakukan ketika benar-benar keadaan sedang berperang dengan musuh.

Kita harus memulai dari kesadaran diri sendiri untuk menangkal wacana serangan terorisme di masa pandemi terkhususnya melalui media virtual. Yaitu kita harus bijak dan pintar dalam mengoperasikan media sosial terutama bagi kalangan pemuda. Kita harus bisa memilah informasi yang salah dan benar serta mengetahui asal informasi nya dari mana. Tak hanya itu, pihak pemerintah seharusnya juga lebih tegas untuk menyikapi hal ini, yaitu bisa dengan melakukan kontrol populasi dalam jumlah besar dan meningkatkan keaktifan pengawasan sebagai hasil dari pandemi saat ini. Negara-negara di Asia Tenggara juga bisa bekerja sama untuk membongkar aksi kelompok terorisme dengan operasi secara intelijen dan memperkuat legislasi atau hukum yang ada.