Kalian itu sebenarnya jahat, mengeksploitasi kemiskinan orang lain untuk mendapatkan surga ~ Arsyad Dalimunte

Kalimat itu saya dengar saat menjadi fasilitator workshop koperasi buruh pekan lalu di Purwokerto. Saat itu, pak Arsyad, salah satu pemateri, mengisahkan pengalamannya bertemu sekelompok pengusaha yang ingin berbagi dengan sesama.

Mereka, para pengusaha ini, mendirikan semacam komunitas untuk membantu mereka yang lemah secara ekonomi. Mereka iuran uang, dibelikan makanan, lalu disedekahkan pada tukang becak, pengemis, dan kaum duafa. Kegiatan itu dilakukan hampir dua tahun.

Hingga suatu hari, salah seorang dari mereka curhat pada pak Arsyad. Dia cerita, kini komunitasnya mulai kehabisan energi dan mulai pusing mengatasi penarik becak yang kerap bertikai jika tidak kebagian jatah makanan. Dan, dia minta solusi untuk masalah itu.

Lalu, meluncurlah kalimat seperti yang saya kutip itu, yang menurut saya, sangat menohok. Padahal, bagi orang awam, konsep paling mudah untuk membantu sesama adalah dengan derma. Bila ada yang kelaparan, tinggal dikasih makan. Jika ada yang butuh uang, bisa dipinjami atau bahkan diberi.

Tapi, cara semacam itu justru sebuah ‘kejahatan’ jika dilakukangan berkepanjangan. Karena secara tidak langsung dan tidak sengaja, mereka turut melestarikan kemiskinan dan menyebabkan ketergantungan.

Kedermawanan vs Kemiskinan

Dalam kondisi tertentu, untuk menyelesaikan masalah, kita memang perlu cara pragmatis. Ketika ada orang kelaparan, kita tolong dengan cara diberi makan. Saat ada orangtua butuh uang untuk biaya sekolah anaknya, cara membantunya bisa dengan dipinjami bahkan diberi uang.

Berdasarkan riset Gallup dan Charity Aid Foundation, yang melibatkan 135 negara, Indonesia ada diperingkat ke-10 sebagai negara paling dermawan. Alhamdulillah ya, meski di medsos banyak yang galak, gampang baper, dan baku-sebar berita hoax, ternyata di dunia nyata gemar berbagi dan peduli sesama.

Meskipun Indonesia masuk peringkat 10 besar dalam urusan kedermawanan, tapi angka ketimpangan di Indonesia salah satu yang terburuk di dunia. Menurut data yang dirilis Credit Suise, 1 % orang terkaya menguasai 49,3 % kekayaan nasional. Indeks Gini Ratio per Maret 2017 yang berada di angka  0,393, turut mengafirmasi ketimpangan yang sangat tajam ini.

Data itu menunjukan jika tidak ada korelasi antara kedermawanan dan kemiskinan. Karena kemiskinan adalah suatu keadaan yang kompleks, karena penyebab kemiskinan bukan sekadar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar. Tapi juga ada faktor sosial, budaya, dan politik yang saling bertaut kelindan menyusun pola yang rumit.

Kisah Raiffeisen

Kisah Raiffeisen, saat menjadi walikota muda di Jerman, menurut saya masih relevan untuk dipetik hikmahnya. Saat mendirikan komunitas berbagi bernama bread society, dia mengumpulkan derma dari orang-orang kaya, dibelikan roti, lalu dibagikan pada orang miskin agar bisa makan.

Namun, Raiffeisen menyadari, ternyata cara seperti tidak menyelesaikan masalah. Antrian untuk mendapat jatah roti setiap hari makin memanjang, mengular. Tapi masalah kemiskinan tidak juga kunjung usai, bahkan muncul masalah baru, yaitu ketergantungan.

Raiffeisen lalu putar otak, mencari jalan agar derma orang kaya bisa efektif menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan ketergantungan. Lalu, dia mendirikan sebuah lembaga simpan pinjam di mana orang kaya dan miskin menjadi anggotanya.

Teknisnya, orang kaya menyimpan uang di lembaga itu, lalu uang itu dipinjamkan pada si miskin. Karena pinjam tentu harus dikembalikan, karena kalau gratis, pikir Raiffeisyen, tidak akan mendidik. Orang miskin harus mampu menolong diri mereka sendiri (self-help) dengan cara berkoperasi.

Dengan model ala Raiffeisen, orang paling melarat sekalipun ternyata bisa bangkit dengan kekuatan mereka sendiri. Di sisi lain, orang kaya tetap bisa berderma tanpa menyebabkan ketergantungan. Karena menurut Raiffeisen, ketergantungan adalah salah satu faktor penyebab kemiskinan, apa pun itu bentuknya.

Berkoperasi

Masalah kemiskinan itu bukan perkara sederhana, maka penyelesaianya tentu tidak bisa sederhana pula. Salah satu cara yang bisa dicoba adalah mendirikan koperasi. Suatu sistem moda produksi yang bersifat lebih holistik dan dimiliki secara kolektif.

Koperasi tidak hanya bicara sebatas ekonomi, tapi juga sosial, politik, dan budaya. Koperasi juga bersifat memberdayakan agar anggota bisa sejahtera melalui kekuatan mereka sendiri tanpa tergantung pada pihak lain.

Mungkin ini terkesan normatif, tapi ada banyak bukti empiris yang menunjukan jika koperasi mampu memberdayakan orang-orang marjinal kota atau pedesaan. Entah itu koperasi di Indonesia atau luar negeri.

Jadi, kalau punya uang banyak, cobalah untuk menyimpan di koperasi. Karena di koperasi uang akan disalurkan pada anggotanya yang membutuhkan sehingga derma lebih kontributif dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. Dengan catatan, nyimpan uangnya di koperasi yang benar.