Gaya hidup berolahraga sudah menggejala di kalangan masyarakat akhir-akhir ini. Salah satu cabang olahraga segala umur yang paling diminati adalah lari. 

Olahraga lari dengan berbagai macam varian cabangnya menawarkan gaya hidup berolahraga yang murah meriah.

Ketika gaya hidup ini mulai berkembang, maka bisnis-bisnis gaya hidup ini melonjak. Mulai dari teknologi sepatu, perlengkapan tambahan lainnya, hingga acara-cara lomba lari bak menjamur di musim hujan.

Perhelatan lari gunung atau trail running merupakan perhelatan yang cukup mahal registrasinya. Bisa berkisar Rp650 ribu hingga 1,6 juta rupiah. Cukup dalam merogoh kocek para pencinta adrenalin dan pencandu limpahan endorfin dan ketinggian ini.

Mahalnya registrasi tentunya diimbangi dengan pelayanan dan reward yang seimbang. Mulai dari pengadaan water station atau pos-pos penyegaran yang di situ tersedia air mineral, minuman isotonik, buah-buahan, hingga kudapan penambah kalori lainnya. Termasuk hadiah yang cukup besar nilai rupiahnya plus medalinya.

Salah satu acara lari gunung (trail running) tersebut yang sempat penulis amati sebagai pembanding adalah penyelenggaraan Mantra Summit Challenge Series. Dengan jarak tempuh terjauh 116 km, menawarkan jumlah poin Championship yang sama, yaitu 550 untuk pemenang.

Semua kategori dilakukan di sekitar Arjuno-Welirang, tempat main kami. Kompleks Gunung Arjuno-Welirang yang terkenal dengan pemandangan indahnya dengan profil ketinggian yang sangat menantang untuk mencapai kedua puncak tersebut. 

Gunung Arjuno dengan ketinggian 3.339 mdpl ini adalah gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur setelah Gunung Semeru dan Gunung Raung, dan merupakan gunung tertinggi keempat di pulau Jawa.

Puncak Arjuno yang berdekatan dengan Welirang, Kembar I, dan Kembar II dalam sebuah jajaran punggungan dan lembahan sangat cocok untuk rute kebut-kebutan gunung yang terberat yang sudah diakui oleh Asia Trail Master (ATM) ini. 

Sebuah kebanggaan tersendiri bagi kompleks Arjuno-Welirang menjadi salah satu tempat ajang  penilaian seri versi Asia Trail Master yang berdasarkan sistem poin layaknya liga ini.

Asia Trail Master menaungi ajang kebut bergengsi gunung ada setiap negara di Asia, seperti di Nepal, Korea, Jepang, Cina, Hongkong, dan Indonesia. 

Adapun yang mampu mengumpulkan poin 500 akan berhak mengikuti ajang akbar Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB), ajang puncak kebut gunung paling bergengsi dan terkeras di dunia dan merupakan “kiblat” bagi para pelari trail dunia.

Trail running memang olahraga alam bebas yang menyenangkan. Semua individu berhak menikmatinya. Tinggal memilih saja. Menikmatinya dalam ajang bergengsi ataupun dengan ajang liar.

Trail running merupakan bagian dari sport tourism di Indonesia yang makin menjanjikan. Perhelatannya sekaligus dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi wisata kepada peserta, penggembira hingga pemirsa yang lebih luas. Termasuk perhelatan trail running yang dilaksanakan di Kompleks Gunung Arjuno-Welirang.

Maraknya kebut gunung ini tidak hanya didominasi oleh ajang resmi. Yang liar pun dari swadana para pendaki gunung di luar kompetisi resmi banyak dilakukan secara individu maupun berkelompok kecil atau besar sebagaimana ajang liar yang biasa kami lakukan dengan tajuk PAWK1K2.

Sport tourism ini makin banyak digeluti karena faktor kemudahan yang ditawarkan trail running. Tak perlu peralatan ribet dan izin khusus yang berbelit-belit untuk sekadar menikmati pemandangan alam dengan berjalan dan berlari.

Termasuk yang kami rintis dengan memberikan kemudahan kepada pemula dengan syarat dan ketentuan yang tidak berbelit. Yang penting sehat jasmani dan rohani serta sudah pernah jogging ringan di mana saja sudah berhak mengikuti pacu liar kami. Sebab, trail running bagi kami adalah urusan mental.

Potensi bisnis lainnya berasal segi konsumsi pelari terhadap apparel dan gear untuk menunjang aktivitas trail running. Makin tinggi komitmen pelari, makin besar pula anggaran belanja yang dikeluarkan untuk produk-produk tersebut.

Untuk yang ini, kebut gunung kere kami tidak mempermasalahkan peralatan branded. Yang penting nyaman dan aman. 

Kalau dibandingkan antara ajang liar PAWK1K2 dengan MSN (Mantra Summit Challange) tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Pertama, kalau ajang resmi MSC dengan biaya registrasi yang lumayan, maka tersedia medali finisher, hadiah, pos-pos pengisian air minum dan kalori di setiap titik yang dipilih sepanjang jalur lomba. 

Sedang PAWK1K2 tanpa biaya, peserta harus membawa air minum dan logistiknya sendiri-sendiri. Termasuk tanpa adanya medali finisher dan hadiah.

Kedua, jarak dan tingkat kesulitan PAWK1K2 jelas lebih jauh dan lebih berat ketimbang MSC. Sebab ketambahan trek Gunung Penanggungan jalur Tamiajeng yang terjal.

Keduanya, baik MSC (Mantra Summit Challange) dan PAWK1K2 sama-sama mendukung gairah berolahraga dan sport tourism di wilayah komplek Gunung Arjuno-Welirang. Sama-sama mendukung konsep pendakian gunung yang ramah lingkungan dan minim sampah karena dilakukan dengan cepat dan minimalis.

Sekilas dengan melihat medan yang dilalui baik oleh peserta MSC dan PAWK1K2, olahraga ini tidak hanya menguras energi, namun juga cukup mengandung sejumlah tantangan dan risiko fatal sesuai dengan terjalnya medan yang dilalui. 

Maka tidak heran jika akhirnya trail running dimasukkan dalam kategori olahraga ekstrem.

Kendati trail running ini termasuk kedalam olahraga ekstrem, tapi peralatan yang digunakan tidak jauh berbeda dengan olahraga lari pada umumnya.

Seperti sepatu dan pakaian yang bisa menyerap keringat dengan cepat. Hanya saja, lebih khususnya pada sepatu. Sepatu yang digunakan harus memiliki sol agresif dan lebih kaku dari sepatu lari biasa.

Sedang dari sisi manfaatnya trail running yang digeber oleh MSC ataupun PAWK1K2 adalah efektif  melatih jantung. Kontur atau permukaan jalur pacu yang jauh dari mendatar dan halus, maka otot jantung akan bekerja lebih keras.

Dengan berbagai variasi kesulitan dan ketinggian medannya, mampu meningkatkan daya tahan kardiovaskular.

Penelitian menunjukkan bahwa berlari di perbukitan bisa membakar kalori 10% lebih banyak ketimbang berlari di jalan. Selain itu, trail running akan membuat tubuh lebih kuat, lebih ramping, dan lebih sehat.

Dalam hal risiko cedera juga cukup tinggi. Setiap langkah tubuh akan beradaptasi untuk melewati berbagai jenis medan sekaligus, yaitu medan datar, mendaki, maupun menurun.

Maka, dengan begitu setiap langkah itu pula ligamen dan tendon di sekitar sendi pergelangan kaki, lutut, dan pinggul menjadi semakin kuat. Sehingga risiko cedera yang mungkin terjadi saat berlari di road running atau aktivitas ringan lainnya bisa berkurang.

Olahraga ekstrem ini juga dapat memperkuat otot inti karena pengaruh adaptasi permukaan trek selama trail running yang kadang-kadang dipenuhi rintangan seperti akar pepohonan yang mencuat atau bebatuan.

Rintangan tersebut mengharuskan para pelari gunung melibatkan lebih banyak otot inti untuk mempertahankan keseimbangan tubuh. Sehingga, setiap langkah saat melewati jalur menantang akan memperkokoh dan memperkuat otot inti tubuh.

Itulah sekilas tentang perbandingan antara MSC (Mantra Summit Challange) dengan PAWK1K2 sebagai dua ajang yang intinya sama-sama menggairahkan kegiatan petualangan alam terbuka yang ramah lingkungan dan minim sampah.