“Wahai Nabi. Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu dan keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam. Itulah tempat kembali seburuk-buruknya…”

(QS. At-Taubah : 73)

Pada decade terakhir, Indonesia banyak dikejutkan oleh tragedi bom, mulai dari Bom Bali, Bom Marriot, Bom Ritz Carlton, Bom Natal, Bom Kedubes Australia, dan sebagainya. Berbagai opini bertebaran, termasuk dari luar negeri yang mencap kata “terorisme” kea rah kaum muslimin secara total, sehingga syariat Islam yang suci ini pun menajdi sasaran utama tudingan-tudingan miring tersebut. Namun, yang tersisa dari kenyataan diatas adalah pertanyaan “benarkah aksi bom bunuh diri berasal dari agama Islam?” dan “bagaimanakah sebenarnya pandangan syariat Islam akan hal tersebut?”.


Makna Jihad yang Syar’i

Jihad adalah sebuah ibadah yang sangat mulia, yang dengan kalimat tauhid akan tegak serta akaan menampakkan eksistensi agama Islam sebagaimana agama yang berasal dari Allah Yang Maha Besar. Sungguh tidak ada seorang, muslim yang tidak menginginkan mati syahid gugur dimedan perang dalam misi menegakkan kalimat tauhid. Hanya, jihad seperti apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasulnya? Apakah setiap pengrusakan tempat-tempat hiburan serta pembunuhan terhadap orang kafir? Untuk menjawab pertanyaan itu perlu kita melihat definisi jihad menurut Islam serta tujuan apakah yang dikehendaki Allah ketika mensyariatkannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimuyah berkata :


“Makna jihad yang shohih ialah mengerahkan (segenap) kekuatan untuk meraih apa yang Allah cintai berupa iman dan amal sholih, serta menolak (setiap) apa yang Allah benci, seperti kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan”.[1] 


Dari definisi ini dapat kita simpulkan sementara bahwa gerakan jihad harus tetap berada dibawah kontrol syar’i. Ikhlas dan mutaba’ah merupakan syarat asasi yang harus mendasari pelaksanaan jihad karena ia merupakan satu ibadah yang bertujuan untuk menegakkan panji Allah.

 

“Dan perangilah mereka (orang-orang kafir) sampai tidak ada lagi fitnah dan agama hanya bagi Allah…”

(QS. Al-Baqarah : 193)

 

Dalam sebuah hadits yang bersumber dari sahabat mulia Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda: 

“Aku diperintahkaan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan apabila mereka telah melakukannya, maka darah dan harta mereka aman, kecuali ada sebab yang mengharuskannya (untuk diperangi), dan hanya Allah yang akan menghisab mereka.” 

(HR. Bukhari : 50, Muslim : 22)

Batasan dan Syarat Jihad


Sebelum jihad ditafsirkan secara sempit dan radikal, tentu sebaiknya ada beberapa batasan yang te;ah digariskan oleh para ulama, agar jihad tidak menjadi blunder bagi umat Islam sendiri. Tentu untuk itu perlu ada syarat-syarat (dhowabith) yang telah ditetapkan oleh para ulama sebelum menegakkan syariat yang mulia ini.[2] Diantara syarat-syarat tersebut adalah :

  • Ikhlas dan Mutaba’ah. (mengikuti sunnah Nabi) sebagaimana ibadah-ibadah lainnya.
  • Harus berjalan selaras dengan maqoshid (tujuan-tujuan) yang disyariatkan dalam jihad seperti yang tertera dalam QS. Al-Baqarah : 193, dan dalam HR. Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: 


“Barangsiapa yang berperang untuk menegakkan kalimat Allah yang mulia maka ia telah berpijak di jalan Allah.” 

(HR. Bukhari : 2810 dan Muslim : 1904)


  • Dibangun di atas ilmu dan aqidah yang benar.
  • Disertai dengan sifat rahmat, welas asih, dan lemah lembut, bukan semata-mata untuk menyakiti musuh dengan kebengisan, serta hendaknya dibarengi dengan sifat adil. Allah berfirman:


“Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yangmemerangi kamu tetapi jangan melampaui batas. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” 

(QS. Al-Baqarah : 190)

Dan dalam ayat lain.


“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adilah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa…” 

(QS. Al-Mai’dah : 8)


  • Wajib bersama dengan izin pemerintahannya kaum muslimin, berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Hurairah dari Rasulullah bersabda:


“Imam adalah tameng bagi yang berperang dibelakannya serta untuk menjaga diri dengannya.” 

(HR. Bukhari : 123 dan Muslim : 1512)


  • Sesuai dengan kadar kemampuan kaum muslimin.
  • Mempertimbangkan maslahat (manfaat) dan mafsadat (kerugian).

 

Haruskah Jihad Fi Sabilillah dengan Perang?

Menumbuhkan semangat jihad tidak berarti harus berperang, atau mengada-adakan perang dengan alasan yang tidak logis. Tetapi lebih bermakna menanamkan pemahaman dan kesiapan. Dengan kata lain, setiap muslim harus senantiasa menanamkan dalam dirinya tekad untuk menjual/menggadaikan dirinya di jalan Allah. Dengan cara itu, seorang hamba terjamin masuk surga sesuai firman Allah :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min itu jiwa dan harta mereka dengan surge. Mereka berperang dijalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh…”.

(QS. At-Taubah : 111)


Dan inti dari jihad adalah kesediaan berkorban apa saja yang kita miliki untuk tegaknya dienullah. Dan hampir seluruh ayat Al-Qurán yang menyebut jihad fi sabilillah, memang dalam makna peperangan. Meski ada juga beberapa ayat dalam pengertian yang lain. Karena itu pula, mati syahid sebagai ganjaran bagi mereka yang tewas fi sabilillah, selalu dikaitkan dengan tewas di medan perang. Namun, pengertian perang ini tidaklah sempit. Yusuf Qardhawi, mengatakan soal fi sabilillah dengan mustahik zakat, ia menjelaskan bahwa terjadi perbedaan antara para ulama salaf dan ulama mutaákhir. Ulama salaf selalu mengaitkan fi sabilillah dengan perang ji jalan Allah, sedangkan orang sekarang berperspektif, fi sabilillah dengan pekerjaan ataupun amal kebaikan apa saja.[3]

Dengan pandangan itu Qardhawi mengajak ummat Islam berpikir dan berbuat lebih realistis. Dalam zaman globalisasi saat ini, serangan-serangan musuh-musuh Islam masuk lewat kebudayaan, seni dan pemikiran yang merusak, jauh lebih berbahaya daripada serangan miter. Namun, hal itu bukan berarti bahwa perang kurang penting. Bahkan sebaliknya, apa yang terjadi di Khasmir, Palestina, Myanmar, Afghanistan, Irak, dan sebagainya adalah semulia-mulianya jihad, tapi cara perang tidak bisa dilakukan dinegara yang memang tidak sedang berperang seperti Indonesia. Intinya apapun jihad, secara garis besar jihad adalah kesediaan kita untuk berjuang dan berkorban apapun dijalan Allah.

 

Referensi

[1] Akhamul Jihad ‘Inda Ibni Taimiyah : 67, dikumpulkan oleh Hasan Abdurrahman dalam Buletin Al-Furqon : Menebar Dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Edisi Tahun ke 4 Vol. 6 No. 2 (Syawal 1430 H), diterbitkan oleh Redaksi Majalah Al-Furqon.

[2] Ibid. (Untuk uraian lebih lengkap mengenai dhowabithul jihad dapat dilihat pada risalah al-Quthuful Jiyad min Hikam wa Ahkamil Jihad karya Syaikh Abdurahman bin Abdil Muhsin al-Badr).

[3]  Buletin Lembaran Da’wah Hanif, Edisi No. 044 Th. VII, 17 Jumadil Akhir 1416 H/10 November 1995 M, diterbitkan oleh Lembaga Bina Insan Kamil (LBIK