Dalam sebuah kesempatan, meluangkan waktu ngopi bareng plus diskusi ringan bersama mahasiswa membahas permasalahan kekinian khususnya isu terkait komunisme di Indonesia. Banyak ide-ide muncul dari obrolan ringan ini. Apalagi Ngopi di warkop juga bisa menangkal berita-berita hoaks yang semakin liar di media sosial. 

Selain itu, suasana diskusi di warung kopi lebih cair daripada diskusi resmi ala akademisi. Dalam menyampaikan pendapat maupun pikiran tanpa sekat jabatan, sarat dengan nuansa demokrasi. Di sela diskusi, salah satu mahasiswa bertanya, "bagaimana pendapat saya mengenai isu bangkitnya komunis di Indonesia?"

Terhadap pertanyaan ini, saya mengatakan bahwa kita harus mengetahui konstelasi politik isu tersebut, dengan membuka semua gambaran demografi, preferensi politik, dan latar belakang sosial ekonomi mereka yang percaya akan kebangkitan komunis. Selain itu, membahas Ideologi komunis harus dengan kacamata yang utuh (holistik). Dari segala sudut pandang; ideologi, sejarah, data, dan informasi perkembangan ideologi komunis sampai saat ini.

Isu bangkitnya komunis di negeri ini tengah menjadi perbincangan. Tentunya kita harus pandai, bijak, dan cerdas dalam mencerna segala informasi yang tengah berkembang. Isu semacam ini akan sering dikaitkan dengan politik. Mengapa? Karena sebagaimana kita tahu, bahwa isu ini sangat sensitif dan mudah menyulut emosi dan perasaan segenap lapisan bangsa ini. Kita semua sepakat bahwa PKI telah menjadi partai terlarang secara hukum dan sampai sekarang masih berlaku.

Berbagai pihak menilai kebangkitan isu PKI adalah hasil "mobilisasi opini kekuatan politik tertentu". Isu kebangkitan komunis juga dikaitkan dengan polemik pembahasan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang tengah dibahas DPR dikritik sejumlah pihak.

Kritik disampaikan karena RUU HIP tidak mengaitkan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Larangan Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme sebagai rujukan atau konsideran. Sontak bayang-bayang riwayat Partai Komunis Indonesia (PKI) di masa silam otomatis terungkit kembali ketika TAP MPRS tentang larangan komunisme tidak disertakan. Padahal sekarang kembali bermunculan fenomena penyebaran ideologi komunisme yang menjadi ancaman terhadap ideologi Pancasila

Menurut saya, kurang logis kiranya isu kebangkitan PKI dan mengaitkannya dengan RUU HIP, Karena TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 masih berlaku dan memiliki kekuatan hukum mengikat. Karena itu, tanpa disebutkan dalam RUU Haluan Ideologi Pancasila pun, organisasi terlarang ini dan ajaran komunisme tidak mungkin lagi dibangkitkan kembali dengan cara apa pun.

Kalau saya ditanya, bagaimana jika PKI hidup kembali? Saya tentu akan dengan tegas menjawabnya, tidak. Namun akan lain soal jika pertanyaannya adalah, bagaimana mengenai wacana/ polemik bangkitnya PKI. Tentu jawabannya akan sangat panjang dan tidak mungkin saya tuangkan dalam renungan pendek ini.

Sebuah jawaban yang paling sederhana adalah dulu tentara yang membasmi PKI, kalau sekarang PKI akan bangkit lagi, tentu tentara tidak akan tinggal diam. Kecuali jika tentara sudah tiada semuanya, bolehlah kita sedikit gusar atas isu bangkitnya PKI.

Secara teoritik tidak mungkin bangkit kembali. Tidak ada prasyarat yang terpenuhi. Dengan ideologi transnasional yang mereka anut, tidak ada lagi rujukan yang bisa membuat PKI berdiri kembali. Uni Sovyet runtuh, Cina sudah menjadi kapitalis, Vietnam, Korea Utara, sebagaimana Cina, hanya menjadikan komunisme sebagai ideologi internal negara mereka untuk melanggengkan kekuasaan.

Tapi, bicara soal komunisme dalam konteks keindonesian bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) memang tidak akan lagi bangkit secara organisasi seperti di tahun 1960-an. Namun, sebagai sebuah ideologi memang masih tetap ada sampai sekarang meski sudah bangkrut di mana-mana. Hanya saja, sebagai sebuah gerakan yang tercatat dua kali melakukan pemberontakan atas pemerintahan yang sah di negeri ini, tetap perlu diwaspadai

Akhir akhir ini banyak narasi yang berseleweran di media massa yang memberikan argumen ‘tidak mungkin komunisme akan bangkit, tidak mungkin PKI akan bangkit. PKI, komunisme sudah mati. Argumen semacam itu tidak harus meninabobokkan kita dan membuat kita lengah dan harus waspada terhadap setiap ideologi yang bertentangan dengan agama dan bertentangan dengan nilai nilai dasar ke-Indonesia-an yakni Pancasila dan UUD 1945.

Komunisme sebagai isme atau ideologi tidak mudah untuk dibunuh, dan akan terus tumbuh dari generasi ke generasi tentunya mudah tersebar jika ada dukungan politik, dukungan negara.

Jadi, PKI Sudah Mati, tetapi Ideologinya Masih Ada. Namun, tidak dipungkiri pula jika isu komunis sering kali muncul ke permukaan ketika ada momen politik karena isu ini menjadi komoditas utama dalam pertarungan politik, bahwa dalam konteks hari ini seperti Nasakom (nasionalis, agama, komunis) akan selalu bertarung.

Namun saya meyakini masyarakat sudah lebih cerdas dengan tak terjebak lebih jauh pada isu kebangkitan komunisme di Indonesia.  Saya mencermati kejadian-kejadian mengenai penyebaran informasi “palu arit”, ancaman teror kepada para pemuka agama, dsb. Seringkali saya jumpai bahwa fakta dan isu yang dikembangkan melalui broadcast di sosial media tidaklah sama. Sebaran informasi yang tidak bertanggung jawab itu sudah dibumbui, ditambahi penyedap, supaya menjadi gorengan, murahan.

Kita seringkali terjebak pada sebuah broadcast. Kita terima dan langsung kita share, tanpa terlebih dahulu melakukan ricek. Sehingga kita akan menjadi bagian yang tidak bertanggungjawab atas sebaran informasi yang telah secara tidak sengaja ikut kita kembangkan itu. 

Melawan Isu Komunisme lewat Jalur Pendidikan 

Kalau bicara soal pembelaan kita terhadap ideology pancasila, tentu tidak perlu kita pertanyakan lagi. Semboyan kita adalah PANCASILA harga Mati! Artinya apa, kita tidak akan pernah mundur sejengkalpun ketika Ideologi pancasila dirongrong, diancam, dan sederet perbuatan tidak pantas lainnya. Dalam membela dan mempertahankan Pancasila, kita tentu akan mematuhi aturan hukum yang berlaku. Bukan karakter kita untuk main hakim sendiri.

Disuruh atau tidak, diminta atau tidak, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan merawat pancasila sebagai ideologi dasar kita dalam berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya, kembali mempertegas pemahaman nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat dan diperlukan komitmen bersama termasuk dunia pendidikan.

Sektor pendidikan bisa menjadi kunci utama untuk melawan isu yang sifatnya HOAKS – hal yang telah diterapkan di banyak negara dengan tingkat literasi digital yang tinggi. Ini tentu akan menjadi tantangan bagi dunia pendidikan kita untuk melahirkan kurikulum yang mampu menjadi senjata melawan isu-isu  yang makin banyak bertebaran.

Adalah konteks literasi digital yang disebut menjadi faktor penentunya, di mana hal tersebut bisa diajarkan di sekolah dan kampus. Dengan kata lain, pelajaran Literasi Digital yang memang dinantikan untuk mengatasi persoalan misinformasi yang telah berdampak parah di masyarakat.

Dunia pendidikan diharapkan lebih pro aktif bagaimana membangun kesadaran masyarakat. Pendekatan yang bisa digunakan yakni dengan cara mendekati generasi milineal melalui pemanfaatan media sosial sebagai sarana membumikan nilai-nilai Pancasila. Dengan menggunakan kampanye kreatif, prosesi sosialisasi nilai nilai Pancasila bisa dapat mewujud dalam bentuk yang lebih transformatif dan mudah dipahami oleh publik.

Selain itu, langkah taktis ini akan lebih mudah membumikan nilai-nilai Pancasila secara masif, intensif, kreatif dan atraktif sehingga dapat lebih menyentuh hati masyarakat. Taktik dan strategi itu setidaknya bisa menghasilkan beragam informasi yang berguna bagi masyarakat seputar nilai-nilai Pancasila. Informasi itu pula dapat menjadi suplemen bagi penghayatan pendidikan Pancasila sekaligus ruh dalam segala jenis tindakan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jadi, saya menilai bahwa isu kebangkitan komunis adalah sebuah momen untuk menyadarkan kita semua akan pentingnya merawat dan menjaga PANCASILA sebagai ideology negara. Hal yang terping adalah kembali menghidupkan pancasila sebagai mata pelajaran ke dalam kerikulum pendidikan kita.