Entah dari mana muncul sebuah stigma bahwa kaum muda itu identik dengan idealisme. Ada yang kurang jika berbicara soal kaum muda tanpa menyeret kata idealisme, ibarat sayur bening tanpa garam. Maka jangan pernah coba-coba atau sengaja menghilangkan kata idealisme dari diri kaum muda. Idealisme itu adalah simbol keberadaan dan kemuliaan kaum muda. Harkat dan martabatnya terletak pada idealismenya. Dan senantiasa menghunjam kuat ke dalam jiwanya kaum muda.

Bangsa yang merdeka dari kolonialisme karena mayoritas peran dari kaum muda, tak terkecuali bangsa Indonesia. Jika kita melacak kembali ke masa lalu--setidaknya pra kemerdekaan sampai awal  pasca kemerdekaan maka di sana kita akan menemukan bagaimana peran kaum muda begitu signifikan memainkan semua adegan.

Menurut Syarifuddin Jurdi, generasi muda pra kemerdekaan menghabiskan waktu mereka hanya mengurusi masalah-masalah murni bersifat politik, baik menyangkut kemerdekaan, melawan imperialisme dan gerakan-gerakan sosial lainnya--seringkali manifestasinya bersifat non-kooperatif terhadap pemerintah Hindia- Belanda. Waktu itu gerakan kaum muda di organisir melalui berbagai wadah seperti Perhimpunan Indonesia (PI) pada tahun 1925.

Aktivisme politik kaum muda pra kemerdekaan diwujud konkretkan dalam gerakan-gerakan politik dengan landasan cita-cita yang kuat dan berpegang teguh pada idealisme kolektif demi melahirkan Indonesia merdeka. Indonesia yang merdeka adalah cita-cita bersama yang mesti diwujudkan oleh kaum muda pra kemerdekaan. Mereka menyadari, hidup di bawah lingkaran kekuasaan kolonialisme Belanda adalah tidak manusiawi.

Oleh karena itu, sebagaimana Syarifuddin Jurdi menyebut kembali: bahwa gerakan politik kaum muda pra kemerdekaan memiliki basis ideologi yang jelas dalam kancah perpolitikan Indonesia: Pertama, kesatuan nasional. Kedua, solidaritas. Ketiga, non-kooperatif, dan terakhir adalah swadaya.

Empat basis ideologi dari kaum muda pra kemerdekaan tersebut setidak-tidaknya adalah semacam rasionalitas instrumental ala Weber-ian. Untuk mencapai tujuan tentu ada alat yang disiapkan, begitulah sederhananya rasionalitas instrumental ala Weber-ian. Rekayasa sosial-politik kaum muda pra kemerdekaan adalah kemampuan mereka menjalankan rasionalitas instrumental tersebut.

Selain idealisme, dimensi moralitas dan etika dari kaum muda pra kemerdekaan amat menonjol dan sangat berpengaruh---etika politik mereka, misalnya. Mereka memiliki kemampuan pribadi dalam mengorganisir kekuatan massa (rakyat) untuk melawan kaum penjajah Belanda, itu tidak lepas dari moralitas dan etika politik yang dimiliki. Mereka tidak muncul dari restu atau “permisi” berikan kami kesempatan, bukan juga penunjukan, tetapi muncul dari kekuatan pribadi dan integritas moralnya yang kuat (Syarifuddin Jurdi, 2011).

Idealisme, moralitas dan etika adalah sisi internalisasi kaum muda pra kemerdekaan. Ketiganya itu tertanam dalam diri mereka. Sisi internalisasi mengaktual bilamana tersebut mempedomani kaum muda melakukan rekayasa sosial-politik sebagai sisi eksternalisasi terhadap problem sosial-politik pribumi. Jadi sangat tampak jelas bagaimana hubungan antara sisi internalisasi dengan eksternalisasi: idealisme, moralitas, etika dengan karya cipta.

Beberapa tokoh kaum muda memiliki karakter seperti itu, misalnya: Soekarno, Mohammad Hatta, M. Natsir, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Mohammad Yamin dan didukung oleh pendahulunya seperti: Agus Salim, Tjipto Mangunkusumo, Tjokroaminoto dan Ki Hadjar Dewantara.

Dengan karakter kuat seperti itu, menurut Syarifuddin Jurdi bahwa kaum muda pada masa itu jauh lebih progresif bila dibandingkan dengan kaum muda pasca kemerdekaan. Progreisfitas mereka terbukti ketika mampu melahirkan “Teks Sumpah Pemuda 1928”.

Spirit perjuangan kaum muda awal pasca kemerdekaan tentunya merupakan kontinuitas dari perjuangan kaum muda pra kemerdekaan. Umum diketahui dalam tahap perkembangannya peran kaum muda awal pasca kemerdekaan lebih menonjolkan pada aktivisme politik yang cenderung menekankan pada kekuatan kelompok yang pada urutannya sesama mereka saling berhadapan dan berlawanan--yang sebelumnya adalah mereka semua kaum muda yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Tapi satu hal yang diacungi jempol kaum muda awal pasca kemerdekaan adalah jiwa besar mereka mempertahankan kemerdekaan Indonesia walaupun pada waktu bersamaan terjadi pergolakan politik.

Bagaimana dengan eksistensi kaum muda era milineal.

Bagaimana dengan eksistensi kaum muda sekarang ini (era milenial) sebenarnya adalah sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang barangkali merumuskan jawabannya berangkat dari kejujuran kita melihat potret keadaan kaum muda saat ini yang oleh kebanyakan pengamat sosial menyebut “sangat memperihatinkan kalau tidak dikatakan “sangat miris.

Iya, sangat memperihatinkan. Deretan pengamat sosial menyebut demikian bukan tanpa alasan. Misalnya, kecenderungan kaum muda era milineal lebih menonjolkan diri dengan hidup ala kebarat-baratan. Identitas kaum muda Indonesia sebagai orang timur pudar akibat serangan “lifestyle westernisasi”. Padahal “lifestyle westernisasi” dulu sebelum bangsa Indonesia merdeka adalah pola hidup orang Belanda yang sangat tidak disukai oleh kaum muda pra kemerdekaan.

Gegap gempita “lifestyle westernisasi” melengkapi apatisme kaum muda era milenial di samping hedonisme dan personality crisis. Merebaknya fenomena hidup kaum muda era milineal tersebut pada urutannya menggerogoti sendi-sendi keaslian hidup masyarakat Indonesia.

Keaslian hidup masyarakat Indonesia dikenal suka gotong royong kini dominan individual, dikenal ramah kini kasar, dikenal menghargai dan menghormati orang lain kini acuh tak acuh.

Begitulah kiranya wajah kaum muda era milineal. Suatu era di mana hasil dari kecanggihan teknologi dijadikan pusat kehidupan. Anak muda era milineal juga dikenal sebagai generasi Y yang memiliki keunikan dibanding generasi-generasi sebelumnya. (H. Ali, 2015).  Keunikannya ditandai oleh sejauhmana manusia angkatan 1980-an dan 2000-an ini menggunakan hasil kecanggihan teknologi. Dan kadangkala nyaris menjadi hamba dari hasil kecanggihan teknologi itu.

Wajah lain kaum muda era milineal adalah idealismenya mudah dinodai demi kepentingan-kepentingan sesaat sehingga rekayasa sosial-politik pun dikerjakan tanpa landasan idealisme. Sikapnya oportunis dan pragmatis dalam dunia politik praktis.

Oleh karena itu, apa yang harus kita lakukan jika keadaanya seperti itu. Karena apa pun dan bagaimana pun eksisitensi bangsa Indonesia berada di pundaknya. Keselamatan Indonesia terletak pada idealismenya. Jangan karena kita lupa sejarah masa lalu seenaknya memutilasi bangsa yang kita cintai ini.

Mungkin saran dari saya : Kaum muda harus Optimis. Tetapi seriuslah menghadirkan kembali nilai semangat perjuangan kaum muda pra kemerdekaan dan awal pasca kemerdekaan. Pasti bangsa ini masih bertahan tidak terpecah belah, hancur, dikemudian hari seperti yang di prediksikan oleh kaum pesimis.

Kalau tidak, dipastikan prediksi kaum pesimis yang benar. Kita lihat saja nanti.