Aliran filsafat yang datang dari barat yang sudah mulai usang dan sudah kurang efektif sekaligus efisien dalam menjawab persoalan Ontologi, Epistemologi bahkan Aksiologi. Contohnya seperti: Empirisme, Rasionalisme juga Kritisisme Kant dari perjalanan dialektis keilmuan yang muncul dibarat ini, saya rasa sudah tidak paripurna lagi menyoal barat sendiri awal abad keduapuluh sudah mulai mengakui epistemologi intuitif. 

Singkatnya, epistemologi intuitif adalah ilmu yang bukan hadir karena dialektika antar akal manusia, melainkan ilmu atau informasi yang datang dari Tuhan langsung, dan otentisitasnya bukan lagi pada tingkatan akal melainkan sudah melampauinya dengan tingkatan pengalaman hati atau perasaan, atau dzauq pengetahuan seperti ini banyak disuguhkan oleh para sufi juga nabi-nabi dan rosul-rosul bahkan Nabi Muhammad SAW.

Pendekatan intuitif seperti ini yang saat ini menempati kasta paling tinggi dalam epistemologi pengetahuan, karena berbeda sama sekali dengan pendekatan ilmiah yang selalu mengklasifikasikan antara subjek dan objek, bahkan subjek-objek ini dengan sejuta rumusannya tidak boleh keluar dari sentuhan prisip matematika mekanis simplenya dapat diukur, dan postulat inilah yang menjadi kebuntuan tersendiri diantara mereka para penganut faham “Ter-ukurnisme” terutama dalam mendefinisikan masalah metafisika dalam hal ini adalah Tuhan.

Dalam menanggapi tulisan bung Iskandar Gumay, secara garis besar saya mengkategorikan pemaparan teoritis mengenai semesta yang beliau sampaikan adalah corak teori yang muncul dari Positivisme, sengaja saya tidak mengkategorikan pemaparan bung Iskandar Gumay ke dalam materialisme karena beliau mengutip ayat al-Qur’an walaupun  teori ilmiah yang disampaikannya murni materialis.

Untuk definisi Positivisme sendiri sengaja saya kutip dari wikipedia supaya definisinya umum dan mudah diakses oleh semua kalangan, kurang lebih definisinya seperti ini:  

Dalam bidang ilmu sosiologi, antropologi, dan bidang ilmu sosial lainnya, istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.

Positivisme secara etimologi berasal dari kata positive, yang dalam bahasa filsafat bermakna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita. Ini berarti, apa yang disebut sebagai positif bertentangan dengan apa yang hanya ada di dalam angan-angan (impian), atau terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk berpikir dari akal manusia.

Dapat disimpulkan pengertian positivisme secara terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam "pencapaian kebenaran"-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi. Segala hal di luar itu, sama sekali tidak dikaji dalam positivisme.

Saya rasa kita sepakat dengan definisi diatas, sekaligus klaim pengkategorian saya terhadap penulisan bung Iskandar Gumay. Permasalahan yang akan saya hadirkan dalam tulisan ini adalah menyangkut tulisan bung Iskandar sebagai antitesis dari tulisan sebelumnya yaitu bung Dedy Ibmar yang berjudul “Tuhan adalah Ruang” sementara bung Iskandar mengomentarinya dengan tulisan yang berjudul “Sekiranya Tuhan adalah Ruang, maka Dia akan Musnah”.

Saya mencoba memoderatori perseteruan intelektual ini dengan menarik benang merah perbedaannya, perbedaannya berada pada bagaimana kedua penulis ini mengartikan terminologi ruang itu sendiri, “Ruang” menurut bung Iskandar adalah sesuatu yang dapat diukur, ini terindikasi dari tulisannya beliau mengatakan “terutama dalam mencapai kebenaran pada wilayah atau domain yang melampaui ruang dan waktu. Terkait ruang, secara matematika dapat dibuktikan bahwa ruang yang kita huni dan semesta yang ada tidak mungkin bersifat kekal terkait masa lalunya”.

Dari serpihan tulisannya ini saya mencoba memahami pikiran bung Iskandar bahwa arti ruang yang ada didalam benaknya adalah arti ruang matematis, artinya dapat diukur dan pembahasan mengenai Tuhan disebutnya sebagai suatu pembahasan yang melampaui ruang dan waktu.

Sementara di dalam tulisan bung Dedy Ibmar, dia mempunyai definisi lain dari terminologi ruang, justru yang dimaksud arti ruang dalam artikelnya adalah Ruang Universal, Ruang yang mengawali segala keberadaan, Ruang yang juga bisa disebut keMaha Kosongan, sekaligus menjadi Kausa Prima dari segala yang bergerak, karena mustahil segala sesuatu bergerak tanpa adanya Ruang, karena Ruang Universal ini yang menjadi Actus Primer dari segala gerak, maka bisa dikatan Ruang Universal ini yang menjadi Penyebab Pertama (Tuhan) dari segala penyebab.

Mungkin redefinition terhadap term ruang ini cenderung baru, hanya saja metode yang dikemukakan oleh bung Dedy bersesuaian dengan teori Emanasi Al-Farabi ataupun Wahdatul wujud dari al-Mukaram ibn-Arabi, saya sudah sedikit banyak menyinggung mengenai Wahdatul Wujud di tulisan saya yang lain.

Secara singkat saya tuangkan di sini bahwa Wahdatul wujud adalah teori yang meyakini penciptaan alam semesta ini ada bukan dari ketiadaan, tapi dari keadaan, artinya alam semesta ini menjadi, bukan dari tidak ada bahan-bahannya, bahannya adalah Tuhan sendiri, karena alam semesta ini adalah pancaran dari Tuhan, diumpamakan dengan cahaya matahari yang tidak bisa lepas secara independen dari dzat matahari itu sendiri.

Analogi penciptaan dengan cahaya matahari sudah jauh-jauh di abad tiga belas semasa ibn-Arabi ataupun para filsuf muslim lainnya, dan sekarang muncul emanasi dengan analogi terbarukan mengenai penciptaan sekaligus bagaimana perbuatan Tuhan dalam penciptaannya terhadap makhluk atau semesta.

Teori "Ruang adalah Tuhan itu sendiri" sangat saya sepakati karena teori emanasi masih ada didalamnya, tapi bukan dalam arti pancaran melainkan “growing atau tumbuh, segala yang materi tumbuh subur dari Ruang Universal, dari Ruang yang Maha Kosong, Ruang Universal yang Maha Imateri ini memungkinkan terjadinya benih-benih materi dari keniscayaan Ruang Universal itu sendiri.

Teori Emanasi ataupun Wahdatul wujud muncul dari pendekatan subjektif intuitif para Ulama-ulama terdahulu, bukan beranjak dari proses observasi empirik akan tetapi memperoleh kebenaran hakiki melalui pendekatan keTuhanan yang Maha mempunyai Kebenaran Hakiki.

Jadi jelas sangat mencolok perbedaan antara kedua penulis ini dalam interpretasi terminologi “Ruang”, ini hanyalah persoalan languange game dalam filsafat analitik, apalah arti sebuah kata menunjukan kebenaran bahwa arti sebuah makna lah yang benar-benar berarti.

Jadi marilah kita Shalat berjamaah dan merenungi keberadaan Sang Khaliq dengan kemampuan kita masing-masing. Spekulasi ini tidak bisa dipertanggung jawabkan, karena tidak ada seorangpun yang mampu mempertanggung jawabkan teorinya di Hari Akhir kecuali Nabi Muhammad SAW dengan kasih sayang Safaatnya. Sekian.