Konon kabarnya, kalau ingin berdialog dengan Allah, kita diminta untuk menyapa (berdoa) dan membaca (tilawah) Alquran. Ketika berdoa, kita berbicara pada Allah, sedangkan melalui membaca (tilawah) Alquran, gantian Allah yang bicara pada kita. 

Masalahnya adalah, frekuensi gelombang yang dipancarkan Allah ketika bicara pada saya belum bisa diterima frekuensi gelombang yang saya miliki. Bisa jadi dikode Allah terus-menerus tapi saya tak merasakannya. “Gak peka lu,” kata Allah begitu mungkin.

Terus terang saya masih sangat penasaran terhadap redaksi ayat Alquran yang menyebutkan akal. Tidak ada satupun kata akal dalam Alquran berbentuk kata benda, semuanya disebutkan dalam bentuk kata kerja (fi’il), sudah begitu kata kerja present dan future (mudhori’) pula, bukan past (madhi).

Selain itu, beberapa ayat menyebutkan bahwa redaksi qalb (biasanya dimaknai hati) dirangkai dengan kata kerja berpikir, memahami, dan sejenisnya. Padahal banyak yang menyebutkan bahwa aktivitas tersebut adalah pekerjaan otak. Pekerjaan hati adalah merasa, misalnya merasakan bahagia ketika Chelsea juara.

Singkatnya, saya masih penasaran dengan pertanyaan, “Mengapa tidak ada kata benda akal dalam Alquran namun banyak disebutkan kata kerja akal?” Jika pertanyaan selanjutnya yang masih memiliki benang merah diberikan, “Liver, heart, or brain yang merupakan makna dari qalb yang kerap disebutkan dalam bentuk isim?”

Klarifikasi bahwa tak ada kata ‘aqal dalam bentuk isim diberikan oleh Muflih Muhammad Mahiry, sahabat saya yang ketika mencari kata dalam Alquran seperti searching via Google namun kalau urusan pacar seperti balapannya para siput.

Dalam tata Bahasa Arab (gramatikal), terdapat pembahasan mengenai kalam. Kalam secara bahasa bermakna pembicaraan/ucapan. Tetapi secara istilah, beraneka ragam sesuai sudut pandang disiplin ilmu. 

Dari sudut pandang istilah dalam tata Bahasa Arab, kalam bermakna lafadz-lafadz yang tersusun dan memiliki makna. Pakar tata Bahasa Arab menegaskan terdapat tiga unsur dalam kalam, yaitu isim/kata benda/noun, fi’il/kata kerja/verb, dan huruf.

Isim adalah kata yang memiliki makna tanpa berkaitan dengan masa. Pembahasan mengenai isim beraneka ragam. Ada maskulin, feminin, tunggal, dual, plural, ma’rifat/khusus, nakiroh/umum, musytaq, jamid,maqshur, manqush, dan mamdud. Fi’il adalah kata yang memiliki makna sekaligus berkaitan dengan masa. Fi’il juga memiliki banyak ragam seperti isim. Ada madhi, mudhari’, amar, lazim, non-lazim, ma’lum, dan majhul.

Selain berusaha mendapatkan jawaban memuaskan dari sisi penafsiran teks Alquran, jawaban dari sisi perkembangan ilmu pengetahuan juga dilakukan. Melalui pertanyaan pada Roslan Yusni Hasan, seorang dokter syaraf, ia menyatakan bahwa akal adalah salah satu hasil kerja otak. 

Secara tak langsung, Ryu yang wajahnya cukup ganteng ini dan memberikan hadiah buku sastra pada saya beberapa waktu lalu, menyebutkan bahwa otak dan akal berlainan. Otak merupakan organ tubuh sedangkan akal adalah sebagian aktivitas yang dilakukan oleh otak. Atau dengan redaksi lain, akal bukanlah organ tubuh.

Dalam urusan penafsiran teks Alquran, saya lebih suka dengan tafsir sastrawi alih-alih tafsir saintifik. Meski kuliah saya di program studi Pendidikan Fisika yang lebih erat dengan saintifik ketimbang sastrawi, namun nama panggilan resmi saya bermakna sastrawan. Jadi saya lebih lama erat dengan sastra ketimbang sains yang baru “kemarin sore” dibelai.

Bukan berarti menolak mentah-mentah tafsir sainstifik, hanya saja jangan buru-buru memaksa memadukan tafsir teks Alquran dengan perkembangan sains. Jangan saling memperkosa kalau belum suka sama suka. Kalau tak cocok, rentan menimbulkan pertengkaran yang lucu, seperti orang mau putus pacaran yang gemar mencari-cari kesalahan liyan.

Perkembangan sains juga saya sukai, misalnya tentang astronomi yang bicara hingga luar angkasa. Siapa tahu kalau jomblo di Bumi bisa mendapatkan pacar dari Galaksi Magellan. Juga tentang perkembangan Fisika Inti yang menelisik unsur terdalam pembentuk kehidupan yang menyatakan bahwa manusia tak punya kehendak bebas lantaran komposisi penyusun manusia tunduk pada hukum alam. 

Hukum alam kerap disebut sebagai sunnatullah yang dipahami melalui penafsiran ayat-ayat kauniyah seperti dilakukan Nabi Ibrahim/Abraham dan mulai ditekuni di Yunani. Beruntung Abraham memiliki frekuensi gelombang yang selaras dengan frekuensi gelombang dari Allah, sehingga bisa memahami kalau dikode Allah.

Karena itulah ketika mencari tahu mengapa tak ada ‘aqal dalam bentuk isim dalam Alquran, selain mencari tahu dari penafsiran teks Alquran (metode tafsir sastrawi), juga mencari tahu akal dalam perkembangan sains. 

Keduanya memiliki benang merah yang bisa menjadi hipotesis bahwa akal bukanlah organ tubuh namun salah satu aktivitas dari organ tubuh. Sementara organ tubuh yang menjalankan aktivitas akal yang dalam Alquran disebut qalb bisa jadi brain.

Jangan salah paham dulu lho, ini baru hipotesis. Belum kesimpulan. Jangan sensi dulu seperti perempuan ketika PMS. Bahkan kalau sudah menjadi kesimpulan pun bisa diamandemen kembali.

Jangan lupa ayat tentang belajar (liyatafaqqahu) memakai bentuk fi’il mudhari’, present and future, jadi harus berkembang terus jangan mandeg. Yang jelas, selama proses berkembang terus itu, kita perlu untuk senantiasa na’budu dan nasta’inu, fi’il mudhari’ lagi itu mah.