Pecinta batik Indonesia pasti cepat tahu perbedaan batik pesisiran dan batik pedalaman. Cara mudahnya adalah batik pesisiran punya ragam warna cerah nan memikat. Untuk motifnya sendiri, tidak punya makna filosofis mendalam seperti motif pada batik pedalaman Jawa atau batik keraton.

Motif batik pesisiran banyak menyadur tentang alam sekitar, dari flora hingga fauna secara realis. Pakem yang dikenakan sangat jauh leluasa ketimbang batik pedalaman.

Sempat mewawancari H.A. Failasuf, perajin batik asal Pekalongan, dan menceritakan bahwa ia mewarisi kemampuan orang tuanya dalam membatik. Ia kemudian menerjemahkan batik tidak semata barang seni, tetapi juga bisnis yang menjanjikan. 

Popularitas Pekalongan sebagai sentra batik ternama di Indonesia bahkan dunia, dimanfaatkannya dengan memberikan nama produk-produknya berlabel Batik Pesisir.

Dan Pekalongan pada hari ulang tahun kotanya yang ke-109, 1 April lalu, dinobatkan sebagai jaringan Kota Kreatif Dunia oleh UNESCO untuk kategori Craft and Folk Arts atau kerajinan dan kesenian rakyat. Pengukuhan itu menguatkan Kota Pekalongan untuk berbagi pengalaman dan ilmu dengan puluhan anggota jaringan kota kreatif di seluruh dunia. 

Ada lagi batik pesisiran Cirebon. Yang paling terkenal sentra kerajinannya adalah Desa Trusmi. 

Adalah Ki Buyut Trusmi, agengan yang dihormati sebagai penyebar agama Islam di daerah tersebut sekaligus pula sebagai pemberi indetitas baru desa sebagai penghasil batik khas Cirebon, Trusmi atau Trusmian. 

Hal tersebut semirip dengan keyakinan masyarakat Laweyan tentang Ki Ageng Henis, penyebar agama Islam yang juga memperkenalkan tradisi pembatikan kepada penduduk Laweyan, Solo, Jawa Tengah. 

Kota Tegal yang notabene berada di pesisir utara Pulau Jawa, produk batiknya sempat didongkrak popularitasnya oleh Walikota Kota Tegal Siti Mashita Soeparno (kini dalam tahanan KPK). 

Keunikan batik Tegal adalah khasanah sejarah panjang hubungannya dengan Keraton Mataram. Pengaruh motifnya masih kuat dengan motif yang berkembang di masa Mataram. Hal tersebut diakui oleh dirinya terhadap pernyataan Ketua Umum Paguyuban Pecinta Batik Sekar Jagad Ir. Dra. Larasati Suliantoro Sulaiman saat Pameran Batik Tulis Khas Tegal di Wisma Kagama Yogyakarta (28/3/2014).

Pengaruh Mataram terhadap batik Tegal dimulai saat Raja Amangkurat I melarikan diri ke Tegal Arum (Tegal). Tradisi membatik dari dalam keraton kemudian ditularkan ke masyarakat setempat dan berkembang hingga kini. 

Motif batik Tegal lebih merdeka dalam hal eksplorasi, karena lambat-laun tercipta motif dan warna khas Tegal. Warna khas tersebut berwarna hijau. Sedangkan motif baru khas Tegal diantaranya yang terkenal adalah Sekar Yos Sudarso dan beras mawur. 

Motif Sekar Yos Sudarso menggambarkan kekayaan daerah seperti maritim, pelabuhan, perahu, melati, serta patung Yos Sudarso. Sedangkan motif beras mawur menggambarkan harapan rezeki melimpah. Motif beras mawur diaplikasikan pula di tubuh rangkaian kereta api Tegal Arum.    

Keanekaragaman corak dan motif batik pesisiran membuka aral yang menghinggapi pakem batik. Semisal motif kaligrafi yang ditemui pada batik Kudus, Demak, Jambi, Bengkulu, dan Cirebon, itu merupakan budaya akulturasi dengan Arab. 

Teknik stilasi banyak berperan menggantikan gambar mahluk hidup pada motif batik yang terpengaruh Islam. Begitupula yang terjadi pada motif buketan dan tulisan Tionghoa akibat pengaruh budaya Belanda dan Cina. Dengan kata lain, keragaman motif batik pesisir terkait dengan dua budaya atau lebih. 

Dan batik pesisiran punya peluang besar sebagai barang komoditi yang menjanjikan, karena menjembatani dua pasar atau lebih yang berkaitan dengan percampuran motifnya itu sendiri.   

Jika batik pedalaman sarat makna filosofis sebagai cipta, rasa, dan karsa masyarakat Jawa, maka batik pesisiran sarat dengan kreativitas, inovasi, dan akulturasi. 

Deretan panjang pesisir utara Jawa paling banyak berperan menghadirkan ragam warna dan ragam motif batik. Komoditas produknya menasbihkan kekayaan aneka ragam batik Indonesia. Dan bahkan, provinsi-provinsi di luar Pulau Jawa yang mengembangkan tradisi membatik di wilayahnya, sering berkiblat ke batik pesisir. 

Dan batik pesisiran mampu menyemarakkan industri batik di Indonesia dengan keunggulannya tersebut. Bahkan ada yang berkelakar, "Untuk punya batik khas daerah yang tak punya kerajinan batik, mudah. Bawa motif produksi di Pekalongan, jual di daerahnya maka sudah menjadi batik khas daerah."

Saya menemui kasus itu pada Batik Papua di Port Numbay. Kini Batik Papua itu sudah bisa diproduksi di daerahnya sendiri setelah awal-awalnya diproduksi di Pekalongan.