Simbahe Heidegger adalah ikon filsafat yang tak lekang zaman. Pemikiran dan pergumulannya tentang Ada sungguh memulai awal baru di atas tumpukan-tumpukan gagasan mendasar sebelumnya. Maka layaklah namanya dibanjarkan sejajar dengan mbah-mbah fisluf kondang macam Husserl, Descartes, Sartre dan lain-lain.

Tapi tentu perjalanan pemikirannya tak bebas-lepas setamsil kontroversi tentang kehidupan percintaannya –yang seolah terlarang—dengan gadis keturunan Yahudi, Hannah Arendt dan rumor kedekatannya dengan ideologi Nazi.

Namun lepas dari itu semua, Belio seolah mengajak kita merenung lewat bukunya Sein und Zeit. Meresapi dalam-dalam makna Ada sebelum menganalisis ini-itu dengan metodologi dan bahasa ndakik-ndakik serta teori njelimet.

Maka kredo mbah Descartes seperti, “Aku berpikir, maka aku Ada,” serasa perlu disangsikan terlebih dahulu. "Ada" yang mana yang dimaksud simbahe Descartes?

Apakah karena berpikir ini yang menampakkan Ada ataukah justru karena kesadaran yang membentuk Ada.

Apakah ada yang dicandra dan dicerap individu objektif atau penuh tendensi?

Mbah Heidegger berharap kita melihat sesuatu dengan apa adanya. Tanpa diiringi sebelumnya argumen subjektif yang memengaruhi kejernihan pikiran kita. Karena itu, walau tahun berganti dengan lesat –dan mas Agus Mulyadi bertransformasi menjadi tokoh jomblo kelas nasional yang diidolakan oleh jagat jomblo se-Indonesia—, kita tetap bisa menghargai diri dengan rasa penasaran yang menggebu. Seolah baru pertama melihat sesuatu. Dan sudut pandang pemula ini yang membawa kejernihan.

Bapak F. Budi Hardiman dalam bukunya Heidegger dan Mistik Keseharian lebih nyaman mengambil analogi seorang yang menganggap dirinya terbiasa melihat pohon dan matahari terbit. Menganggap fenomena itu biasa saja. Namun kata pak Budi, “justru rasa keterbiasaan melihat” yang harus diselidiki.

Maka langkah pertama kita adalah menganggap diri sebagai pemula dalam hal biasa yang terlihat itu. Lalu menjadi pelihat kemudian penanya.

Setelah melalui proses itu, mbah Hiedegger berharap Ada mewujud ke kita dalam rupanya yang paling murni. Ada menampakkan dirinya dengan salah satu cara kepada kita.

Mudahnya, bayangkan ada sebuah lukisan di hadapan si A dan si B. Lukisan itu hanya objek warna-warni dengan bentuk tak jelas. Si A adalah seniman bergaya surreal dan si B adalah fisikawan teoretis.

Maka Ada-nya lukisan itu menyingkapkan diri dengan cara berbeda oleh dua orang berbeda. Si A misal melihatnya sebagai karya indah nan menawan namun si B belum tentu. Bisa saja si B hanya melihatnya sekadar lukisan tak jelas dari pelukis yang tak tahu melukis. Namun jika tendensi itu dihilangkan dua orang ini, maka mereka akan menganggap terlepas dari bagaimana ia dicerap, lukisan itu adalah karya manusia.

Lantas,  jika fenomena menyinyiri yang kini menjadi laku wajib para penghakim, pelabel di jagat maya sedang mendominasi topik berita dengan komentar-komentar yang aduhai dianalisis dengan modifikasi fenomelogi-nya Heidegger dan Husserl bagaimana jadinya?

Mari mencoba.

Pertama-tama fenomena tidak dilihat sebagai hal biasa yang dibiasakan. Kita selidiki fenomena menyinyir sebagai sesuatu yang menggairahkan. Setelah berkontemplasi di WC akhirnya kita coba menelanjangi isi kutang laku menyinyiri lalu mendapati satu hal penting. Menyinyiri sebagai sebuah hal alamiah. Kegiatan menilai sesuatu.

Kedua, menganggap diri sebagai pemula dengan melihat menyinyiri sebagai perilaku alamiah yang diikuti pandangan sendiri yang disetir biasanya oleh keadaan sekitar. Misalnya menyinyiri mba Agnes yang kebetulan memakai baju yang disablon dengan tulisan-tulisan cap Onta di konsernya. Penyinyir yang bejibun akan segera berpendapat dengan tendensi agama tertentu. Menilai sesuatu dengan penilaian dari diri sendiri.

Ketiga, menjadi penanya dengan menanyakan, ada yang salah dengan bajunya mba Agnes?

Tidak juga. Wong bahasa bukan hal sakral. Yang sakral adalah isi ajaran yang disampaikan dalam bahasa Onta.

Lalu kita kembali ke langkah pertama. Menganggap fenomema itu  menganggap yang sakral terwakili lewat atribut yang dilekatkan bukanlah hal biasa yang dibiasakan.