Ketika membicarakan tentang permasalahan pendidikan di Indonesia, sepertinya tidak akan pernah ada habisnya. Mulai dari kekerasan, kesejahteraan guru, ketimpangan, polemik penerimaan peserta didik baru, dan sebagainya. 

Kejadian semacam itu sepertinya akan berulang secara terus-menerus. Pengibaratannya seperti lingkaran setan, yang tidak ada titik temunya.

Tetapi, jika berbicara mengenai permasalahan pendidikan, ada salah satu masalah pendidikan di Indonesia yang sepertinya luput dari mata dan tidak pernah terekspos ke masyarakat luas. 

Yaitu, adanya mata pelajaran yang tidak diajarkan oleh seorang guru yang memang benar-benar ahli di bidangnya. Sehingga, harus diganti oleh guru yang lain, meskipun guru tersebut tidak kompeten di bidang mata pelajaran tersebut. Permasalahan semacam itu dapat terjadi, karena masih ditemukan kasus kekurangan guru di sekolah. 

Sebenarnya, polemik kekurangan guru merupakan masalah besar yang  harus segera dituntaskan oleh Kemendikbud. Sebab, jika ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas, komponen utamanya adalah guru yang juga harus berkualitas. Tidak boleh sembarangan guru mengajar mata pelajaran yang bukan bidangnya.

Salah satu contoh guru yang mulai mengkhawatirkan jumlahnya sekarang ini adalah guru sosiologi. Bahkan ayah saya yang juga aktif dalam dunia pendidikan pernah berkata kepada saya, “Sekarang ini mencari guru sosiologi sulit.” Tanpa perlu waktu lama, saya menjawabnya, “Iya, jumlahnya memang tidak banyak.”

Bukan tanpa alasan, karena dulu di sekolah SMA saya, kehadiran guru sosiologi yang memang benar-benar lulusan sosiologi hanya ada 1 orang. Jadi, semenjak saya berada di kelas 10 sampai 12, pelajaran sosiologi hanya diajarkan oleh satu guru yang sama.

Pada dasarnya, kasus kekurangan guru sosiologi dapat disebabkan oleh berbagai alasan. Namun, jika dilakukan sebuah analisis sederhana, dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti berikut.

Baca Juga: Sosiologi Cinta

Minat masyarakat yang minim

Hal ini dapat dikatakan sebagai faktor utama mengapa guru sosiologi sulit ditemukan. Karena, kebanyakan dari masyarakat kita sendiri enggan untuk mengambil kuliah sosiologi, baik itu pendidikan sosiologi atau sosiologi murni. 

Kondisi minimnya minat masyarakat kepada jurusan sosiologi bisa dikatakan mengkhawatirkan. Dan hal itu bisa terjadi oleh berbagai faktor.

Pertama, masyarakat kita memandang sebelah mata jurusan sosiologi. Bagi masyarakat, kuliah sosiologi sama saja berdiri di tanah yang gersang. Artinya, masyarakat beranggapan kalau lulusan dari sosiologi ini tidak memiliki prospek kerja yang bagus.

Dan anggapan masyarakat semacam itu yang menjadikan banyak orang harus berpikir dua kali untuk masuk jurusan sosiologi. Atau bahkan sudah memutuskan sejak awal untuk tidak memilih jurusan sosiologi.

Kedua, adanya konstruksi yang menganggap kuliah sosiologi itu tidak keren. Sehingga, masyarakat lebih memilih untuk kuliah di fakultas yang dianggap keren, seperti: fakultas teknik, fakultas ekonomi, fakultas hukum, dan fakultas kedokteran. Keempat fakultas itu sudah diberi label oleh masyarakat sebagai fakultas yang dianggap lebih terpandang.

Sebenarnya saya bingung, tujuan kuliah itu untuk memperluas ilmu atau hanya buat gaya-gayaan sih? Kalau hanya untuk bahan gaya, lebih baik tidak perlu kuliah. Ingat, kuliah itu berat, tidak seindah yang ada di dalam drama.

Kehadiran budaya merantau

Semenjak proses mobilisasi penduduk terjadi dengan begitu mudahnya, berakibat juga pada makin banyaknya orang pergi merantau dari daerah asal ke kota lain. Hingga akhirnya, merantau sudah dijadikan kebiasaan untuk mencari penghidupan yang lebih layak daripada di daerah tempat asalnya.

Dengan adanya budaya merantau, juga menjadi penyebab mengapa guru sosiologi menjadi sulit ditemukan. Karena, jumlah lulusan sosiologi yang bisa dikatakan sedikit di setiap daerah.

kemudian diperparah ketika para lulusan tersebut ada yang pergi merantau bekerja ke luar kota. Sehingga, berakibat pada jumlah lulusan sosiologi di daerahnya makin menipis keberadaannya. 

Jadi, mau tidak mau juga akan berdampak pada dunia pendidikan. Yang di mana keberadaan guru sosiologi akan makin sulit ditemukan.

Menjadi guru tidak menjanjikan

Kondisi pendidikan Indonesia yang masih amburadul, juga berdampak pada kesejahteraan guru yang tidak jelas. Sehingga, bisa kita temukan masih ada guru yang hidup dalam kondisi yang tidak sejahtera. Selain itu, untuk menjadi seorang guru PNS, dapat dikatakan prosesnya sulit bukan main.

Maka, dengan keadaan guru yang tidak terjamin kondisi ekonominya, membuat para lulusan sosiologi enggan untuk bekerja menjadi seorang guru. Bahkan, saya pernah diceritakan oleh teman saya, yang juga mahasiswa sosiologi, mengatakan lebih baik membuka usaha daripada bekerja menjadi seorang guru.

Alasannya adalah guru itu kerjanya lebih ruwet dan terikat dengan banyak aturan yang harus dipatuhi. Selain itu, membuka usaha setidaknya lebih terjamin kondisi perekonomiannya dibandingkan menjadi guru tidak tetap.

Tidak jarang juga para lulusan sosiologi memilih bekerja menjadi seorang peneliti. Karena, semenjak duduk di bangku kuliah, para mahasiswa sosiologi sudah dilatih dengan tugas-tugas penelitian. Selain itu, bekerja sebagai seorang peneliti jumlah penghasilannya bisa dikatakan lebih besar daripada guru.

Sebenarnya, permasalahan mengenai kekurangan guru sosiologi tidak boleh dianggap sebelah mata. Sebab, pelajaran sosiologi bukan pelajaran yang gampang untuk diajarkan kepada peserta didik.

Salah dalam menyampaikan pelajaran, maka ilmu yang diserap peserta didik juga akan salah. Mari renungkan bersama, apa yang akan terjadi ke depan jika permasalahan tersebut tidak dapat ditangani sampai ke akar rumput?