“Besar harapan kami jika anda berkenan mendoakan dari rumah”. Itulah pesan yang saya terima sebagai penutup undangan pernikahan online. Memang ya, banyak sekali undangan pernikahan di bulan ini. Terhitung sudah masuk 4 undangan di japri WA saya dalam sepekan. Beberapa disertai permintaan maaf belum bisa mengundang secara langsung.

Disisi lain ada pula beberapa tetangga saya yang kekeh memeriahkan acara secara langsung. Mengatakan sini-situ telah memenuhi protokol kesehatan. Lagu khas pernikahan dari suci dalam debu, selimut tetangga sampai sholawatan pun diputar keras-keras oleh mas-mas sound system. Bersahutan dengan berita duka dari takmir masjid atas warga meninggal setelah sebelumnya tiba-tiba merasa sesak.

Sebagai orang jawa tulen, saya dan beberapa teman-teman memahami fenomena diatas. Namun beberapa orang dengan budaya lain mungkin tidak familiar. Cerita diatas menggambarkan tingginya animo masyarakat Jawa untuk melangsungkan pernikahan di bulan Besar.

Bulan besar sebutanya, terkadang disebut bulan Qurban, adalah sinonim versi kalender jawa dari bulan Dzulhijjah. Masyarakat Jawa, percaya ada bulan-bulan yang dianggap (lebih) baik dalam melangsungkan pernikahan. Dimana bulan Besar adalah salah satu bulan yang direkomendasikan. Tradisi adiluhung yang sangat dipegang oleh masyarakat Jawa sampai sekarang. Bahkan mbak saya sendiri menikah di bulan Besar beberapa tahun yang lalu. Sedangkan saat ini, ditengah puncak tertinggi pandemik dan aturan PPKM yang ketat masih banyak pula yang tetap maju gas pol rem blong untuk tetap menikah di bulan Besar.

Saya sering berfikir mengapa para senior-senior penghulu zaman dahulu merekomendasikan bulan Besar sebagai bulan pernikahan di masyarakat Jawa? Apakah berdasarkan hasil pendekatan empiris atau ilmiah seperti yang diajarkan waktu kuliah? Apakah karena alasan pragmatis korupsi kolusi dan nepotisme seperti yang kerap kita lihat dari kelakuan pejabat Wakanda? Atau jangan-jangan hanya beralasan mood seperti seperti perempuan sebelum datangnya si bulan?

Sebelum menjawab rumusan masalah di atas saya ingin mengingatkan bahwa masyarakat Jawa penuh dengan filosofi dalam setiap tindak tanduknya. Sebagai gambaran orang-orang mengatakan ”Jangan duduk diatas bantal to le nanti bisulan lho kamu ! ”. Sebagai lulusan dokter saya faham betul bahwa tidak ada hubungan dari duduk diatas bantal dan bisulan. Tapi maksud dari nasihat tadi adalah bantal itu untuk kepala bukan untuk pantat. Meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Contoh yang lain adalah “Jangan makan di depan pintu nanti rejekinya sulit”. Dari segi ilmiah jelas tidak ada hubungan antara kedua hal tersebut. Tapi maksud nasihatnya adalah pintu merupakan jalan bagi banyak orang dan tidak seharusnya kita menghalanginya. Hal ini penting penting saya sampaikan. Sebab mengingat budaya masyarakat Jawa penuh dengan unsur filosofis, alih-alih memakai pendekatan ilmiah pendekatan yang dipakai adalah pendekatan filosofis.

Tidak bisa dipungkiri salah satu yang tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan Jawa adalah agama Islam. Sangat dimaklumkan mengingat Islam sudah lama menyebar dan mendarah daging di masyarakat Jawa, termasuk melalui dakwah wali songo yang melegenda. Menurut survey masyarakat Jawa pun mayoritas muslim. Bisa dikatakan berbagai kegiatan kebudayaan tidak jauh dari kegiatan beraroma Islam seperti sholawatan dan tahlilan. Bahkan wayang kulit pun secara historis tidak lepas dari nuansa Islam. “Jika dua kebudayaan saling bertemu akan menghasilkan kebudayaan baru, Termasuk dalam perkara pernikahan.. Proses yang dinamakan akulturasi” begitu tutur Mr. Decaprio, guru sejarah SMA saya.

Pernikahan adalah satu proses sosial yang kental akan adat dan budaya masyarakat. Di masyarakat Jawa sendiri prosesi pernikahan sendiri bisa dikatakan tidak sederhana. Belum bahan dan aksesoris yang diperlukan sangat beragam, bahkan saya sendiri tidak hafal detailnya. Tapi ada satu aksesoris yang saya amati seakan wajib di pernikahan Jawa. yaitu keris bagi mempelai pria.

Saat prosesi pernikahan keris tersampir di belakang pinggang mempelai lelaki. Posisi sedikit miring 45 derajat namun tetap gagah dan kokoh. Keris yang ditaruh belakang ini menurut filosofi Jawa bukan tanpa alasan. Tentunya bukan karena kaum lelaki sudah punya ‘keris’ lain di depan, tapi untuk menghormati orang lain.

Keris yang disampirkan di depan (atau bahkan samping) siap dicabut kapanpun dan memiliki arti filosofi ngajak geger (mancing keributan). Tidak bisa dibayangkan bukan saudara-saudara kalau momen pernikahan yang seharusnya bahagia berubah menjadi prosesi carok atau bacok-bacokan seperti di film Hide and Seek. Karena itu keris sebaiknya tersampir di belakang pinggang mempelai lelaki. Hanya ulama atau orang berilmu tinggi yang boleh menyampirkan keris di depan pinggang.

Keris bagi masyarakat Jawa lebih dari sekedar senjata. Keris melambangkan pribadi, harga diri dan yang paling penting adalah kejantanan kaum lelaki. Bukan maksud saya mengatakan kalau kerisnya pendek kejantananya pendek. Yang saya mau katakan adalah sebegitu pentingnya keris bagi lelaki dalam prosesi pernikahan. Bisa dibayangkan mempelai laki-laki yang sudah menyiapkan segalanya eh tapi lupa kerisnya dikatakan kehilangan kejantanan. Sebuah kritik sosial yang memilukan. Mana ada yang lebih menggalaukan kaum lelaki daripada diragukan kejantananya?

Kaum lelaki Jawa diharapkan tidak lupa dengan kejantananya melalui prosesi pernikahan. Baik secara dalam artian lahiriyah atau batiniyah. Saat bulan Besar kejantanan mempelai lelaki diuji. Disinilah mempelai lelaki menunjukan kejantananya. Pertama kepada sang istri dan kedua kepada masyarakat.

Yang pertama kepada istri. Sebenarnya ini antara perkara yang spesial dan tidak spesial. Spesial karena setelah akad mempelai lelaki diperkenan menggunakan senjata yang telah lama sarung di depan pinggang dalam ikatan yang halal. Pengalaman pertama bagi kaum lelaki yang baik-baik. Disaat yang sama laki-laki bisa sepenuhnya menjadi lelaki sebagai pemimpin rumah tangga. Tidak spesialnya dimana? Tanpa melangsungkan pernikahan di bulan Besar pun mempelai lelaki tetap bisa menunjukan kejantananya.

Yang kedua kepada masyarakat. Ini bisa dikatakan spesial dan eksklusif hanya pada bulan Besar. Momen idul Adha atau idul Qurban adalah salah satu hari raya dalam Islam. Momen yang identik dengan penyembelihan sapi dan berbagai jenis mbeeekkk. Yang dipakai untuk menyembelih hewan qurban adalah senjata tajam kan bukan bom molotov apalagi menggunakan jurus Chidori Sasuke. Disinilah letak filosofis dari keris.

Keris yang tersampir di pinggang mempelai lelaki pada bulan ini tidak hanya sebagai pajangan pernikahan. Keris di pinggang para lelaki dalam bulan ini sudah waktunya ditarik dan digunakan untuk menggorok hewan qurban. Tentunya keris tidak bisa untuk menggorok. Keris disini bermakna filosofis senjata tajam secara umum.

Mempelai lelaki seyogyanya turun ke jalan dan masjid dengan senjata mereka. Turut andil dalam berbagai bentuk kegiatan qurban. Menunjukan pada masyarakat “Ini lho mbak mas saya sudah jadi lelaki sempurna sekarang. ‘Senjata’ yang tersarung di depan dan belakang pinggang sudah saya gunakan semuanya”. Dan memang pada umumnya panitia Qurban akan memberikan tanggung jawab yang lebih tinggi pada kaum lelaki yang sudah menikah. Sebut saja job desk paling jantan adalah bagian penjagalan. Dan diantara penjagal yang paling jantan adalah yang menjagal hewan qurban miliknya sendiri dengan ‘keris’ nya sendiri.

Filosofi diatas diperkuat dengan datangnya bulan Suro (Muharram) tepat setelah Besar. Bulan Suro bisa dikatakan bulan paling mistis dalam budaya Jawa, tergambar dari film Malam Satu Suro yang dibintangi dengan apik oleh Suzana. Salah satu budaya Jawa dalam bulan ini adalah ngumbah keris (mencuci atau memandikan keris). Ngumbah keris ini secara filosofis membersihkan dan mensucikan kembali keris yang kotor. Fakta ini memperkuat filosofi keris pengantin yang selayaknya digunakan untuk menggorok hewan qurban. Logikanya setelah digunakan untuk menggorok keris akan kotor terkena najis darah. Karena itu kamu lelaki Jawa dianjurkan berbondong-bondong ngumbah ‘keris’ nya di bulan Suro.

Sebagai penutup masyarakat jawa adalah masyarakat yang filosofis. Banyak nasihat diungkapkan dalam bentuk budaya tanpa mengatakan alasannya secara langsung.Termasuk anjuran pernikahan di bulan Besar merupakan siratan nasihat bagi para mempelai lelaki untuk tidak hanya menggunakan kerisnya sebagai pajangan pernikahan. Melainkan setelah menikah tariklah keris itu untuk menggorok hewan qurban (masing-masing). Agar kejantanan kita, para lelaki, tidak lagi diragukan oleh istri tercinta dan masyarakat.