Hari ini (Sabtu, 16 November 2020), sudah satu minggu aku dan Paus (Juniorku di Mapala PTM Sinjai) berada di Gorontalo. Pada sebuah perbincangan, kawan-kawan Mapala Mohuyula menyarankan untuk mendaki Gunung Tilongkabila sebelum pulang.

“Tidak sah ke Gorontalo kalau belum mendaki Gunung Tilongkabila,” tutur Tarsius, Anggota Mapala Mohuyula.

Aku langsung mengiyakan. Bukan berarti aku tidak mau dianggap belum sah ke Gorontalo, tapi mumpung ada kesempatan dan jadwal pulang juga belum direncanakan.

Aku, Paus, Mameng, dan Kuda akhirnya memutuskan untuk berangkat dengan estimasi 3 hari 2 malam. Oh iya, Kuda ini anggota Mapala Mohuyula. Dia yang akan menjadi leader team. Maklum, katanya dia sudah mendaki Gunung Tilongkabila beberapa kali.

Gunung Tilongkabila sendiri masuk dalam Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone di Kabupaten Bone Bolango dan memiliki ketinggian 1.529 Mdpl.

Minggu, 17 November 2019

Kami berangkat dari Sekretariat Mapala Mohuyula menuju Desa Lombongo menggunakan bentor alias becak motor. Waktu tempuh kurang lebih satu jam.

Matahari perlahan turun menuju singgasana saat kami tiba di desa terakhir. Dan dari sini semuanya dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Setengah perjalanan menuju Pos 1 masih tertutup rotan yang membuat kami harus ekstra hati-hati. Jalur ini juga memaksa kami untuk berjalan dengan posisi jongkok bahkan merayap.

“Jalur Pos 1 biasa juga disebut lorong selamat datang Gunung Tilongkabila, bang” kata Kuda saat kami melepas penat setelah melewati lorong rotan.

Petang baru saja pergi. Langit sudah malam ketika kami masih dalam perjalanan menuju Pos 1. Selain headlamp, juga cahaya bulan yang menyelinap di sela-sela pohon rindang menemani kami dalam setiap langkah yang makin berat.

Sekitar pukul delapan malam, kami akhirnya sampai di Pos 1 dan akan camp di sini. Tempat landai yang cukup luas dan dekat dengan aliran sungai sangat cocok untuk mendirikan tenda.

Setelah bersih-bersih badan dengan tisu basah, kami bertempur di dapur untuk menyajkan makan malam. Kuda dan Mameng menjadi juru masak, Paus menyandang gelar sebagai juru kopi, dan aku bagian penyemangat dan dokumentasi.

Tidak banyak yang kami lakukan di Pos 1. Setelah makan, ngopi, dan sedikit berbagi cerita, semuanya langsung ambil posisi nyaman dan membiarkan tubuh menikmati waktu istirahat karena besok perjalanan menguras tenaga akan segera dimulai

Senin, 18 November 2019

Pagi begitu cerah. Hanya ada awan tipis yang menghiasi cakrawala. Sesuai saran Kuda semalam (Aku tidak menyebutnya diskusi karena hanya Kuda yang berpendapat dan kami hanya mengiyakan apa yang dia katakan), target perjalanan hari ini adalah sampai di Pos 4.

Seperdua perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2, kami kembali dihadapkan dengan lorong rotan.

Setelah berjalan kurang lebih satu setengah jam, kami akhirnya sampai di Pos 2. Tempatnya lumayan luas dan juga sumber air yang dekat. Selepas menghabiskan beberapa batang rokok dan mengisi botol untuk persediaan air di perjalanan menuju Pos 4, kami kembali berangkat.

Perjalanan menuju Pos 3 sudah tak sesulit medan sebelumnya. Tidak ada lagi lorong rotan yang sedari kemarin telah menghadiahkan  kami goresan duri di beberapa bagian tubuh.

Jarak Pos 2 ke Pos 3 kami tempuh sekitar sejam. Saat istirahat di Pos 3, Mameng (Anggota Mapala Justitia FH Unlam) bersyukur karena sudah tidak ada lagi lorong rotan yang kami lalu. Karena lorong rotan itu pula, Mameng dengan sedikit bercanda berujar “Menyesal bang punya tubuh gemuk, susah sekali untuk melalui lorong rotan. Gerak pun sangat terbatas”

Jalur dari Pos 3 menuju Pos 4 cukup menguras tenaga. Sudah sangat jarang kami dapatkan medan yang landai atau bonus seperti kata para pegiat alam bebas.

Sekitar pukul 16:25 kami akhirnya tiba di Pos 4. Sebenarnya kami masih punya waktu untuk meneruskan perjalanan menuju puncak, tapi melihat kondisi tubuh yang sudah patut istirahat, kami memutuskan untuk camp disini.

Malam di Pos 4 cukup dingin. Langit malam begitu indah dengan bintang yng bertaburan dilautan angkasa. Senandung lagu Payung Teduh dari ponsel Paus tak henti-hentinya kami dengarkan.

Semua kembali pada aktivitasnya seperti kemarin malam. Kuda dan Mameng sebagai koki, Paus sebagai juru racik kopi sedangkan aku menjadi bagian dokumentasi.

Setelah menyantap makan malam, kami saling berbagi cerita tentang Mapala. Apalagi kami berasal dari 3 organisasi yang berbeda. Malam ini Paus membuat kopi agak pahit, seperti sengaja untuk mengajak kami begadang.

Selasa, 19 November 2019

Sang Fajar mengucapkan salam pagi. Udara dingin mulai menusuk kulit. Pagi ini juga ada kabut tipis yang menyambutku ketika masih setengah sadar dari tidur semalam.

Bagai siput, kami berkemas. Rasa lelah tentu menggoda untuk mengurungkan niat menuju ke puncak. Godaan yang nyaris meruntuhkan semangat.

Angka di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 06:40. Setelah menikmati cokelat susu dan mengisap beberapa batang rokok, kami mulai berjalan menuju puncak.

Semakin lama, medan semain curam. Langkah sudah tak lagi setegar diawal membuat kami kami harus duduk dan mengistirahatkan kaki.

“Semakin berat sebuah perjuangan, maka semakin manis pula hasilnya” Ujar Kuda bagai seorang pujangga  memberi semangat kepadaku, Paus juga Mameng

Sekitar pukul sembilan, kami berhasil sampai di puncak Gunung Tilongkabila. Kami tak berlama-lama di puncak karena langit yang tadinya cerah berubah menjadi muram. Setelah puas berfoto ria, kami kembali turun ke pos 4.

Sebelum turun menuju perkampungan warga, kami lebih dulu mengisi perut yang sedari tadi protes.

Kami tiba di Desa Lombongo sesaat setelah kumandang adzan asar. Sembari menunggu teman-teman Mapala Mohuyula menjemput, kami bergantian mengobati luka bekas duri rotan dengan obat merah yang kembali ‘menghajar’ kami saat perjalanan turun.

Puncak Gunung Tilongkabila mungkin tidak memberiku pemandangan yang bisa memanjakan mata. Tidak ada suasana ‘diatas awan’ seperti yang ada di gunung-gunung lainnya.

Namun, perjalanan untuk sampai di puncak Gunung Tilongkabila sudah cukup memberiku pelajaran bahwa hidup ini tak melulu soal hasil. Kadang, sebuah proses untuk mencapai hasil lebih manis dari hasil itu itu sendiri.

Dalam setiap perjalanan, selalu ada kenangan yang akan kita rindukan. Salam hangat dan rinduku untuk sedulur sekalian yang ada di Gorontalo.