Anda seorang mahasiswa? Atau seorang siswa SMA yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi? 

Sudah seberapa jauh Anda tahu tentang perguruan tinggi, terkhusus di Indonesia? Sudahkah Anda tahu peringkat universitas-universitas Indonesia di tingkat dunia? Jika belum, Anda perlu tahu hal ini.

Pada awal Juni 2018, QS World University Ranking mempublikasikan peringkat tahunan universitas dunia untuk periode 2018-2019. Peringkat Universitas Indonesia (UI), yang masuk 10 besar universitas terbaik di ASEAN, terlihat menurun. 

Pada peringkat QS World University Ranking periode 2018-2019, UI menduduki posisi 292 dari 1.233 Perguruan Tinggi di 151 negara di dunia. Angka itu merosot dibandingkan pada periode 2017-2018, yang berada pada 277. 

Universitas lainnya bahkan masih jauh tertinggal di bawahnya lagi. Hal ini menunjukan posisi perguruan tinggi Indonesia yang tak kunjung membaik.

Tujuan dari berdirinya perguruan tinggi, menurut UU No. 2 tahun 1989, pasal 16 ayat (1), yakni untuk mempersiapkan peserta didik agar menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.

Serta mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian, serta mengoptimalkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Berdasarkan hal tersebut, dapat kita ketahui bersama bahwa peranan pendidikan tinggi di Indonesia adalah kunci yang sangat vital dalam menentukan kemampuan bangsa Indonesia, untuk terus mencapai kemajuan dan menciptakan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, bahwa kemajuan teknologi suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan tinggi yang membantu suatu negara mencapai kemajuan teknologi melalui adaptasi dan inovasi (ristekdikti.go.id).

Namun, pada realitasnya, perguruan tinggi di Indonesia masih menyimpan begitu banyak problematika-problematika yang pelik. Problematika tersebut jelas saja menjadi sebuah penghalang untuk mampu mengemban tugas-tugas memajukan negara.

Hal paling dasar yang dapat kita lihat sebagai bukti bahwa perguruan tinggi di Indonesia masih memiliki problem adalah peringkat perguruan-perguruan tinggi di Indonesia yang sampai saat ini belum menunjukan progres yang baik.

Berdasarkan data dari QS World University Ranking, saat ini perguruan tinggi di Indonesia masih kalah jauh dari negara-negara ASEAN lainnya. Meskipun Indonesia melalui Universitas Indonesia menempati peringkat ke-9 dari 10 universitas terbaik di ASEAN.

Peringkat tersebut, menurut QS World University Ranking, masih kalah jauh dibandingkan negara tetangga seperti National University of Singapore (NUS), Singapura (urutan 11 dunia). NUS ini sekaligus menjadi universitas terbaik pertama di ASEAN.

Sementara peringkat kedua ditempati Nanyang Technological University (NTU), Singapura (urutan 12 dunia). Selanjutnya secara berturut-turut adalah Universiti Malaya (UM), Malaysia (urutan 87 dunia); Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Malaysia (urutan 184 dunia); Universiti Putra Malaysia (UPM), Malaysia (urutan 202 dunia).

Universiti Sains Malaysia (USM), Malaysia (urutan 207 dunia); Universiti Teknologi Malaysia, Malaysia (urutan 228 dunia); Chulalongkorn University, Thailand (urutan 271 dunia).

Universitas Indonesia (UI), yang dalam daftar QS World University Ranking berada di urutan 292, menempati peringkat ke-9 dari 10 universitas terbaik di ASEAN. Di peringkat sepuluh adalah Universiti Brunei Darussalam (UBD), Brunei (urutan 323 dunia).

Data di atas menjelaskan bahwa perguruan tinggi Indonesia, sebagai negara yang subur dengan jumlah penduduk melimpah, belum mencapai sebuah taraf kelayakan untuk duduk di kelas dunia. Hal ini berbanding terbalik dengan Singapura dengan luas negara yang kecil dan jumah penduduk yang tidak sebanding dengan Indonesia.

Lalu apa yang salah sebenarnya dari kontradiksi ini? Apakah pada tatanan konsep atau pada praktiknya, atau pada kedua-duanya?

Dikutip dari unnes.ac.id, Dr. Marzuki Alie mengatakan bahwa salah satu masalah mendasar yang dihadapi perguruan tinggi di Indonesia adalah problem relevansi dan mutu yang belum menggembirakan. Pendidikan tinggi belum bisa menjadi faktor penting yang mampu melahirkan entrepreneur dengan orientasi job creating dan kemandirian.

Perguruan Tinggi juga belum sepenuhnya mampu melahirkan lulusan yang memiliki akhlak mulia dan karakter yang kuat. Anarkisme intra dan inter-kampus seperti membentuk lingkaran kekerasan. Banyak kita jumpai terjadinya demo-demo yang bersifat anarkis yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa.

Tentu banyak juga prestasi yang telah dicapai. Akan tetapi, gaung masalah ini lebih bergema dibanding deretan prestasi-prestasi. Dalam hal ini, setidaknya kita mencatat berbagai kendala mendasar yang ada dalam dunia pendidikan tinggi, yaitu: 

Pertama, masih rendahnya kualitas pendidik. Masalah ini merupakan persoalan krusial yang harus segera diatasi, karena akan berdampak signifikan terhadap lulusan yang dihasilkan. Salah satu yang akan terdampak adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang selama ini dinilai masih rendah.

Kedua, belum memadainya fasilitas pendidikan. Hingga kini masih banyak pendidikan tinggi yang belum memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap, sehingga proses pembelajaran dan hasil lulusan menjadi kurang optimal.

Terlebih saat ini, dunia memasuki era digital yang seluruh perlangkapan sudah dalam bentuk komputerasasi dan jaringan internet. Namun sangat disayangkan masih banyak universitas yang belum memadai dalam penyediaan komputer, infokus, dan lain sebagainya.

Ketiga, mahalnya biaya pendidikan. Sebagaimana kita ketahui bersama, hingga kini masyarakat masih harus menanggung banyak biaya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sehingga hanya golongan masyarakat mampu yang dapat membiayai pendidikan anaknya di jenjang pendidikan ini.

Meskipun Pemerintah menyediakan beasiswa untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu, namun jumlahnya hanya sedikit. Dampak akhir dari kenyataan ini adalah ketidakadilan dalam memperoleh hak atas pendidikan.

Menurut hasil penelitian Indonesian Universities: Rapid Growth, Major Challenges tahun 2017, partisipasi masyarakat usia 19-24 tahun dalam pendidikan tinggi masih didominasi oleh kelas menengah atas dan 2,6% sisanya baru diisi oleh kelas menengah bawah. Hal ini menunjukkan ketidakmerataan akses yang nyata dalam pendidikan serta ketimpangan sosial.

Keempat, masalah pengangguran terdidik. Banyaknya lulusan pendidikan tinggi yang tidak dapat segera memasuki dunia kerja merupakan permasalahan krusial dalam pendidikan tinggi di Indonesia. Berdasarkan pengamatan, pengangguran terdidik di Indonesia terus mengalami peningkatan sejak beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan universitas pada Februari 2018 naik sebesar 1,13 persen dibandingkan Februari 2017. Dari 5,18 persen menjadi 6,31 persen. 

Oleh sebab itu, sebagai mahasiswa dan sebagai generasi terpelajar, kita harus membuka mata lebih lebar terhadap kondisi pendidikan di sekitar kita. Tidak hanya duduk menerima pelajaran mentah-mentah dari dosen, pulang, kemudian ujian, lulus mendapat gelar.

Tapi benar-benar mengemban tugas sebagai agent of change. Membangun negeri, bersinergi dengan dosen, pemerintah serta pengetahuan-pengatahuan untuk mewujudkan Indonesia menjadi lebih baik. Semuanya dimulai dari diri kita, untuk menjadi generasi cerdas dan peka.