“Musik adalah bahasa jiwa.” Begitu kata tokoh sufisme universal asal India, Hazrat Inayat Khan. Musik merupakan media global yang dapat dinikmati siapa saja tanpa ada keharusan untuk memahami. Meskipun musik juga dapat menjadi sarana belajar banyak hal. Mulai dari seni, budaya sampai bahasa asing.

Musik memiliki kekhasan tersendiri dalam menyampaikan pesan. Sebuah lagu bisa memberi kesan yang plural, tergantung siapa yang mendengarkannya. Tidak heran jika masing-masing orang memiliki tafsiran berbeda untuk sebuah lagu. Kita ambil contoh dibalik lagu asmara yang romantis boleh jadi menyimpan makna sufistik mendalam. Hal itulah yang saya alami sendiri.

Tempo lalu, ketika saya sedang asyik mengecat tembok kamar, ditemani segelas kopi dan lagu-lagu yang berputar acak dari sebuah gawai. Sampailah gawai memainkan lagu Naff yang berjudul “Akhirnya Ku Menemukanmu”.

Awalnya, saya menikmati lagu ini biasa saja. Masuk dari kuping kanan, keluar dari kuping kiri. Namun, entah karena saya yang tertarik atau diri saya yang terlampau hiperbol, lirik yang terdengar malah mengetuk batin saya.

Membuat saya berhenti sejenak untuk mengecat dan turun dari meja kayu lapuk itu, melangkah menuju ke sumber suara, dan duduk termenung. Tunduk nikmat pada tiap lirik yang dilantunkan.

Lagu tersebut terinterpretasikan menjadi kalimat-kalimat indah, seperti syair-syair yang dibuat para sufi di kepala saya. Terdengar begitu syahdu sampai saya putar berulang-ulang. Dibuatnya mabuk akan lagu ini.

Single lagu kedua dari album Isyarat Hati milik Naff ini menceritakan tentang seseorang yang ‘akhirnya’ berhasil menemukan kekasihnya ketika ia sudah hampir putus asa dan menyerah. Sebelumnya saya juga memaknainya demikian namun kali ini justru lain, yakni sebagai lagu seseorang yang ‘menemukan’ Tuhan. Berikut saya akan coba memparafrasakannya.

Verse

Akhirnya 'ku menemukan-Mu

Saat hati ini mulai merapuh

Akhirnya 'ku menemukan-Mu

Saat raga ini ingin berlabuh

Bagian verse menyuratkan kelegaan seseorang yang gundah gulana yang akhirnya berhasil menemukan apa yang selama ini ia damba. Hati yang rapuh adalah gambaran keputusasaan, kelemahan batiniah. Sementara raga yang ingin berlabuh ialah ungkapan kelelahan lahiriah yang terselip isyarat kerinduan kepada Sang Kekasih.

Pengulangan kata ‘akhirnya’ menandaskan adanya keinginan menggebu yang telah lama membuncah di dalam hati. Awal lagu yang dibuka dengan kata ini adalah pengingat bahwa pertemuan dengan-Nya bukanlah akhir, melainkan awal segalanya.

Pre-Reff

Ku berharap Engkaulah 

Jawaban segala risau hatiku 

Dan biarkan diriku 

Mencintai-Mu hingga ujung usiaku

Ketika seseorang telah menemukan pelabuhan hatinya tentu saja ia berharap bahwa Dirinya memang benar-benarlah jawaban dari segala risau hatinya. Ia bahkan memohon agar dibiarkan mencintai-Nya hingga ujung usia. Tidak ada lagi hal lain yang diinginkan selain mencintai-Nya. Tafsiran ini seketika mengingatkan saya akan syair-syair muhabah Rabiah Al-Adawiyah. 

“Ya Tuhan, apa pun yang Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-Mu dan apa pun yang Engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti, berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu. Karena Engkau sendiri, telah cukup bagiku.”

Duh, Gusti.

Reff

Jika nanti kusanding diri-Mu

Miliki aku dengan segala kelemahanku

Dan bila nanti Engkau di sampingku

Jangan pernah letih 'tuk mencintaiku

Memasuki reff, lagu ini berhasil menyentuh puncak emosional saya. Pada baris pertama, kata ‘jika’ mewakili sebuah harapan dan lirik ‘kusanding diri-Mu’ adalah sebuah pujian kekaguman-Nya yang tingkatannya amat tinggi. 

Baris berikutnya, terdapat kata ‘miliki’ yang mempunyai tendensi perintah, akan tetapi dibalut apik dengan lirik selanjutnya yang menggambarkan pengakuan kelemahan diri seorang hamba di hadapan Rabbnya dan menjadikannya terdengar layaknya sebuah permohonan atau doa.

Jika dibandingkan dengan baris pertama, baris ketiga reff ini terdengar kontradiktif. Namun itu hanyalah paradoks. Lirik yang terkesan seakan meninggikan diri sendiri lagi-lagi berhasil dibalut secara elegan. 

Kata ‘jangan’ yang sekilas tampak instruktif atau bahkan represif, namun kata ini hanyalah prolog untuk permohonan seorang hamba yang khawatir apabila Rabbnya letih mencintainya.

Lagu ini dibuka dan ditutup dengan lirik yang sama, yakni ‘Akhirnya ku menemukanmu’. Secara struktural, penempatan lirik tersebut saya tamsilkan sebagai entitas lain dari kalimat istirja bahwa sejatinya manusia akan kembali kepada permulaan. Atau yang dikatakan oleh Soe Hok Gie sebagai “Dari tiada ke tiada”.

Uniknya, penggalan lirik tersebut juga dijadikan judul oleh Rusyaedi Makmun alias Ady selaku pencipta lagu tersebut. Sebagai pendengar awam, saya mengapresiasi musisi kelahiran Makassar tersebut yang sukses mengambil potongan yang pas untuk dijadikan judul yang cukup komprehensif ini. Tidak heran kalau lagu ini cukup easy listening dan populer sampai sekarang.

Saya yakin masih banyak lagu lain yang menyimpan makna implisit di dalamnya. Tidak hanya lagu, karya lain seperti lukisan, film atau karya tulis pun bisa jadi demikian. Semua bergantung bagaimana seseorang memaknainya.

Bahkan ketika kamu membaca novel tragedi sekalipun, sebenarnya bukan sepenuhnya andil ceritanya yang membuatmu sedih atau kesan-kesan tragis dan muram dalam hidup saja yang didapat. Melainkan lebih oleh sebab interpretasi pribadi yang menstimulusmu larut membiru ke dalam alur novel. 

Setragis apa pun nasib si tokoh, kalau kamu tidak menganggapnya begitu ya tentu tidak. Hmm, saya jadi curiga, jangan-jangan memandang hidup juga begitu, ya?