Menjelang usia 27 tahun, ayah satu putri ini terserang sejumlah penyakit. Dia meninggal di CBZ (kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo/RSCM) pada 28 April 1949.

Ya, lelaki itu tak lain adalah Chairil Anwar. Seorang penyair kebanggaan Indonesia penganut eksistensialisme yang karyanya paling sering diingat anak-anak mulai SD sampai SMA. Bahkan kerap dijadikan materi lomba puisi.

Yang paling fenomenal tentu Aku dan Tuhanku. Sayang memang, penyair sekaliber Chairil harus sudah mangkat di usia emasnya. Kalau masih hidup seribu tahun lagi, seperti apa yang diucapkan dalam baris terakhir puisi masterpiece-nya, Aku, barangkali lebih banyak lagi karya yang lahir.

Itulah sedikit kenangan yang terngiang tentang sosok Chairil Anwar. Kini, sudah 69 tahun berlalu, sekali lagi, wafatnya sang penyair mesti diperingati sebagai Hari Puisi Nasional.

Chairil Anwar adalah tonggak awal mula puisi tanah air menggeliat dan mulai diperhitungkan – bersamanya juga muncul sosok Amir Hamzah. Karena telah menjadi ikon dunia kepenyairan Indonesia, pantaslah tanggal wafat sang pujangga, 28 April, dirujuk sebagai Hari Puisi Nasional. 

Baru setelah era Chairil itu, bermunculan penyair-penyair kondang dan kawakan macam W.S. Rendra (1935–2009), Wiji Thukul (1963–1998), Soetardji Calzoum Bachri, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, hingga Zawawi Imron. Tentu masih banyak lagi, apalagi generasi terbaru saat ini.

Pada peringatan Hari Puisi Nasional 2018 ini, secara khusus saya akan membicarakan karya mutakhir dari pujangga yang terkenal dengan kesahajaannya: D. Zawawi Imron. 

Jangan tanyakan huruf ”D” itu kepanjangan dari apa. Sebab, sang empu sendiri juga enggan mengungkapkan. Beliau hanya pernah bilang, "D" artinya adalah...Dirahasiakan.

Zawawi Imron adalah pujangga besar dalam jagat kesusastraan tanah air. Meskipun memiliki nama besar, Zawawi Imron tak silau. Beliau dikenal sangat menjaga kesederhanaan. Salah satu buktinya, dan ini fakta yang sudah diakui banyak orang, pujangga berjuluk Si Celurit Emas ini tetap tinggal di Madura, tepatnya di Batang-Batang, Sumenep.

Alih-alih beredar di kawasan metropolis atau ibu kota sebagai sosok tenar, dia tetap berkediaman di desa, di antara petani dan nelayan. Baginya, gemerlapnya dunia dan popularitas di kota adalah penghalang bagi kedekatan seorang hamba dengan Tuhan.

Pada 2016, Abah Zawawi – begitu biasanya orang sering mengakrabkan diri – menerbitkan kembali buku kumpulan puisinya berjudul Refrein di Sudut Dam dengan beberapa tambahan sajak. 

Puisi yang, sekali lagi, justru menegaskan sisi keindonesiaan Abah Zawawi, meskipun sebagian besar puisinya berlatar negeri orang. Seperti judul dalam buku kumpulan puisi ini, Refrein di Sudut Dam, yang merujuk ke Belanda – Belanda dijuluki Negeri Seribu Dam.

Sampul buku kumpulan puisi Refrein di Sudut Dam karya D. Zawawi Imron

Sajak-sajak dalam buku ini memang tidak secara keseluruhan bicara tentang manusia dan alam Belanda. Tetapi, puisi-puisi ini tidak mungkin saya tulis tanpa berkunjung ke sana. 

Selain dari apa yang saya lihat dan saya hayati di sana, barangkali memang ada denyut yang saya bawa dari tanah air yang tiba-tiba mengharu biru dan mendesak-desak untuk ditulis. Antara lain, di sana saya merasakan rindu tanah air yang menggelora, bukan hanya kepada gunung, pohon siwalan, laut biru, pekik bekisar, racik air di sungai, tapi juga kepada orang-orang tercinta, petani, tukang becak, nasi pecel, dan soto daging yang dihidangkan panas-panas. 

Menulis sajak-sajak tentang Negeri Belanda, saya tidak bermaksud untuk jadi Belanda. Bahkan, saya tidak ingin menjadi orang lain dalam diri saya.

Begitu pemilik sajak Bulan Tertusuk Ilalang yang terkenal itu menerangkan asal usul penulisan puisi tersebut dalam pengantarnya, yang kian menegaskan kerinduannya kepada tanah air tatkala berada di negeri orang.

Kerinduan terhadap Indonesia dan kampung halaman itu pun tecermin dalam beberapa puisinya. Salah satunya puisi berjudul Refrein di Sudut Dam (hal 25) yang dijadikan judul bukunya ini.

Amsterdam bagiku memang sebuah terminal
Dengan detik-detik yang terasa mahal
Masa silam dan masa depan di sini bergumpal
Menyesali titik-titik gagal

Matahari yang juga mata waktu mendesakku menjaga kaca menggala
Untuk menerjemahkan cahayanya menjadi api dan nyala
Di udara menari kapak, senapan, sapu, biola, gendang, dan sejenis debu
Menyanyi buku-buku, kertas arsip hendak turut memutar tasbihku
Jangan dulu! Di sini Amsterdam
Akan kukubur dendam sejarah
Sia-sia memberhalakan derita

Ibu kampungku selaksa kilometer jauhnya
Tapi terasa berbatas tabir saja
Segenap keasingan akan lebur dengan menyemai cinta ke hati salju
Terbayang pohon pinang di dekat sumur dulu tempatku mandi
Menyuruhku jangan sembunyi
Olle alang darahku makin gelombang

Sinisme terhadap Belanda yang pernah menjajah Indonesia selama tiga setengah abad pun sempat terlintas, tapi buru-buru ditampiknya. Tampak dalam penggalan: Akan kukubur dendam sejarah, sia-sia memberhalakan derita

Sejarah kelam atas Belanda hanya masa lalu yang mesti dikubur dalam-dalam. Indonesia dan Belanda memang telah menciptakan sejarah yang sangat panjang. Meskipun demikian, beliau tak akan melupakan begitu saja penderitaan orang-orang yang terjajah dulu.

"Peristiwa itu memang sudah berlalu, tetapi penghinaan kepada kemanusiaan selalu muncul di dunia ini dengan bentuknya yang baru. Saya tidak akan memberhalakan kekecewaan dan kesengsaraan, tetapi saya akan tetap mengutuk setiap penindasan, baik yang dulu, sekarang, maupun yang akan datang," kata pemilik syair Ibu itu dalam pengantar selanjutnya.

Kemudian, ketika berada di Amsterdam, Zawawi malah semakin rindu dengan kampung halamannya. Itu bukti cintanya kepada tanah air. Terlihat dari penggalan: Ibu kampungku selaksa kilometer jauhnya, tapi terasa berbatas tabir saja. Sungguh indah sekali, kampungnya seperti hanya berbatas tirai meskipun jarak antara Belanda dan Tanah Garam tentu beratus-ratus kilometer.

Dalam puisi berjudul Di Atas Isfahan, lagi lagi Abah Zawawi tidak bisa melepaskan diri dari unsur keindonesiaan. Seperti penggalan berikut: Di puncak kesunyian ada gunung meletus melebihi Krakatau

Di Refrein Hotel juga tampak bagaimana ketika beliau melihat lukisan kuda malah teringat dengan Sunda, sebuah suku di Indonesia. Dikatakan ada seruling yang mendayu-dayu. 

Seruling merupakan salah satu alat musik tradisional. Dan, musik-musik di Indonesia masih sering menggunakan seruling sebagai penghasil suara. Misalnya dalam genre musik dangdut.

Puisi-puisi lain yang memperlihatkan kecintaan, atau juga kerinduan, Abah Zawawi terhadap tanah airnya, entah orang-orangnya maupun alamnya, terpampang pula dalam penggalan berikut:

...Amsterdam yanga agak gatal tiba-tiba menjadi ramah
Tak penting antara kami dan dia tak pernah bertemu
Yang penting kopi traktiran itu telah mengingatkanku
Pada samudra di dada ibu.
(Meeting Point untuk Linde Voute, hal 17)

Zawawi Imron juga dikenal sebagai salah seorang sufi dari Madura. Melihat dari kesahajaannya, juga kedekatannya terhadap Sang Pencipta. Seperti tergambar dalam puisi Sujud di Tepi Amstel ini:

Kuhampar sajadah cinta
Alangkah sulitnya menyentuhkan dahi
Ke tanah yang sering diinjak kaki

Beliau seperti ingin mencurahkan isi hatinya bahwa di negeri luar sana, di kota padat penduduk, melakukan sujud saja begitu sulit karena banyak orang berlalu lalang. Hal ini berbeda dengan di Indonesia, lebih khususnya di desa. Orang bisa menyentuhkan dahi di atas tanah kapan saja tanpa banyak gangguan.

Ini lagi puisi yang berisi kontak batin sang pujangga yang teringat Indonesia ketika berada di Negeri Kincir Air.

Mengingat Daendels jadi teringat nenek moyangku
Yang mati kerja rodi
Membuat jalan dari Anyer ke Penarukan

Dalam pusi Di Simpang Jalan itu, saat di Belanda Abah Zawawi ingat dengan Daendels, lengkapnya Herman Willem Daendels, seorang jenderal Belanda pada zaman VOC dulu yang menurut sejarah namanya diabadikan menjadi nama jalan di sepanjang jalur pantura.

Bukan cuma berbicara tentang kerinduan dan kecintaan dengan tanah air, Abah Zawawi juga menerjemahkan isi hatinya yang lain melalui syair-syair yang bermakna. Dua puisi lainnya yang sarat makna adalah Ramah Tamah (hal 5) dan Bertemu Gadis Negro (hal 21). Dalam puisi Ramah Tamah, ada nilai profetik yang terkandung.

Berbicara profetik, kita pasti langsung teringat pada sosok Kuntowijoyo (1943–2005). Puisi ini berkisah mengenai percakapan Zawawi Imron tentang minuman anggur dalam sebuah jamuan makan di Belanda. Minuman dari sari buah anggur yang difermentasi dan biasanya mengandung alkohol sehingga dilarang bagi muslim. Bagaimana Zawawi mengejawantahkan sikapnya?

Mereka menuang anggur merah hitam warnanya
Aku menuang air yang jernih bagai air siwalan muda
Setelah tiba saatnya gelas-gelas bersentuhan di udara
Ting bunyinya
Kemi semua minum
Persaudaraan memekarkan senyum

"Mengapa kau mium air, bukan anggur merah?" tanya sahabat dari Karibia
Aku jadi tertuduh. Lalu kujawab: ”Yang kuminum barusan ini adalah anggur murni
Yang belum dicemari warna dan aroma

Zawawi menolak untuk meminum anggur tanpa menyinggung perasaan orang yang menanyai dan meminumnya. Beliau tidak langsung menjawab dengan keras atau bahkan sinis bahwa anggur itu haram, misalnya. Beliau punya jawaban yang bijaksana: Yang barusan kuminum ini adalah anggur murni yang belum dicemari warna dan aroma. Itulah salah satu unsur profetik.

Puisi berjudul Bertemu Gadis Negro seperti ingin mengajari arti toleransi dan kemuliaan. Menjunjung tinggi derajat seseorang tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan antargolongan. Simaklah puisi lengkapnya berikut.

Seorang gadis hitam di atas trem
membawa tas besar, mungkin dagangan
Ia sangat biasa, tapi matanya terlalu teduh
Sehingga tidur segenap berahi

Di depanku ia datang dari entah
Menuju entah yang lain
Dengan memeram setia yang basah
Mata begitu adalah kedalaman samudra
Paduan embun lima benua
Ia turun di stasiun Gouda

Di hatiku: ”Selamat jalan menuju entah yang tak kutahu!”
Dalam lanjut menuju Den Haag
Mata teduh itu jadi warna gelapnya malam
Yang menggali kedalaman dan memekarkan kejauhan

Ada sejenis sorga
Di balik sepasang alisnya
Membuat puisi tak fasih bicara

Bagaimana? Elok sekali, bukan? Seperti itulah memang puisi diciptakan. Selamat Hari Puisi Nasional!