Waktu itu matahari sedang berada tepat di atas kepala, bahkan sinarnya berhasil menyengat kulit kami. Udaranya pun juga cukup panas sehingga membuat kami ingin segera sampai di Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Kota Pekalongan yang beralamatkan di Jalan Belimbing no. 3 Pekalongan.

Dengan senyum hangat, Herman Mulyanto, selaku sekertaris MAKIN Pekalongan menyambut kami dan mempersilakan untuk duduk di dalam Li Tang yang sepi karena sedang tidak digunakan untuk ibadah. Tak butuh waktu lama, kami akhirnya berbincang hangat ihwal makna toleransi menurut agama Konghucu.

"Kita melihat toleransi itu bagaikan satu taman bunga. Kalau kita melihat taman yang isinya satu macam warna bunga saja, rasanya kurang indah. Dengan bermacam bunga warna-warni, itulah keindahan. Nah bagaimana keindahan ini satu dengan yang lain tidak saling mengintimidasi. Misal, bunga mawarnya harus lebih banyak dari bunga melati. Ini tidak begitu, jadi saling mengisi (antar perbedaan)," analoginya saat kami temui pada (1/5/19).

Herman juga menambahkan, bahwa orang beragama itu harus fanatik ke diri sendiri, tetapi ketika dengan orang lain, haruslah toleransi.

Pada Minggu (5/5/19), kami diberi kesempatan untuk melihat proses ibadah dari umat Konghucu di Li Tang. Seperti di awal pertemuan dengan Herman, kami pun di sambut hangat oleh semua umat Konghucu yang sedang menunggu ibadah dimulai. Bahkan oleh salah satu umat, kami diajari bagaimana caranya memberi salam kepada sesama dalam agama Konghucu.

Pukul lima lebih lima belas, ibadah dimulai dengan khidmat. Selepas Maghrib, kami izin sholat lebih dulu dan kemudian kembali lagi untuk mendokumentasikan ibadah. Seusai ibadah, kami berbincang dengan Jiao Sheng Andi Gunawan.

"Ketika kita bicara soal kerukunan di Kota Pekalongan, itu sudah selesai, situsnya sudah jelas. Ada kelenteng, gereja, masjid. Itu butuh toleransi tingkat tinggi karena (letaknya) berdampingan. Tidak ada satu kilometer, hanya berbatas museum (Museum Batik), hanya berbatas kali. Nah sebenarnya Kota Pekalongan kalau tak lihat itu sudah kondusif (bertoleransi tinggi)," tuturnya.

Meskipun Kota Pekalongan telah dipandang sebagai kota yang toleran, namun ada satu masalah yang terjadi. Di mana orang-orang masih bergesekan dengan politik praktis sehingga mudah 'bersumbu pendek' jika bersangkutan dengan agama. 

Maka sebagai generasi yang melek digital, anak-anak dituntut untuk cerdas dalam menangkap suatu informasi. Jangan sampai terjebak hoax. Karena bagi wakil ketua MATAKIN Jawa Tengah ini, semua kiai, pendeta, romo, dan lain sebagainya pasti mengajarkan perdamaian dan kerukunan, bukan sebaliknya.

Di tempat lain, pada (2/5/19). Kami menemui Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI). Ihwal toleransi, ia sepakat bahwa toleransi itu bagaimana kita menghargai penciptaan Tuhan yang lain. Meyakini dan mengimani sesungguhnya seluruh ciptaan Tuhan itu baik.

"Kami menghargai kehidupan yang Tuhan berikan dengan cara menghayati bahwa keberagaman di dalamnya itu ciptaan Tuhan. Kalau kita tidak menghargai keberagaman yang Tuhan ciptakan, artinya kita tidak menghargai penciptanya," jelas Yosua saat kami temui di salah satu ruangan yang berada di dalam gereja.

Ia juga menambahkan, toleransi di Kota Pekalongan bukan hanya berwujud pada menerima agama lain saja, namun juga menyentuh sisi-sisi kemanusiaan yang ada. 

Seperti dilihat dari kegiatan di GKI sendiri. Ada donor darah tiap tiga bulan sekali khususnya ketika puasa, bakti sosial (yang tidak hanya untuk jemaat saja), kemudian ketika Pekalongan terkena bencana rob, para jemaat membantu dengan mendirikan dapur umum, nge-drop bantuan bersama dengan lintas agama lain.

Sama halnya dengan Hartono, selaku seksi hubungan antar agama dan kepercayaan di Gereja Santo Petrus Kota Pekalongan saat kami temui pada (7/5/19). Toleransi bagi dia adalah sikap saling menghargai, menghormati, dan mengasihi tanpa memandang agama apapun.

Gereja Santo Petrus sendiri mewujudkan rasa toleransi bukan hanya perihal hubungan baik antar sesama manusia, namun dalam prakteknya yang bisa dilihat masyarakat, tiap-tiap ada perayaan hari besar umat lain, seperti misalnya: Idulfitri, cap go meh, paskah, dan lainnya, mereka selalu membuat spanduk ucapan selamat yang dipasang persis di gerbang masuk gereja. Menurut Hartono, ini adalah salah satu perwujudan sikap toleransi yang sederhana namun bermakna.

Pada puasa hari ke tujuh (12/5/19), kami ikut mendokumentasikan Ekaristi di Gereja Katolik. Melihat prosesnya dari awal hingga akhir. Seusai itu, kami bahkan diajak foto bersama-sama.

Kami diajak ke ruang tunggu sembari menunggu untuk berbincang dengan Romo Mardi Usmanto. Saat itu kami belum sempat membatalkan puasa, lalu dari salah satu umat Katolik menghampiri kami. Ia memberikan beberapa air putih gelas, kopi Goodday kemasan dingin, dan roti untuk berbuka puasa. Sambil tersenyum ramah, mereka memberikan itu pada kami.

Tidak butuh waktu lama, kami akhirnya bertemu. Masih ihwal toleransi menurut perspektif Romo Mardi, ia mengatakan bahwasannya toleransi itu bukan berarti strategi untuk membangun perdamaian. Akan tetapi toleransi harus sudah ada sebelum perdamaian itu sendiri.

"Dalam toleransi, yang Islam makin Islam. Karena tau itu kekhasannya. Itu jalannya. Bukan berarti toleransi itu lalu yang Islam menjadi ragu-ragu. Itu keliru. Identitas harus semakin terbentuk. Semakin yakin. Tapi bukan berarti (untuk) menyerang, malah justru semakin mendalami keislamannya," papar dia.

Dari bentukan toleransi yang sudah ada ini, Mardi mengajak masyarakat untuk memerangi radikalisme. Ia juga berkata bahwa toleransi bukan untuk pencampur-adukkan satu dengan yang lain, tapi bagaimana seseorang bisa menghormati (pilihan agama) orang lain. Karena Allah juga menciptakan jalan lain (untuk menuju-Nya).

Setelah perbincangan singkat itu, kami bergegas ke Masjid at-Taqwa yang letaknya tak jauh dari gereja untuk menunaikan sholat magrib dilanjut sholat isya dan tarawih. Lalu kemudian kami pergi ke pondok pesantren Kiai Zimam Hanifun Nusuk yang berada di Krapyak Lor gang 2 Pekalongan untuk mengetahui apa makna toleransi sendiri menurut agama Islam.

Kami disambut oleh seorang santrinya dan diajak duduk untuk menunggu karena Gus Nif, sapaan akrab dari Kiai Zimam sedang ada tamu. Setelah menunggu hampir lima jam lebih, akhirnya tepat pukul dua belas, kami bisa bertemu dengannya. Ditemani satu cangkir kopi hitam, kami asyik berbincang ihwal toleransi bersama Gus Nif dan tiga santrinya yang ikut menyimak.

"Kalau toleransi dalam Islam, selain akidah welcome. Bentuk toleransinya simbolik. Seperti kalau puasa begini ngajak bukber dengan non Islam supaya ada ruang untuk bertemu. Saya kira kalau diagama lainpun ada. Seperti peringatan maulid ditempatnya Abah (Habib Luthfi bin Yahya), non Islam juga diundang. Dan itu tidak merusak iman mereka. Sama juga ketika peringatan Natal," ujarnya sembari menikmati kopi dan rokok dihadapan kami.

Gus Nif juga menambahkan. Banyak hal yang bisa dilakukan bersama sebagai sesama umat manusia yaitu melawan kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, narkoba, dan sebagainya. Namun bukan dalam ruang-ruang teologis, karena jika begitu tidak akan selesai.

"Kalau bicara soal teologi, jangankan dengan non Islam, sesama saja (Nahdlatul Ulama dan Salafy) tidak ketemu. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah kadang masih ada perbedaan. Itu ruang dapur, kalau dipaksa bisa memicu konflik. Tapi dicari titik temu," pungkasnya.

Pada (14/5/19) kami berjalan-jalan di kawasan Pecinan Kota Pekalongan. Di sana bermukim banyak agama dan etnis salah satunya Waryoso. Menurut dia, semua masyarakat di sini saling berbaur, saling menghormati satu sama lain. Tidak pernah terjadi konflik. Bahkan ketika politik sedang panas-panasnya, bagi warga sini sama sekali tidak berpengaruh. Begitupun dengan Yayan, salah satu warga yang kami tanyai di depan pintu rumahnya.

"Hidup di sini tidak ada konflik. Kita kalau ada kepentingan bilang, kalau ndak ada ya ndak. Semua urusan masing-masing tapi tidak saling mengganggu. Pokoke nek orang itu kalau ndak diwarai ya ndak marai," ujarnya.

Bagi Abdul Azim, dosen IAIN Pekalongan sekaligus pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pekalongan, dalam melihat kondisi Kota Pekalongan sekarang, menurutnya Kota Pekalongan bisa menjadi salah satu kota rujukan toleransi di Indonesia.