Sudah menjadi maklum, bahkan merupakan suatu keharusan, ketika kita sedang mengamati suatu hal, selalu saja perlu memahami keapaan atau esensi dari hal tersebut. Ini merupakan upaya untuk mendasari pemahaman kita tentang suatu hal.

Tapi di sini, esensi kertas bukan dalam arti suatu hal sebagai hal itu sendiri, tapi esensi suatu hal hubungannya dengan cara berada kita di dunia. Dari sudut pandang eksistensi tersebut esensi kertas akan dikuliti.

Dalam keseharian kertas, dapat disebut sebagai sesuatu. Ketika kita menyebut kertas dalam pengertian umum, kita juga menyebutnya sesuatu, maka ia pun sama dengan kayu, batu, obeng, gunting, pentungan, dan lain-lain.

Hal yang sama juga ketika kita menyebut suatu agama, ilmu, dan filsafat. Tampaknya, sekalipun semua itu abstrak, kita pun dapat menyebut semua itu sebagai sesuatu. Sekalipun semuanya tidak konkret, tapi yang seperti itu tetap merupakan sesuatu, yakni suatu sistem pemikiran yang jelas, sekalipun tidak dapat ditunjuk sebagaimana kita menunjuk gelas yang ada di atas meja. Hasrat atau keinginan pun adalah sesuatu

Selain itu, terdapat juga sesuatu yang bukan apa-apa atau sesuatu yang hanya dapat kita sebut sebagai yang bukan tidak ada. Hal itu sudah tidak asing lagi bagi yang pernah mengenal filsafat Kant yang dinamai dengan nomena, “sesuatu itu sendiri” yang dia bedakan dengan fenomena, “sesuatu bagiku”.

Tentu nomena ini tidak dapat kita tunjuk di mana pun, karena ia sesuatu yang tidak dapat diketahui; apa-apa yang mungkin diketahui hanya fenomena. 

Jadi nomena sebenarnya ada yang bukan apa-apa atau sesuatu yang bukan tidak ada. Oleh karena itu, nomena itu tentu sesuatu yang entah, tidak jelas atau ambigu dalam pikiran kita. Tentu kita tidak dapat memahami kertas sebagai nomena, walaupun sama-sama sesuatu.

Jadi, sesuatu itu terdapat yang jelas dan yang tidak. Pancasila sebagai sebagai ideologi merupakan sesuatu. Nomena sekalipun tidak jelas juga disebut sesuatu dan kertas pun adalah sesuatu. 

Secara epistemologis, Pancasila atau bahkan suatu paradigma tentang lingkungan itu sesuatu dalam pikiran. Sementara kertas merupakan sesuatu yang empiris, yang hadir bagi indra kita.

Dapat dipahami bahwa kertas sebagai yang empiris tersedia di indra. Sementara, seperti Pancasila yang merupakan sistem ide, bermukim dalam pikiran dan hanya dapat ditunjuk dalam pikran. Kita tidak dapat menunjuknya sebagaimana kita menunjuk kertas.

Jika kertas merupakan sesuatu yang empiris, karena kita dapat melihatnya, menyentuhnya, bahkan juga jelas baunya, tentu ia pun sesuatu yang konkret. Akan tetapi, secara ontologis, atau hakikat adanya, huruslah didatangi, bukan sekadar dari sudut pandang mengetahui kertas sebagai sesuatu yang empiris, tetapi harus didekati adanya dari sudut pandang eksistensi kita. 

Dengan kata lain, mempertanyakan esensi kertas adalah dalam arti sejauh kita eksis, bukan kertas sejauh kertas atau sebagai kertas itu sendiri.

Kertas dalam kehidupan sehari-hari kita adalah sesuatu yang tersedia bagi tangan. Begitulah sederhananya. Kertas bukan sesuatu yang tersedia seperti ideologi atau paradigma-paradigma tertentu yang tersedia dalam pikiran. Akan tetapi, kertas juga tidak seperti kayu, daun pisang yang tersedia di alam begitu saja, tapi kertas tersedia dalam arti oleh tangan dan untuk tangan.

Kayu ada begitu saja di alam. Ia merupakan sesuatu yang lain dari manusia. Tapi dari kayu menjadi kertas memuat makna eksistensial. Artinya, kita tidak dapat menyamakan sesuatu yang begitu saja tersedia di alam dan sesuatu yang tersedia di tangan, karena kertas bukan entitas yang terpisah dari manusia sebagai yang lain.

Sekalipun kertas merupakan sesuatu yang konkret dan sekilas sebagai yang lain, tapi ia secara esensial; bukan sekadar suatu benda, melainkan suatu cara berada. Jadi, esensi kertas, dalam hubungannya dengan eksistensi, bukanlah semata-mata materi dalam arti kebendaan, tapi adalah cara berada manusia itu sendiri.

Esensi kertas bukan suatu benda padat, bukan objek dari manusia seperti kayu, sekalipun secara bahasa adalah kata benda, dan memang suatu benda. Hanya saja, dalam kaitannya dengan eksistensi, ia lebih dekat dengan kata kerja. Artinya, secara esensial, kertas merupakan berada kita.

Kertas itu ada, tapi ia sendiri itu tidak eksis. Yang eksis kita. Jadi tanpa eksistensi kita, kertas tidak akan pernah ada. Karena kertas merupakan suatu cara berada.

Maka setiap kali memperbincangkan kertas, pada dasarnya juga membahas lingkungan kita. Oleh karena itu, memahami esensi kertas menjadi penting sekali ketika dihubungkan dengan lingkungan, karena kita tidak dapat memahami lingkungan yang bukan cara berada kita di dunia.

Kita membedakan hal itu hanya dalam pemahaman keseharian yang selalu mengandaikan yang lain dalam setiap kesadaran akan sesuatu. Jadi, berbincang tentang kertas dan lingkungan adalah satu hal yang sama yang berarti berbicara soal keberlangsungan cara berada kita saat ini dan kemungkinan cara berada kita di masa depan atau kemungkinan eksistensial kita.

Esensi kertas adalah eksistensi manusia. Kertas itu sendiri tidak eksis. Ia hanya ada. Hanya manusia yang eksis dan seturut eksistensi manusia itulah dunia kehidupan atau linkungan hidup terbentuk dan dimukimi sendiri. 

Karena kertas merupakan cara manusia hidup, maka adanya menentukan lingkungan yang dimukiminya sendiri. Dengan demikian, berbicara kertas bukanlah tentang sesuatu yang lain di sana, melainkan tentang eksitensi kita sendiri.